Oleh Aslamuddin Lasawedy
Tambang itu disebut “kemajuan”.
Tapi bagi mereka, kemajuan adalah suara ledakan yang menggetarkan dinding tipis rumah reot mereka
Di tepi lubang raksasa itu
anak-anak bermain layang-layang
dengan tali yang terbuat dari sisa plastik karung semen.
Langit berdebu, dan matahari menggantung seperti lampu proyek yang tak pernah benar-benar padam.
Kaum miskin kota itu
tinggal di lingkar tambang
Lingkar yang sempurna secara geometri,
namun retak dalam keadilan.
Mereka bukan pusat,
hanya orbit yang tak diakui,
berputar mengelilingi janji
yang tak pernah mendarat.
Di lingkar tambang,
akal lebih sering menjadi alat ukur
untuk menghitung tonase,
bukan untuk menimbang martabat.
Bumi diperlakukan seperti komoditas,
manusia seperti variabel biaya.
Dan angka-angka berdiri lebih tinggi
dari tiang listrik yang tak pernah cukup terang.
Kaum miskin kota di lingkar tambang
tidak menolak kemajuan.
Mereka hanya ingin diingat
bahwa sebelum ada kontrak,
ada tanah yang diinjak,
ada udara yang dihirup,
ada kehidupan yang tidak tercatat
dalam neraca keuntungan.
Mereka berdiri
di antara dua dunia
Yang satu menjanjikan masa depan
dengan grafik naik ke kanan,
Sisi yang lain menagih masa kini
dengan paru-paru yang sesak.
Lingkar itu terus berputar.
Tambang menggali lebih dalam.
Dan mereka,
kaum miskin kota berada di pinggir lubang,
menggali makna dalam diri sendiri
bahwa barangkali
yang paling mahal dari bumi
bukan emas, bukan nikel,
melainkan hak sederhana
untuk hidup layak sebagai manusia













