Bagaimana Hidupmu Begitulah Matimu

0
101
- Advertisement -

KULTUM (Kuliah Terserah Antum)

Ustadz Ashar Tamanggong

Kematian sering kita bicarakan dengan suara pelan, seolah-olah ia mudah tersinggung. Padahal, kematian bukan makhluk sensitif. Ia datang tepat waktu, tanpa undangan, tanpa klarifikasi, dan tanpa peduli apakah kita sudah siap atau masih ingin update status terakhir.

Ada ungkapan yang sering beredar di mimbar dan majelis taklim: bagaimana hidupmu, begitulah matimu.

Ungkapan ini bukan hadis Nabi secara lafaz, tetapi maknanya sejalan dengan akal sehat dan nilai-nilai Islam. Hidup adalah proses panjang, sementara mati hanyalah penutupnya. Dan penutup, biasanya, tidak jauh dari isi.

Kematian itu tidak kreatif. Ia tidak menciptakan karakter baru. Ia hanya menampilkan ulang kebiasaan lama dalam durasi yang sangat singkat.

Maka jangan heran jika orang yang hidupnya terbiasa berdzikir, lisannya ringan menyebut nama Allah di akhir hayat. Sebaliknya, orang yang hidupnya terbiasa mengeluh, sering kali wafatnya pun penuh gelisah—bukan karena kurang oksigen, tapi karena kurang latihan tenang.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Seseorang akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan saat ia meninggal.” (HR. Muslim).

Jika bangkit sesuai keadaan mati, maka wafat pun sering kali merupakan potret jujur dari keseharian hidup. Tidak selalu dramatis, tapi konsisten.
Coba kita bercermin.
Jika setiap pagi yang pertama kita cari adalah ponsel, bukan sajadah, jangan kaget jika refleks tangan lebih hafal membuka layar daripada membuka doa.

Jika sepanjang hari kita rajin menghitung kesalahan orang lain, sementara dosa sendiri kita anggap paket promo, bisa jadi di akhir hayat kita sibuk bingung: “Kok sudah sampai sini?”

Ironisnya, banyak orang ingin mati dalam keadaan baik, tapi enggan hidup dengan cara baik. Ingin husnul khatimah, tapi keseharian dipenuhi hasratul dunia.

Kita ingin akhir yang indah, tetapi malas memperbaiki isi cerita. Padahal hidup ini seperti menulis opini: kualitas penutup sangat tergantung pada paragraf-paragraf sebelumnya.

Islam tidak pernah mengajarkan pesimisme. Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat selalu terbuka. Tapi Islam juga mengajarkan realisme. Kebiasaan itu membentuk tabiat. Dan tabiat, cepat atau lambat, akan tampil di saat-saat paling menentukan.

Kematian bukan ujian dadakan. Ia lebih mirip ujian akhir semester. Materinya sudah diajarkan sejak lama. Yang rajin hadir, biasanya lebih tenang. Yang sering bolos, biasanya sibuk panik sambil berharap pengawas lengah.

Kita sering sibuk menyiapkan acara besar: pernikahan, syukuran, bahkan liburan. Tapi lupa menyiapkan satu acara yang pasti dihadiri semua orang: kematian. Lucunya, untuk urusan dunia yang belum tentu jadi, kita bisa sangat detail. Untuk urusan mati yang pasti, kita sering berkata, “Nanti saja.”
Padahal, mati tidak menunggu niat. Ia hanya menunggu waktu.

Maka mungkin pertanyaan paling jujur bukanlah, “Bagaimana nanti aku mati?” melainkan, “Bagaimana caraku hidup hari ini?”
Apakah shalat masih sering ditunda seperti janji politik?
Apakah lisan lebih sering melukai daripada mendoakan?
Apakah kita sibuk memperbaiki citra, tapi lupa memperbaiki karakter?

Kematian hanyalah editor terakhir. Ia tidak mengubah isi naskah, hanya memberi titik. Dan titik itu sering kali diletakkan tepat setelah kebiasaan terakhir kita.

Karena itu, jika kita ingin akhir yang baik, mari latih kebiasaan baik. Bukan yang berat-berat dulu. Mulai dari yang sederhana: shalat tepat waktu, jujur meski tidak diawasi, menahan komentar yang tidak perlu, dan belajar fokus memperbaiki diri sebelum sibuk menilai orang lain.

Sebab sering kali, kematian itu tidak menipu.

Hidup kitalah yang sejak awal sudah jujur memberi bocoran.

Manggarupi, 3 Januari 2025

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here