Satu Bunda, Seribu Harapan

0
1407
- Advertisement -

 

Oleh Dharma Rola
Aktivis Organisasi Perempuan, tinggal di Samarinda

Balikpapan, Minggu, 1 Maret 2026. Siang itu, ratusan yatim piatu melangkah riang memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Bersama mereka, nampak seorang Bunda berjalan pelan, menemani mencari pakaian-sandal-sepatu, sembari berbincang ringan. Dari mall itu, mereka merasakan terbitnya perasaan dicintai dan dihargai: tanda bahwa jalan menuju masa depan masih terbuka lebar.

Siang itu, satu bunda hadir, dan dari ketulusannya tumbuh seribu harapan. Bunda dimaksud adalah Hj Syarifah Suraida, istri Gubernur Kalimantan Timur yang juga Anggota Komisi VI DPR RI. Ia hadir bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai seorang ibu. Setidaknya, begitulah gambaran video pendek yang melintas di beranda instagram saya.

Sebuah video pendek yang bukan hanya menarik perhatian, tapi juga membentur layar kesadaran saya. Momen kebersamaan dan kepedulian yang begitu bermakna. Ia seakan-akan menjadi pengingat bahwa kebaikan masih tumbuh dan menyapa kita dengan cara yang sederhana namun sungguh menggetarkan.

Ambil yang Bagus”

Dalam tayangan itu, terlihat momen ketika dua anak laki-laki berdiri terpaku. Seorang dari mereka berinisiatif menyampaikan ke Bunda, bahwa temannya takut mengambil sepatu yang ia suka. Bukan karena tak suka modelnya, melainkan karena takut harganya kemahalan.

Mungkin juga karena dalam hidupnya, ia sudah terlalu sering belajar menahan diri. Terlalu cepat mengerti tentang batas dan beban. Terlalu dini memahami bahwa keinginan harus disesuaikan dengan keadaan. Namun hari itu berbeda.

“Gak apa, ambil yang paling bagus,” kata Bunda Suraida, lembut namun tegas, dengan senyumnya yang khas, mematahkan segala keraguan.

Kalimat sederhana itu, sejatinya bukan hanya izin untuk membeli sepatu. Itu adalah izin untuk merasa berharga. Izin untuk percaya bahwa dirinya pantas mendapatkan yang terbaik. Di tengah dunia yang mungkin kerap mengajarkan mereka tentang kehilangan, hari itu mereka belajar tentang kelapangan.

Pada bagian lain, dua anak perempuan terlihat saling berbisik di depan sebuah etalase. Rupanya mereka mencari pakaian yang serasi: baju couple. Ada sesuatu yang begitu manusiawi dalam keinginan itu. Keinginan untuk tampil bersama, untuk merasa kompak, untuk memiliki cerita kecil yang bisa mereka kenang ketika bercermin di pagi hari saat lebaran nanti.

Mungkin, bagi kita, memilih pakaian couple adalah hal biasa. Namun bagi anak-anak yang belum tentu setahun sekali bisa datang ke mall, kesempatan untuk bebas memilih adalah kemewahan tersendiri. Kemewahan untuk berkata, “Aku suka yang ini,” tanpa takut dimarahi.

Nilai belanja ratusan anak itu mungkin tidak kecil. Bagi Bunda Suraida, jumlah itu tentu bukan suatu persoalan. Sebab yang jauh lebih penting adalah nilai kemanusiaannya: perhatian tulus dan waktu yang diluangkan.

Hati yang Tersentuh

Bagi mereka yang mengenal sosok Bunda Suraida, pemandangan seperti itu tentulah bukan hal baru. Ia telah melakukannya jauh sebelum menjadi Ketua TP PKK Kaltim dan Anggota DPR RI. Dengan kata lain, ini bukanlah sekadar peran struktural. Ini adalah panggilan hati, dan terbit dari kesadaran bahwa berbagi adalah bagian dari tanggung jawab moral.

Apalagi, anak yatim piatu tak jarang dipandang melalui kacamata belas kasihan. Namun hari itu, mereka tidak diposisikan sebagai objek kasihan, melainkan sebagai anak-anak yang berhak bergembira. Mereka memilih sendiri baju mereka, mencoba sepatu, atau pun berdiskusi tentang warna dan ukuran layaknya anak-anak lain seusia mereka.

Ketika seorang anak yang tadinya ragu akhirnya membawa sepatu pilihannya ke kasir, mungkin yang dibawanya pulang bukan hanya barang dalam kantong belanja, tetapi juga perasaan diterima. Ketika dua anak perempuan itu menemukan baju couple yang mereka impikan: mereka bergembira, tapi juga saling menguatkan.

Dan di tengah semua itu, seorang Bunda berjalan sambil sesekali membungkuk, mendengarkan cerita, mengusap kepala, dan memastikan setiap anak merasa diperhatikan. Hemat saya, dalam keibuan yang sederhana itulah terletak keistimewaannya.

Kita memang hidup di zaman ketika angka dan jabatan sering lebih menonjol daripada empati. Namun kisah di mall siang itu mengingatkan bahwa yang paling membekas justru adalah sentuhan kemanusiaan. Bahwa satu kalimat “ambil yang paling bagus” bisa menjadi pelajaran tentang harga diri. Bahwa menemani berbelanja bisa menjadi cara memulihkan rasa percaya diri anak-anak yang telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya.

Pada akhirnya, bagi Bunda Syarifah Suraida, nilai belanja itu bukanlah hal besar. Tetapi bagi ratusan yatim piatu, perhatian yang tulus dan waktu yang diberikan adalah harta yang tak ternilai. Dan di sanalah makna berbagi menemukan kesejatian wujudnya: bukan pada seberapa banyak yang diberikan, tetapi pada seberapa dalam hati yang disentuh.

Dan dari sebuah dunia dengan dimensi berbeda, para orang tua anak-anak yatim piatu itu sesungguhnya ikut menyaksikan sembari tersenyum bahagia dalam kedamaian dan keabadian rasa syukur. Wallahu a’lam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here