Aktivis Luwu Ambil Sampel Air Sungai Suso, Soroti Dugaan Dampak Aktivitas Tambang Emas

0
85
- Advertisement -

PINISI.co.id– Kekeruhan air di Sungai Suso, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, yang bermuara hingga ke pesisir Cimpu, kembali menjadi perhatian masyarakat dan aktivis lingkungan.

Menyikapi kondisi tersebut, aktivis Luwu, Boy Hasid, melakukan pengambilan sampel air di sejumlah titik aliran sungai untuk diuji di laboratorium terakreditasi.
Pengambilan sampel dilakukan mulai dari kawasan pegunungan yang airnya masih terlihat jernih hingga ke wilayah hilir dan pesisir yang mengalami kekeruhan.

Langkah ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat kandungan zat berbahaya yang dapat mengancam kesehatan manusia maupun keberlangsungan ekosistem sungai dan laut.

Menurut Boy Hasid, pengujian laboratorium diperlukan agar masyarakat memperoleh gambaran yang objektif mengenai kondisi air yang selama beberapa tahun terakhir dikeluhkan warga di kawasan pesisir.

“Pengambilan sampel ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi dan upaya mendapatkan data ilmiah terkait kondisi air sungai. Kami ingin memastikan apakah ada zat-zat yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat maupun biota sungai dan laut,” ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh salah seorang kepala dusun di Desa Cimpu, Kecamatan Suli. Ia mengaku kondisi air di muara dan pesisir telah mengalami kekeruhan selama beberapa tahun terakhir.

“Sudah beberapa tahun di muara dan pesisir keruh, Pak. Sejak ada aktivitas di pegunungan. Air keruh meski bukan musim penghujan. Akibatnya ikan dan udang di pesisir tidak kami temukan lagi,” ungkapnya.

Menyikapi kondisi tersebut, Boy Hasid bersama sejumlah aktivis berencana menggelar aksi orasi di depan kantor PT Masmindo Dwi Area di Belopa, Kabupaten Luwu. Aksi tersebut direncanakan berlangsung pada Rabu, 24 Juni 2026, apabila tidak ada perubahan jadwal.

Menurut mereka, perusahaan perlu memberikan perhatian serius terhadap berbagai potensi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan, khususnya kegiatan blasting atau peledakan batuan di kawasan pegunungan.

Para aktivis menilai dampak kegiatan blasting tidak boleh dipandang secara sederhana. Selain kemungkinan terbawanya sedimen hasil pecahan batuan ke aliran sungai melalui air hujan, mereka juga menyoroti potensi masuknya residu dari bahan peledak ke lingkungan sekitar.
“Kita tidak boleh terlalu sederhana melihat dampak kegiatan blasting terhadap lingkungan. Mulai dari zat yang berasal dari bahan peledak hingga sedimen pecahan batu hasil blasting bisa saja terbawa arus hujan dan masuk ke aliran sungai. Ini perlu dicermati secara serius,” kata Boy Hasid.

Ia menjelaskan bahwa lokasi kegiatan blasting berada pada kawasan yang lebih tinggi dari aliran sungai dan berada di atas lahan yang memiliki kemiringan cukup curam. Kondisi geografis tersebut dinilai memungkinkan material hasil peledakan terbawa limpasan air hujan menuju badan sungai.

Selain itu, para aktivis juga mengingatkan kemungkinan munculnya dampak lingkungan lain, termasuk potensi terbentuknya Air Asam Tambang (AAT) yang dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas air dan keseimbangan ekosistem di sekitar wilayah pertambangan.

Melalui aksi yang akan digelar, mereka berharap perusahaan, pemerintah daerah, dan pihak terkait dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap kondisi lingkungan di sepanjang aliran Sungai Suso hingga kawasan pesisir Cimpu, serta memastikan seluruh aktivitas pertambangan berjalan sesuai kaidah perlindungan lingkungan hidup. (Man)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here