Bunda Literasi Maros Beraksara Cerdas, Tak Sekadar Diksi, Tapi Aksi Nyata

0
28
- Advertisement -

Kolom Bachtiar Adnan Kusuma
Tokoh Literasi & Ketua Tim Pendamping Literasi Maros

Sebagai Refleksi ulang tentang Gerakan Bunda Literasi Kabupaten Maros Beraksara Cerdas yang dijadikan Tema Sentral pada Pertemuan Bulanan Tim PKK Maros yang juga dirajut menjadi Acara Insight Bunda Literasi Kecamatan dan Kelurahaan se Kabupaten Maros, Rabu, 8 April 2026 di Gedung PKK Maros., sungguh ide yang cemerlang dilahirkan Bunda Literasi kabapaten Maros Apt. Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, S.Si. Ide ini kemudian diimplementasikan oleh Sekretaris Pengurus PKK Maros, Fitriani, S.Pd. Ketua Pokja II PKK Maros dan ibu Reni.

Mengapa Bunda Literasi Maros, Tak Sekadar Gelar, Tapi Aksi Nyata? Alasannya, Pertama, bunda literasi Maros tak sekadar slogan atau atribut, apalagi hanya status selempang yang dilekatkan kepada ibu-ibu Hebat Indonesia. Namun, Bunda Literasi Maros memiliki peran dan tugas sebagai lokomotif Transformasi Literasi berbasis satuan keluarga, pendidikan dan masyarakat. Tugas Bunda Literasi memikul beban berat, selain wajib menjadi contoh yang patut ditiru atau wajib diikuti, Bunda literasi telah menjadi Role Model penguatan ekosistem literasi berbasis keluarga.

Nah, sebagai Bunda Literasi, ia terlebih dahulu memiliki peran dan paling tidak sedikit hobi literasi. Tak sekadar pseude literasi yaitu literasi hanya sebatas semarak di panggung formil, festival yang menyebut literasi, tapi isinya sebatas seremoni, pesta tanpa melahirkan efek besar.

Karenanya, dibutuhkan satuan gerak dan langkah melalui hadirnya” grand design “ Aksi Bunda Literasi” secara kolosal. Intinya, penulis menegaskan kalau Bunda Literasi Maros telah menunjukkan jati dirinya sebagai Bunda yang berkegiatan rutin dan terukur serta memiliki grand desain visi dan misi.

Kedua, bunda literasi tidak bisa dilepas begitu saja pasca pengukuhannya sebagai bunda literasi. Penting sekali, bunda literasi didampingi Tim yang di dalamnya terdiri dari orang-orang yang memiliki kepedulian, kecintaan dan kemampuan mengelola literasi sebagai sebuah jalan pengabdian. Pertanyaannya, mengapa Bunda literasi di Indonesia tidak bergerak signifikan? Selain Bunda Literasi adalah status yang melekat pada istri Gubernur, Bupati dan Walikota, rerata mereka istri pejabat yang sibuk dan menyandang status beberapa bunda melekat dalam dirinya. Misalnya saja, selain sebagai bunda literasi, ia juga bunda PAUD, Bunda Stunting juga Ketua Tim Penggerak PKK. Disinilah peran dan fungsi Tim pendamping sebagai juru kampanye dan juru bicara bunda literasi terutama menyusun dan merancang aksi bunda literasi yang sesuai dengan tipikal dan karakter wilayah atau daerah masing-masing.

Penulis, memberi contoh Bunda Literasi Kabupaten Maros, Apt. Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, S,Si. dan Bunda literasi Lampung Tengah, Hj. Mardiana Musa Ahmad. Kedua figur Bunda Literasi yang meraih penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional, kategori pegiat literasi, pada 2022 di Jakarta. Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, dalam kedudukannya sebagai Bunda Literasi Kabupaten Maros, pasca dikukuhkan langsung membentuk Bunda Literasi di 103 desa dan kelurahan serta 14 bunda literasi kecamatan. Selain itu, bunda Literasi Maros berhasil mendorong peran serta masyarakat Bunda Literasi Kecamatan dan Kelurahan dengan menggelar pertemuan bulanan yang dikemas Insight tentang Gerakan Bunda Literasi Maros Beraksara Cerdas. Intinya, menegaskan kalau Bunda Literasi tak sekadar cakap berliterasi Aksara, melainkan ia juga mampu beraksara Cerdas Berliterasi menulis. Tidak salah kalau penulis menggerakkan Bunda literasi Kecamatan dan Kelurahan serta Bunda Literasi Desa pasca penutupan acara Pembekalan Bunda Literasi di Rabu itu, dengan mengajak mereka menulis kumpulan tulisan tentang Peran dan Kiprah Bunda Literasi dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Maros Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir dalam bingkai antologi.

