ARIS Anak Santri, Meramu Menu Selera Lintas Generasi di Kedai Riolo

0
38
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

EMPAT hal dapat diuraikan dari judul tulisan itu: siapa Aris, sosok anak muda; apa itu riolo/masa lampau; menginovasi menu tradisional lokal; dan budaya mattuana (pelayanan, kenyamanan, dan cepat saji).

Siapa Aris dengan menggunakan kaidah jurnalistik 4W1H: what, why, when, dan where (siapa dan mengapa), lalu how, bagaimana tindakannya.

Saya dengan sosok Aris ini berbincang sejenak sebelum kami melakukan silaturahmi milad tiga tahun lalu, menghadirkan Tablik Budaya Saromase 18 Maret 2023 dari sejumlah penutur dan pemerhati budaya tentang adat sipangadereng yang sedang tergerus dan merisaukan saat ini.

Sejak itulah, secara berkala ditampilkan pembicaraan kritis tentang tema adab dan peradaban itu dalam kehidupan masyarakat paguyuban Bugis Makassar, khususnya di Kedai Riolo, dengan pertimbangan menu dan pelayanan bersantap bagai di rumah sendiri, memilih menu yang sudah diakrabi.

- Advertisement -

Pilihan Dengan Kesadaran
ARIS, anak santri yang sarjana Sospol di Unhas 2012, tidak menjurus pada kedisiplinan ilmu yang ditekuninya. Ia memilih bidang ekonomi bisnis kontraktor di Jakarta.

Mengapa seperti itu? Saat itu ia sudah menyerap nilai kearifan budaya dari orang tua dan lingkungan di Baranti, Sidrap, serta pesantren di Enrekang.

Awal akan merantau, ia meminta nasihat kepada rumpun keluarga berpengaruh dan dari kakek-neneknya. Ia hanya dipesankan untuk melakukan apa yang menjadi kesenangan orang (mappasituju), yang diadaptasi dengan pesan leluhur: resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase Dewata Seuwae/Allah Subhanahu Wataala, pesan Nene Mallomo, La Pahala tau acca, penasehat Kerajaan/Addatuang.

Dengan warisan/bokong temmari itu, ia menekuni bisnisnya sampai saat Covid dan terus berikhtiar (mannawa nawa) membangun yang diberi nama Kedai Riolo, di mana rumah itu telah dibeli sebelumnya.
Kata Riolo ada korelasinya dengan adab peradaban leluhur masa lampau.

Dalam perbincangan singkat itu, saya menangkap kedalaman visi pemahaman anak santri ini yang memadukan ilmu yang dipelajarinya dan diimplementasikan dengan tindakan realitas yang dikerjakan.
Kedai itu kemudian tidak sebatas tempat datang untuk makan, tetapi dapat menjadi sarana tablik antara keluarga dan komunitas untuk saling berbagi kemanfaatan.

Kedai Riolo yang berlantai dua itu telah ditata dan difasilitasi beberapa ruangan pertemuan serta dirancang ada pustaka dengan buku-buku yang bermuatan kearifan budaya, sejarah, dan filsafat yang sudah ada maupun yang baru terbit, karena pemilik kedai ini adalah pembaca dan mengoleksi beberapa buku referensi.

Kedai dikelola dengan konsep menciptakan kenyamanan dengan tanggung jawab tanpa pengawasan.
Dan terus berinovasi mengembangkan menu nasu-nasu ogi/masakan Bugis yang ada untuk lintas generasi di perkotaan.
Semoga keberkahan menyertainya. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here