PINISI.co.id– Ketua Umum Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Sulawesi Selatan, HM Yasin Azis, menyerukan kepada seluruh jajaran pengurus dan anggota ISMI Sulsel untuk berani meninggalkan mentalitas amatiran dan bertransformasi menuju profesionalisme total dalam mengelola usaha.
Menurut Yasin Azis, dinamika ekonomi global, disrupsi teknologi, serta kompetisi pasar yang semakin cepat menuntut para saudagar Muslim untuk meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan kemampuan pengelolaan bisnis.
“Sekadar bisa berbisnis tidak lagi cukup. Hari ini juga, ISMI harus berani menanggalkan mentalitas amatiran dan mantap memilih zona profesional total,” tegas Yasin Azis dalam pesannya kepada jajaran pengurus dan anggota ISMI Sulsel, Ahad (27/9).
Ia menegaskan, profesionalisme harus menjadi prinsip bersama, tanpa membedakan proporsi, sektor, maupun skala usaha yang dijalankan para anggota. Baik usaha mikro yang sedang bertumbuh, usaha menengah, maupun industri berskala besar, seluruhnya dituntut menerapkan standar profesional dalam pengelolaannya.
“Profesionalisme adalah harga mati dan tidak ada ruang untuk kompromi,” ujarnya.
Yasin menjelaskan, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mencari penghasilan. Namun, cara menjalankan usaha, kapasitas yang dimiliki, kemampuan yang terus diasah, serta kedalaman ilmu yang dikuasai setiap saudagar tentu berbeda. Perbedaan tersebut, menurutnya, merupakan sunnatullah sekaligus kekuatan yang dapat memperkaya ekosistem ISMI.

Karena itu, keberagaman latar belakang dan bidang usaha anggota ISMI semestinya tidak menjadi faktor yang memisahkan, tetapi justru menjadi modal untuk membangun sinergi ekonomi.
“Jangan biarkan perbedaan latar belakang bisnis memecah kita. Jadikan itu sebagai rantai pasok dan sinergi korporasi yang profesional demi merebut kedaulatan ekonomi umat,” katanya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Yasin mendorong para saudagar Muslim agar mulai mengelola setiap ikhtiar bisnis dengan standar manajemen modern. Penguatan sistem yang akuntabel, pemanfaatan teknologi, efisiensi, serta eksekusi yang presisi dan matang harus menjadi bagian dari budaya usaha.
Menurutnya, transformasi tersebut bukan semata-mata untuk meningkatkan skala bisnis, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi umat yang kuat, saling terhubung, dan mampu menghadapi perubahan zaman.
“Kita harus mengelola setiap ikhtiar dengan standar manajemen modern, sistem yang akuntabel, efisiensi berbasis teknologi, serta eksekusi yang presisi dan matang,” tegasnya.
Yasin juga mengajak seluruh saudagar Muslim untuk tidak hanya menjadi pelaku usaha, tetapi tampil sebagai kekuatan ekonomi yang mampu memimpin pasar melalui profesionalisme dan integritas.
“Mari kita buktikan bahwa saudagar Muslim bukan hanya menjadi penonton, melainkan para petarung tangguh yang memimpin pasar dengan profesionalisme tinggi,” tandasnya.
Ia berharap semangat transformasi tersebut dapat menjadi energi bersama bagi seluruh anggota ISMI Sulsel untuk terus meningkatkan kapasitas, menangkap peluang, serta membangun kolaborasi usaha yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Yasin menutup pesannya dengan mengajak seluruh saudagar Muslim untuk terus bergerak, mengeksekusi peluang, dan bertransformasi dengan tetap menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai landasan perjuangan ekonomi. “Semoga Allah SWT merestui setiap peluh, pemikiran, dan langkah strategis yang kita ambil hari ini,” pungkasnya. (Lif)













