PINISI.co.id- Di era ketika kecepatan informasi dan kemajuan teknologi justru menyisakan ruang hampa dalam jiwa, kita sering terjebak dalam hiruk-pikuk yang melelahkan. Kita sibuk memastikan gawai tetap terhubung dengan jaringan, namun tanpa sadar membiarkan koneksi batin dengan Sang Pencipta merapuh. Melalui buku kumpulan esai ini, Ashar Tamanggong hadir bukan untuk menggurui, melainkan mengajak pembaca berhenti sejenak dan menyadari satu kebenaran fundamental bahwa langit tak pernah offline.
Buku ini merupakan refleksi mendalam atas kegelisahan manusia modern yang sering merasa kosong di tengah kelimpahan. Penulis mengajak kita menelusuri kembali hakikat kehidupan melalui pertanyaan-pertanyaan jujur, “Apakah kita benar-benar bahagia, atau sekadar sibuk memoles citra di mata orang lain?” Di dalamnya, ibadah tak lagi dipandang sebagai rutinitas mekanis. Salat dibedah sebagai dialog intim yang mengecilkan dunia, sementara haji diposisikan sebagai perjalanan menanggalkan topeng-topeng ego untuk berdiri setara di hadapan Tuhan.
Lebih dari sekadar ritual personal, buku ini meluaskan cakrawala spiritual ke ranah sosial. Dengan gaya bahasa yang tenang namun menggugah, buku ini berfungsi sebagai cermin. Ia mengajak kita menjadi “tamu” yang penuh kesadaran dalam perjalanan hidup, bukan sekadar “turis” yang sibuk berfoto tanpa makna.
Langit Tak Pernah Offline adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang sering kehilangan nurani, sinyal ketuhanan selalu tersedia bagi mereka yang mau kembali terhubung.
33 Judul tulisan karya Dr.H.Ashar Tamanggong, M.A. ditulis, diramu di atas alas sajadah taqwa. Tak sekadar diksi, tapi apa yang dibicarakan di atas mimbar masjid, diurai dan disampaikan kembali melalui tulisan di buku ini. Contoh da’i yang baik dan penulis.
Bachtiar Adnan Kusuma, Deklarator Penulis Profesional Indonesia Pusat, Penggerak Nasional Gerakan Satu Masjid Satu Perpustakaan IKA BKPRMI-Perpustakaan Nasional.














