Kolom Fiam Mustamin
Apa yang diingat?
Saya mengenal dekat sosok Zainal Bintang sejak tahun 1970 di Makassar. Kedekatan itu bermula ketika kami sama-sama berada di Dewan Kesenian Makassar, saat beliau aktif bermain teater dalam pementasan Perang dan Pahlawan serta film Sanrego.
Di masa itu, Zainal Bintang juga aktif menulis sebagai wartawan, khususnya di SKM Bawakaraeng yang dipimpin Ramiz Parenrengi. Tulisan-tulisannya terkenal kritis terhadap kebijakan para pejabat yang dianggap merugikan kepentingan rakyat.
Karena sikap kritisnya, beliau kerap menjadi sasaran buruan aparat keamanan. Ia tidak hidup sebebas wartawan lain yang memilih tidak menyentuh wilayah kontrol sosial.
Pertengahan 1970-an Bersama di Jakarta
Pada pertengahan tahun 1970-an kami kembali bersama di Jakarta. Saat itu beliau tinggal di Wisma Seni, Taman Ismail Marzuki.
Di Jakarta, Zainal Bintang menjadi kontributor pengamat kebudayaan dan penulis resensi film. Dari aktivitas itu, ia memiliki jaringan komunitas yang luas di kalangan intelektual dan budayawan ibu kota. Saya pun ikut mengenal lingkungan pergaulan intelektual tersebut melalui dirinya.
Tulisan-tulisannya yang telah dipublikasikan di berbagai surat kabar menjadi tugas saya untuk didokumentasikan dan dibuatkan kliping. Saya harus membacanya berulang kali, sebab beliau kerap bertanya tentang isi tulisan yang saya baca, minimal dua poin penting.
Belakangan saya menyadari bahwa itu adalah latihan untuk menelaah dan memahami bacaan secara mendalam.
Tugas berikutnya adalah datang ke kantor redaksi mengambil honorarium tulisan dengan membawa wesel pos setiap akhir bulan.
Tak lama kemudian beliau menjadi wartawan tetap di SKH Angkatan Bersenjata sebagai redaktur kebudayaan. Selanjutnya ia mendirikan media sendiri dan menjadi Pemimpin Redaksi SKM Barata.
Di koran yang dipimpinnya itu, Zainal Bintang memiliki otoritas penuh atas pikiran dan arah editorial medianya.
Masa itu adalah era penerbitan pers yang represif dan sangat dikontrol oleh Kementerian Penerangan. Medianya berkali-kali mendapat peringatan keras dari penguasa hingga berakhirnya rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.
Penyaksian Hidup
Saya bersyukur memperoleh pengalaman dan pengetahuan karena berada dekat dengan sosok yang memiliki integritas dan keyakinan hidup yang dipegang teguh hingga akhir. Dalam falsafah Bugis disebut Toddopuli Temmalara — setia pada keyakinan dan prinsip perjuangan sampai akhir hayat.
Dari perenungan dalam kesunyian itu, saya teringat budaya Bugis: Majjallo, yakni berjuang habis-habisan sebelum jasad berpisah dengan ruh, terus melakukan perlawanan demi menjaga kehormatan.
Spirit yang sama dalam budaya Makassar dikenal dengan istilah Tau Parrang Ngerang Leko — keberanian menahan luka dan penderitaan hingga titik napas terakhir.
Analogi itu mengingatkan pada perlawanan rakyat Makassar menghadapi VOC Belanda yang kemudian melahirkan julukan terkenal: De Hantjes van het Oosten — Ayam Jantan dari Timur.
Kesepian di Tengah Keramaian
Kini kesepian itu terasa semakin mencekam di tengah hiruk-pikuk kota dan dinamika kekuasaan politik yang saling memperdaya dalam kesalahpahaman.
Entah kekuasaan politik yang berdaulat itu sesungguhnya untuk siapa.
Sulit menemukan lagi komunitas kritis yang mampu menertawakan getirnya kehidupan dengan kelakar dan keberanian berpikir.
Sebagian besar lelaki — Pallaki — dari tanah Bugis-Makassar itu telah lebih dahulu berpulang.
Kini tersisa Zainal Bintang dan Aspar Paturusi yang sesekali masih mengaum lewat tulisan esai dan syair-syair mereka.
Semoga keduanya senantiasa diberi kesehatan dan umur panjang. Aamiin.














