Kolom Benny Nurdin Yusuf
Sebagai makhluk sosial, kehidupan manusia selalu diwarnai dengan pergaulan. Kehidupan serasa hambar tanpa adanya interaksi satu dengan yang lain. Pergaulan lahir bukan hanya sekadar kebutuhan fungsional, melainkan simbol status sosial. Di sana, aktivitas “nongkrong” bukan lagi sekadar kongko-kongko biasa, melainkan ajang aktualisasi diri dan eksistensi dalam strata sosial masyarakat.
Memori Era 90-an: Dominasi Alkohol dalam Pergaulan
Nonkrong serasa hambar tanpa hadirnya segelas air dengan aroma alkohol. Ingat syair lagu “Tuangkan air kedamaian” yach memang kalau kita menengok ke belakang, di era tahun 90-an, tren pergaulan anak muda sangat identik dengan budaya alkohol. Hampir di setiap sudut kota, dengan mudah kita jumpai tempat-tempat yang membuat muda-mudi larut dalam suasana bar atau kios remang-remang, pokoknya tongkrongan yang asyik adalah tempat-tempat yang mampu memberi kedamaian, kesenangan sesaat. Ruang tersebut menawarkan kebebasan dan relaksasi yang semu, di mana komunikasi sering kali hanya terjadi di bawah pengaruh intoksikasi. Alkohol saat itu menjadi “katalisator” utama dalam bersosialisasi, meski harus dibayar dengan hilangnya kesadaran dan biaya yang tidak sedikit, serta ancaman keselamatan jiwa.
Revolusi Digital dan Kebangkitan “Ruang Ketiga”
Namun, roda zaman berputar. Perkembangan Teknologi Informasi mengubah cara manusia berinteraksi. Di era sekarang, hampir semua ruang sosial terasa tidak lengkap tanpa pendekatan Internet of Things (IoT). Kebutuhan akan konektivitas internet yang handal merangsang tumbuhnya “ruang ketiga” tempat di mana orang bisa bekerja, berdiskusi, dan berkreasi, bahkan menjadi tempat belajar yang nyaman oleh sebagian kalangan pelajar dan mahasiswa.
Saat ini _coffee shop_ telah menjadi “ruang ketiga” untuk semua kalangan. Berbeda dengan bar yang gelap dan bising, coffee shop hadir dengan pencahayaan maksimal, suasana yang hangat, dan aroma kopi dari belahan nusantara yang autentik mampu menghadirkan suasana kedamaian dan kenyamanan yang haki.
Indonesia Terkenal salah satu Penghasil Kopi Terbaik di dunia
Indonesia terkenal penghasil kopi terbaik dengan jenis kopi arabica, robusta dan liberica (tumbuh di lahan gambut, adanya di Kalimantan dan Jambi), mulai dari Toraja yang legendaris, Mandailing, hingga Gayo dan masih banyak lagi. Data dari _International Coffee Organization (ICO)_ menunjukkan bahwa konsumsi kopi domestik di Indonesia melonjak lebih dari 250% dalam satu dekade terakhir. Fenomena ini bukan kebetulan, ini adalah bentuk migrasi massal selera masyarakat yang menjadikan kopi sebagai inspirasi dan momentum _coffee shop_ menemukan jati dirinya.
membaca fenomena ini , muncul pertanyaan; Mengapa Aroma Kopi Lebih Kuat dari Alkohol? Pergeseran ini bukan sekadar perpindahan jenis minuman, melainkan perubahan nilai dasar. Menurut penulis ada beberapa faktor yang membuat kopi kini jauh lebih unggul dibandingkan alkohol di mata publik, antara lain:
1. Faktor Fungsionalitas vs Eskapisme__: Jika alkohol adalah bentuk pelarian yang membius menghadirkan ilusi, kopi adalah pendukung produktivitas. Kopi merangsang pikiran jernih dan melahirkan ide-ide kreatif dalam alam sadar sepenuhnya.
