We Ida Rafiqah: Terinspirasi The Last Trapper, Sompe Lintas Benua ke Kanada

0
37
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

Mengapa Perlu Sompe, Apa yang Diimpikan?

SOMPE, bagi seseorang, adalah pencarian dalam nawanawa—cita-cita yang telah diproses dalam batin tentang sesuatu kehidupan yang ingin diraih, kemudian diwujudkan atau mappanessa menjadi kenyataan.

Bagaimana seseorang memproses cita-cita itu hingga menjadi kenyataan? Jawabannya dapat ditemukan dalam perjalanan hidup We Ida Rafiqah, seorang perempuan asal Soppeng yang membawa langkahnya melintasi benua hingga berlabuh di Kanada.

Nama Ida Rafiqah saya kenal sebagai perwakilan Paguyuban Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di negeri federal Kanada.

Perwakilan KKSS di sebuah kota di luar negeri memiliki kedudukan penting sebagai penghubung masyarakat Sulawesi Selatan di tanah rantau. Ketua perwakilan menjadi representasi komunitas yang menjalankan fungsi diplomasi sosial dan kebudayaan.

Ida lahir dan menempuh pendidikan SD, SMP, hingga SMA di Watansoppeng, sebuah kota di perbukitan yang sejuk.

Bukit-bukit kota itu dipenuhi burung kelelawar atau kalong yang mengeluarkan suara sepanjang hari. Ketika malam tiba, kawanan kalong itu terbang mencari makanan ke pegunungan di sekitarnya.

Suara dan gerakan ribuan kalong yang bergelantungan di pepohonan itu seakan menjadi simfoni alam yang menyambut siapa saja yang datang ke kota tersebut.

Di kota ini pula berdiri Istana Salassae, tempat berdiamnya Raja atau Datuk Soppeng, yang dalam tradisi leluhur dipercaya sebagai titisan Tomanurung, utusan dari langit.

Soppeng memiliki tradisi pemerintahan yang menarik. Sejak masa kerajaan, terdapat pembagian peran antara kekuasaan eksekutif dan legislatif. Pada masa pemerintahan Datuk We Takke Wanua, misalnya, putra sulungnya menjabat Arung Bila, sedangkan putra bungsunya menjadi Datuk Soppeng ke-5 pada abad ke-XIV.

Arung Bila merupakan representasi kekuasaan eksekutif atau perdana menteri, sementara Raja atau Datuk memiliki otoritas tertinggi dalam pemerintahan.

Dari Bukit ke Lintas Benua

BAGAIMANA mewujudkan sebuah impian?

Jawabannya dapat ditafsirkan melalui nawanawa—mappatepu, memantapkan sesuatu terlebih dahulu dalam pikiran dan batin sebelum diwujudkan menjadi tindakan.

Perjalanan Ida dimulai dari Watansoppeng. Selepas SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Makassar dan mengambil studi Farmasi di Universitas Hasanuddin.

Pendidikan kemudian membawanya lebih jauh. Ida melanjutkan studi Master of Public Health di Auckland University, Selandia Baru.

Karier profesionalnya berkembang di Jakarta. Ia pernah bekerja di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Bank Dunia. Ida juga aktif dalam berbagai program kesehatan dunia ketiga yang membawanya berkiprah di sejumlah negara, antara lain Bangladesh, Haiti, dan Indonesia.

Pengalaman akademik dan profesional tersebut menjadi bekal penting ketika langkah sompe-nya kembali membawanya menyeberangi samudra, menuju sebuah negeri yang sangat jauh dari tanah leluhurnya.

The Last Trapper, Jembatan Menemukan Impian

The Last Trapper, film dokumenter Prancis, menjadi salah satu inspirasi dalam perjalanan sompe Ida Rafiqah.

Saya pun perlu menyimak film dokumenter tersebut. Film itu menggambarkan kehidupan sepasang suami istri yang tinggal di kawasan pegunungan bersalju dengan kondisi alam yang ekstrem. Mereka menjalani kehidupan bersama anjing, kuda, dan sampan sebagai sarana transportasi di arus sungai.

Alam pegunungan pada musim salju tampak fantastis sekaligus keras. Kehidupan dibangun melalui kemampuan berburu dan menangkap ikan di sungai-sungai berarus deras.

Di balik kerasnya alam, negeri itu dikenal memiliki lingkungan yang bersih serta kehidupan masyarakat yang tertib dan teratur.

Pilihan kehidupan seperti itulah yang kemudian membuat Pasompe Ida menambatkan jangkar dan berlabuh di negeri rantau, bersama suaminya, Aus Karni, serta putra-putrinya.

Di Kanada, Ida kembali meniti karier profesional. Selama sekitar 16 tahun, ia berkiprah di pemerintahan melalui Royal Canadian Mounted Police.

Namun, sejauh apa pun kaki melangkah dan selama apa pun seseorang berada di negeri rantau, tanah leluhur tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan.

Soppeng, tanah kelahiran Ida, tetap tersimpan dalam ruang batinnya.

Kecintaan terhadap leluhur bahkan diwariskan kepada kedua anaknya. Nama mereka menjadi semacam penanda sekaligus pengingat akan akar budaya dan tanah leluhur: Mario Were Batara dan Vicky Ungeriuddanie.

Rindu yang Tak Pernah Putus

Hujan salju di negeri rantau, hujan lebat dan banjir yang menggenangi rumah serta tanaman, tidak pernah mampu memutus rasa rindu kepada kampung halaman.

Sebab, sompe bukan berarti memutus akar.

Ia adalah perjalanan untuk mencari kehidupan, menguji kemampuan diri, dan menemukan ruang baru bagi cita-cita. Tetapi di mana pun seseorang berlabuh, ada satu tempat yang selalu menjadi titik kembali dalam ingatan: tanah kelahiran.

Bagi We Ida Rafiqah, perjalanan dari bukit-bukit sejuk Watansoppeng menuju lintas benua adalah perjalanan panjang sebuah nawanawa—impian yang diproses dalam batin, dimantapkan dalam pikiran, lalu diwujudkan melalui keberanian untuk melangkah.

Dari bukit Soppeng, ia menyeberangi samudra. Dari kampung halaman menuju dunia.

Namun sejauh apa pun sompe membawanya pergi, Soppeng tetap menjadi tempat hati berlabuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here