Kultum (Kuliah Terserah Antum)
Hikmah Ashar Tamanggong
Ketua Baznas Kota Makassar
Zakat: Bukan Mengurangi Harta, Tapi Mengurangi Kesombongan
Ada ketakutan yang sering aneh tapi nyata: orang kaya takut miskin. Saldo aman, aset di mana-mana, tapi begitu dengar kata zakat, jantung langsung deg-degan. Tangannya refleks pegang dompet, pikirannya mendadak matematis. Padahal, yang diminta cuma 2,5 persen. Sisanya? Silakan dinikmati. Masalahnya bukan di angka. Masalahnya di rasa memiliki.
Islam sejak awal sudah jujur soal ini. Harta itu bukan musuh iman. Yang berbahaya adalah saat harta naik ke kepala, bukan turun ke tangan. Ketika kita mulai merasa, “Ini murni kerja keras saya,” “Ini hasil keringat saya,” di situlah zakat datang—bukan sebagai ancaman, tapi peringatan penuh cinta.
Allah berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Perhatikan ki baik-baik.
Ayat ini tidak mengatakan membersihkan harta. Yang dibersihkan justru orangnya.
Ini menarik. Artinya, zakat bukan soal dompet, tapi soal mental dan hati. Yang kotor bukan uangnya, tapi rasa sombong yang menempel di pemiliknya. Zakat itu seperti sabun. Yang menolak mandi bukan karena airnya mahal, tapi karena merasa sudah bersih.
Makanya, orang yang paling berat berzakat sering bukan yang paling miskin, tapi yang paling merasa punya. Merasa aman dengan angka. Merasa hebat dengan aset. Merasa kuat karena saldo. Sampai lupa, satu sakit saja bisa membuat semua itu tak ada artinya.
Zakat itu bukan perampokan dari langit. Ia justru penyelamatan darurat. Menyelamatkan orang kaya dari penyakit paling halus dan paling mematikan dalam beragama: kesombongan yang tidak disadari.
Banyak orang takut hartanya berkurang karena zakat, tapi tidak takut hartanya habis karena gaya hidup. Diskon dikejar, gengsi dipelihara. Nongkrong jalan terus. Padahal zakat cuma 2,5 persen. Sisanya kita habiskan sendiri tanpa perlu istikharah.
Ada juga yang rajin shalat, puasanya full, tahajudnya rajin, tapi urusan zakat selalu “nanti”. Seperti rajin sikat gigi tapi alergi odol. Kelihatannya bersih, tapi baunya tetap ada.
Zakat itu ibadah yang paling jujur mengukur iman sosial. Orang bisa menangis saat doa, tapi belum tentu rela berbagi. Bisa khusyuk di sajadah, tapi gelisah saat melihat laporan zakat. Di sinilah iman diuji: iman di lisan atau iman di tindakan.
Ayat tadi menegaskan satu hal penting: zakat itu menyucikan.
Menyucikan dari apa?
Dari merasa paling berjasa. Dari merasa paling bekerja keras. Dari merasa paling berhak. Karena sejatinya, harta tidak pernah benar-benar milik kita. Kita cuma penjaga sementara. Dan penjaga yang baik tahu kapan harus menyerahkan titipan.
Menariknya, orang yang rutin berzakat biasanya hidupnya lebih tenang. Bukan karena uangnya makin banyak, tapi karena hatinya makin ringan. Tidak ada hak orang lain yang ditahan. Tidak ada doa orang miskin yang tertahan di langit karena kelalaian kita.
Sebaliknya, orang yang menunda zakat sering hidup dalam kegelisahan yang aneh. Hartanya ada, tapi damai tidak. Karena harta yang tidak dibersihkan akan selalu menuntut, meski tanpa suara.
Zakat bukan soal ikhlas atau tidak ikhlas. Itu urusan lanjutan. Zakat itu soal taat atau tidak taat. Ikhlas itu bonus. Yang utama, jangan melawan perintah Allah dengan logika dompet.
Kalau zakat terasa berat, mungkin bukan hartanya yang besar, tapi ego kita yang kebesaran. Dan di situlah fungsi zakat bekerja: mengikis kesombongan, menurunkan kita ke bumi, dan mengangkat orang lain agar bisa berdiri.
Karena pada akhirnya, harta yang benar-benar kita miliki hanyalah yang sudah kita keluarkan di jalan Allah.
Sisanya?
Cuma numpang lewat—dan akan ditinggal tanpa pamit.
Wallahu A’lam
1 Ramadhan 1447 H














