Bupati Bone Dukung Rencana Investasi Jepang di Bidang Budidaya Perikanan dan Pelestarian Mangrove

0
56
- Advertisement -

PINISI.co.id- Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos, MM menyambut baik rencana investor asal Jepang di bawah bendera YL Forest Co. Ltd untuk menanamkan modalnya di bidang budidaya perikanan dan pelestarian mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Hal itu disampaikan Andi Asman Sulaiman saat menerima audiensi Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer (EO) YL Forest Co. Ltd, Naoto Akune, didampingi Kaori Kawazoe dan Keiji Sato di rumah jabatan Bupati Bone di Watampone, Minggu (15/2/2026).

“Atas nama pribadi dan pemerintah daerah, kami mendukung investasi ini. Apalagi investasi di bidang lingkungan ini merupakan bagian dari program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.

Untuk membuktikan komitmennya mendukung investasi tersebut, adik kandung Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman ini, langsung menginstruksikan jajarannya untuk menginventarisir kawasan hutan mangrove di wilayah pesisir yang membutuhkan rehabilitasi.

“Investasi ini sangat bagus karena melibatkan masyarakat lokal sebagai pemilik dan pengelola. Secara ekonomi, masyarakat sebagai pemilik tambak menghasilkan udang, ikan dan kepiting. Bonusnya, mendapatkan tambahan penghasilan dari penjualan bibit mangrove dan upah penanaman,” katanya.

Sementara itu, Presiden Direktur YL Forest Co. Ltd, Naoto Akune mengatakan, untuk tahap awal perusahaannya akan melakukan ujicoba penanaman mangrove di atas tambak seluas 220 hektare di beberapa daerah di kawasan pesisir Kabupaten Bone.

“Kami targetkan ujicoba ini tuntas dalam tiga tahun. Kalau proyek ini diterima baik oleh masyarakat dan didukung oleh pemerintah, kita lanjutkan hingga ribuan hektare,” katanya.

Naoto Akune menambahkan, konsep investasi yang ditawarkannya merupakan konsep budidaya perikanan berbasis silvofishery, yakni sebuah metode ramah lingkungan yang mengintegrasikan pelestarian mangrove dengan kegiatan perikanan produktif.

“Kawasan mangrove ini potensial dikembangkan menjadi model budidaya berkelanjutan yang mampu menjaga ekosistem sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dengan sistem silvofishery,” ujarnya.

Akune menambahkan, konsep silvofishery yang dimaksud mirip dengan konsep mina padi dalam dunia pertanian. Konsep ini telah terbukti efektif di berbagai negara, termasuk Jepang dan beberapa wilayah di Asia Tenggara.

Sistem ini menggabungkan tambak budidaya perikanan dengan keberadaan hutan mangrove sebagai bagian utama ekosistem.

Dalam konsep yang ditawarkan Akune, sekitar 60 hingga 80 persen area tetap dipertahankan sebagai hutan mangrove, sementara 20 hingga 40 persen lainnya dimanfaatkan sebagai parit atau kolam untuk budidaya ikan, udang, maupun kepiting.

Menurut Akune, mangrove berperan sebagai biofilter alami yang mampu menjaga kualitas air, menyediakan pakan alami, serta melindungi kawasan dari abrasi dan kerusakan lingkungan.

“Mangrove ini sangat penting karena berfungsi sebagai penyaring alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan nutrisi bagi biota. Dengan sistem ini, kebutuhan pakan tambahan dan obat-obatan bisa ditekan, sehingga budidaya menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tambahnya. (Man)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here