Daeng Heri, Dari Tukang Cuci Piring ke Pemilik Resto di New York

0
126
- Advertisement -

PINISI.co.id- Daeng Heri adalah potret hidup diaspora Sulawesi Selatan yang menaklukkan kerasnya panggung dunia dengan ketekunan, kerja keras, dan kesetiaan pada akar budaya. Pria asal Bugis, Wajo ini, kini menetap dan berkarya di New York; kota yang kerap disebut sebagai ibu kota dunia yang tidak pernah tidur.

Melalui resto miliknya, Indo Mix, Daeng Heri aktif memperkenalkan kuliner tradisional Indonesia kepada masyarakat internasional, khususnya warga Amerika, tentu juga pada diaspora Indonesia. Restoran yang berlokasi di kawasan Clinton Hill, Brooklyn, itu menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, tempat selera Nusantara bertemu dengan lidah global.

Indo Mix menyajikan beragam hidangan khas Indonesia, yang mengingatkan kampung halaman. Lebih dari sekadar usaha bisnis, restoran ini menjadi medium diplomasi budaya Indonesia di kota Big Apel itu, menghadirkan cerita, identitas, dan memori kolektif bangsa lewat makanan.

Daeng Heri (dua dari kanan) bercakap-cakap di salah satu kawasan New York bersama Egy Massadiah (kanan) dan Halim dari Palopo (kiri) dan Rani Ramli asal Sengkang..

Perjalanan Daeng Heri tentu tidak instan. Ia tiba di New York pada 1998, saat transisi Orba ke Reformasi, sebagai imigran dengan mimpi besar menaklukkan megapolitan paling kompetitif di dunia. Seperti banyak diaspora lainnya, ia memulai dari bawah. Ia pernah bekerja sebagai tukang cuci piring, sebelum perlahan menapaki dunia kuliner profesional.

Menariknya, sebelum mendirikan restoran Indonesia, Daeng Heri sempat menekuni dunia kuliner Jepang sebagai chef makanan Jepang. Dari dapur-dapur profesional itulah ia belajar tentang disiplin dan standar tinggi dalam pengolahan makanan. Nilai-nilai tersebut kini menjadi simpul dalam pengelolaan Indo Mix.

Daeng Heri bukan hanya pelaku kuliner, tetapi juga sosok multitalenta. Ia dikenal aktif mengelola Radio New York City, radio para perantau yang menjadi ruang ekspresi dan komunikasi diaspora Indonesia. Tembangnya lagu-lagu Indonesia. Selain itu, ia juga menjadi host podcast perantau, membagikan pengalaman hidup diaspora Indonesia di Amerika, mulai dari adaptasi budaya, dunia kerja, hingga pergulatan menjaga identitas keindonesiaan di negeri orang.

Daeng Hari saat dikukuhkan jadi pengurus KKSS New York.

Kiprah Daeng Heri kerap bersinggungan dengan tokoh-tokoh nasional dan komunitas diaspora. Jurnalis, penulis, sekaligus aktor teater Egy Massadiah mengisahkan bahwa setiap kali berkunjung ke New York, ia selalu menyempatkan diri bertemu Daeng Heri. Bahkan, pada masa Jusuf Kalla menjabat Wakil Presiden RI dan menghadiri Sidang Umum PBB, pertemuan dengan Daeng Heri menjadi momen penting dalam jejaring diaspora. Termasuk diaspora dari Sulawesi Selatan.

Jusuf Kalla juga sempat hadir dalam pelantikan KKSS New York, didampingi Egy Massadiah dan Ibnu Munzir, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KKSS. Dalam kesempatan lain, Egy diajak berkunjung ke rumah Daeng Heri di kawasan Queens, tempat ia hidup bersama istrinya yang berdarah Amerika–China serta dua anak mereka: sebuah potret keluarga lintas budaya yang harmonis.

Sosok Daeng Heri merepresentasikan tipikal saudagar Wajo, kelompok yang sejak ratusan tahun silam dikenal sebagai pedagang ulung di Nusantara dan Asia Tenggara. Semangat merantau, keberanian mengambil risiko, dan kecakapan berdagang tampak hidup kembali dalam perjalanan Daeng Heri di New York.

Daeng Heri membuktikan bahwa identitas lokal tidak pernah menjadi penghalang untuk bersaing secara global. Justru, akar budaya itulah yang menjadi kekuatan utama dalam menapaki dunia lebih luas. (Lif)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here