_2. Faktor ekonomi dan efisien ;_ Nongkrong di _coffee shop_ jauh lebih ramah di kantong dibandingkan menghabiskan malam di bar. Bagi Gen Z, nilai uang (_value for money_) adalah pertimbangan utama._
3. Faktor keamanan social ; Coffee shop _memberikan rasa aman. Tidak ada ancaman keributan akibat mabuk atau dampak kesehatan jangka panjang yang merusak seperti kecanduan alkohol. Walaupun ada kalangan yang menganggap kopi juga punya potensi bagi kesehatan ( _depatable_), yang jelas aroma kopi jauh lebih aman ketimbang aroma alkohol.
*Coffe shop budaya “_lifestyle_”*
Momentum _coffee shop _yang ___mampu mengeser budaya berbagai kalangan khususnya GenZ dari “no asyik tanpa Alkohol “‘ menjadi “no asyik tanpa hangatnya aroma kopi , menjadi fenomena yang perlu diteliti . Salah satu yang menarik bahwa data independen mencatat tahun 2023 gerai kopi di Indonesia tembus +_ 3000, kalau dibandingkan tahun 2016 meningkat tiga kali lipat. Dan yang lebih dahsyat lagi , 70%_ Gen Z kini lebih memilih tongkrongan yang terang, asri, memiliki Wi-Fi dengannya sentuhan aroma Kopi ketimbang tempat hiburan malam. _Coffe shop_ sudah menjadi _lifestyle_ , ini sebuah peluang positif bagi bangsa ini , guna menyelamatkan generasi muda dari ancaman aroma alkohol yang tak dapat dipisahkan dengan narkoba.
*Dukungan Pemerintah; Sentuhan Perbankan Ciptakan Pengusaha Milenial*
Pergeseran ini bukan hanya sekedar budaya “_Memori Era 90-an_: dominasi alkohol dalam pergaulan” tapi lebih pada Nilai (_value_). Momentum ini harus dijaga dan dikawal. Negara harus hadir dan mampu mendorong milliniel kita untuk terus berkreasi menjadikan potensi kopi Indonesia sebagai market dalam dan luar negeri. Kalau saat ini _brand coffee shop_ luar sempat bertengger di papan atas, saatnya produk millenial anak bangsa mampu hadir menjadi tamu si negeri sendiri dan di negara luar. Tidak dipungkiri bahwa besarnya animo pengusaha millenial yang menjadikan __coffee shop_ sebagai peluang bisnis yang menjanjikan ditambah kuatnya animo masyarakat, maka sudah selayaknya pemerintah hadir dengan memberikan ruang jaminan keamanan dan keselamatan berusaha, jaminan kemudahan perolehan modal , seperti yang dijanjikan oleh Bapak Purabaya. (Menkeu) Perbankan harus lebih agresif mendorong kalangan millenial untuk menjemput momentum Ini dengan memberi modal usaha dan syarat yang mudah dengan tingkat suku bunga yang bersahabat, sepeti aroma kopi yang menawarkan persahabatan, kehangatan dari secangkir kopi pahit tapi tak sepahit menggusur budaya nonkrong dengan secangkir wine (alkohol) dengan menjadikan budaya nonkrong dengan secangkir kopi “_lifestyle_”.
Makassar Salah Satu Transformasi Budaya Kopi
Jika kita melirik kota Makassar, transformasi ini terasa sangat nyata. Kota yang dulu dikenal dengan budaya nongkrong di “Warkop” konvensional, kini telah bertransformasi menjadi surga _specialty coffee_. Pertumbuhan kedai kopi di Makassar tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, tetapi menyebar hingga ke pemukiman, bahkan sampai ke kabupaten di Sulawesi Selatan.
Makassar telah membuktikan bahwa kopi mampu menyatukan berbagai kelas sosial. Di kota ini, kopi telah menggeser aroma alkohol dengan cara yang Kembali ke Alam Sadar.
Momentum _coffee shop_ telah berhasil memposisikan diri sebagai ruang yang netral dan aman. Ia mendukung gaya hidup modern yang sibuk namun tetap ingin bersosialisasi secara sehat. Pergeseran ini menunjukkan tingkat kematangan budaya kita. Masyarakat mulai meninggalkan hiburan yang membius dan beralih ke hiburan yang fungsional serta terkoneksi secara sadar.
Aroma kopi tidak hanya menghangatkan suasana, ia adalah simbol kebangkitan nalar jernih di tengah hiruk-pikuk dunia modern.