Apa yang menarik diguguh dari Bunda Literasi Maros? Selain Bupati Maros Chaidir Syam, memiliki perhatian dan kepedulian tinggi tumbuhnya ekosistem literasi di daerah dipimpinnya, ia juga memprakarsai terbentuknya Tim Pendamping Literasi Maros di atas alas SK Bupati Maros dan Chaidir Syam mendorong lahirnya Perda Literasi Maros. Tidak heran kalau gerak dan langkah Bunda literasi Maros Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir telah menjadi Role Model nasional sebagai salah satu peran Ibu mendorong tumbuhnya budaya literasi dari setiap keluarga melalui kegiatan-kegiatan literasi berbasis masyarakat. Hj. Ulfiah Nur Yusuf, sebelum resmi menjadi Bunda Literasi, telah menyusun Grand Desain Aksi Bunda Literasi Maros yang dipaparkan di depan para kepala OPD, Camat, Kepala Desa dan Lurah serta DPRD Maros. Penulis bersyukur karena ikut serta melahirkan grand desain Bunda Literasi Maros.

Sejatinya, bunda literasi membutuhkan Tim kerja pendamping sebagai tim yang bertugas memberikan arah dan petunjuk, sebaiknya bunda literasi profil dan idealnya adalah tokoh dan figur sentral membentuk ekosistem literasi keluarga. Status bunda literasi bukanlah jabatan formil, ia hanya sebatas status yang melekat dalam dirinya, sebagai istri pejabat negara di daerah. Bunda literasi bukan jabatan, melainkan status non formil yang diharapkan bisa diguguh dan dicontoh serta diikuti masyarakat. Bunda literasi adalah bunda semua orang. Bukan hanya bunda bagi anak-anak, ia juga bunda dari remaja dan siapa saja yang mau diajak dan bergabung dalam barisan literasi Indonesia.

Buku dan Bunda Literasi Change of Agent

Penulis mengutip sebuah buku berjudul” Buku-buku yang Mengubah Dunia” karya Andrew Taylor, salah seorang jurnalis televisi, koran dan majalah Sunday Times. Dalam bukunya, Andrew Taylor menempatkan dirinya sebagai petugas yang menantang untuk memilih dan mengikhtisarkan 50 buku paling penting dan berpengaruh dalam sejarah dunia.

Dan bagi umat Islam, wajib hukumnya berterima kasih pada Imam Buchari, Imam Hanafi, Imam Syafii atas jasa-jasanya mengumpulkan dan menulis hadist Nabi Muhammad SAW, membuat umat Islam berbahagia menikmati ibadah shalat dengan baik. Demikian pula di panggung dunia kedokteran, kita mengenal Ibnu Sina, Ibnu Khaldum yang telah memperkaya khasanah referensi ilmu kedomteran dengan karya-karya bukunya.

Benarlah apa yang dikemukakan seniman Austria, Franz Kafka bahwa buku harus menjadi kampak untuk menghacurkan lautan beku di dalam diri manusia. Adapun lautan beku yang dimaksudnya adalah kebodohan manusia. Betapa pentingnya budaya membaca menjadi gaya hidup masyarakat. Ironisnya, karena budaya membaca belum tumbuh dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

Selain karena kita belum terbiasa berada pada pusaran literasi, di sisi lain dari masyarakat pra literasi terjung bebas ke masyarakat pasca literasi. Tak heran jika berbagai survei menunjukkan kemampuan membaca kita masih rendah. Padahal, UU Sisdiknas N0 20 Tahun 2003 menegaskan Pasal 4 Ayat 5 bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung.

Karena itu, Bunda literasi perlu menggerakkan budaya membaca, tapi tidak menanggalkan budaya menulis. Selain karena budaya membaca dan budaya menulis ibarat dua keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan, juga salah seorang psikolog terkemuka Amerika Serikat, Pennebaker, menegaskan kalau membaca dan menulis dua sisi yang amat penting dalam proses pembudayaan membaca dan menulis. Sebab hanya dengan budaya menulis yang tinggi akan menjadikan bangsa Indonesia yang memiliki peradaban tinggi. Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here