Kolom Bachtiar Adnan Kusuma
Tokoh Literasi dan Penulis Nasional
Jika di Barat ada Marco Polo, maka di Timur (Islam) ada Ibnu Batutah. Kedua tokoh ini dikenal penjelajah dunia, pada masanya sangat legendaris. Ibnu Batutah, misalnya adalah petualang Muslim yang hidup pada abad ke-14, ia pernah berkunjung di Sumatera dan Aceh. Tak banyak yang mengenal siapa sesungguhnya Ibnu Batutah? Ia adalah petualang Muslim yang mencatat perjalanan 120.700 kilometer dengan berkunjung ke 44 negara. Selain pengelana dunia, ia juga tercatat cendikiawan Muslim yang pandai menulis tentang kisah perjalanannya.
Muhammad Bin Batutah, demikian nama lengkapnya, acapkali disebut Ibnu Batutah, lahir di Tangier, Maroko pada 25 Februari 1304 M. Ibnu Batutah adalah keturunan langsung salah satu suku Berber yaitu suku Lawata. Tempat kelahiran Ibnu Batutah merupakan salah satu negara di Afrika Utara yang mayoritas penduduknya bermashab Maliki. Di usia mudanya, Ibnu Batutah sangat gemar belajar, terutama tentang ilmu agama. Ibnu Batutah bersekolah di sebuah madrasah Sunni yang juga bermashab Maliki.
Jika saja dibandingkan Marco Polo dan Ibnu Batutah, maka kalau Marco Polo menghabiskan waktunya sekira 24 tahun mengelilingi dunia sepanjang 24.000 kilomter, maka Ibnu Batutah berhasil menempuh perjalanan mencapai sekira 120.700 kilometer selama 30 tahun lamanya. Menariknya, karena dengan jarak sejauh memandang, Ibnu Batutah menempuh perjalanan tiga kali lipat keliling bumi khatulistiwa.
Nah, ada sebuah pepatah kuno menyatakan” perjalanan jauh sekalipun 1.000 mil dimulai dari langkah pertama”. Filosofi inilah yang kemudian diterapkan Ibnu Batutah memulai petualangannya sebagai pengelana muslim pada abad ke-14. Langkah pertamanya dimulai dengan menjelajahi dunia dengan ribuan kilometer yaitu pertamakali mengunjungi kota Makkah. Awalnya berniat menunaikan ibadah haji, tapi takdir membawanya melanjutkan petualangan ke negeri lain. Beberapa waktu kemudian, Ibnu Batutah kembali ke Makkah. Usianya masih belia yaitu 21 tahun 4 bulan.
Ibnu Batutah adalah orang pertama yang menginjakkan kakinya di Benua Amerika sebelum Columbus. Kendatipun dalam buku sejarah Barat mencatat bahwa Benua Amerika ditemukan Columbus dengan julukan” The New World”. Akan tetapi fakta menyatakan bahwa Columbus bukanlah orang pertama yang mengijakkan kakinya di benua Amerika. Salah satunya adalah pengelana Muslim Ibnu Batutah yang dipertegas Zaid A dalam tulisannya berjudul” Penjelajah Muslim lebih dulu Menemukan Amerika daripada Columbus” yang dimuat dalam islamedia.id, menyebutkan bahwa penjelajah muslim telah mengijakkan kakinya di benua Amerika sejak tahun 889 yaitu pada masa Dinasti Umayyah.
Sementara Columbus pertamakali menginjakkan kakinya di Amerika yaitu pada 1492. Artinya, bahwa muslim pertamakali memasuki Amerika adalah Ibnu Batutah. Kendati belum tentu bisa disebut Ibnu Batutah adalah penemu Benua Amerika.
Menariknya, karena dalam perjalanannya ke Asia Tenggara, Ibnu Batutah singgah di Nusantara, tepatnya di Sumatera bagian utara, sekarang termasuk dalam Provinsi Aceh yaitu Samudra Pasai. Tatkala Ibnu Batutah singgah di Samudra Pasai pada 1345 diterima Sultan Malik azh-Zhahir Jamaluddin. Ibnu Batutah menetap selama 15 hari, setelah menempuh perjalanan selama 40 hari dari kota Sunarkawan.
Selama di Samudra Pasai,, ia mempelajari banyak hal dari Sultan Malik. Ibnu Batutah menulis tentang Sultan Malik sebagai pemimpin Samudra Pasai yang disegani dan berwibawah.
Pada akhirnya, Ibnu Batutah seorang cendikiawan muslim asal Maroko yang berhasil mengelana dunia, kemudian mengamati budaya dan tradisi adat istiadat terutama negara-negara yang dikunjunginya. Banyak cerita apik dan catatan perjalanannya terutama tentang falsafah hidup, sejarah suatu negara.
Tak sekadar penjelajah, pengelana dunia, tapi ia juga seorang penulis yang berhasil menceritakan perjalanannya dengan indah dan mengesankan. Seorang penjelajah dunia yang berhasil menaklukkan 44 Negara.
Ibnu Batutah, tokoh legendaris, petualangan musafir Muslim yang menggema pada abad ke-14.