PINISI.co.id- DPC Katalia Depok bekerjasama dengan Ady Salon menggelar acara “Demo Sanggul Toraja dan Bedah Pengantin Toraja” yang diikuti oleh 75 perias pengantin modifikasi yang ada di kota Depok. Acara ini diselenggarakan pada Kamis (28/08/2025) bertempat di Aula Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Depok, Jl Margonda raya.
Adapun acara dibuka dengan kata sambutan oleh Mitha Z Betah, selaku ketua DPC (Dewan Pimpinan Cabang) Katalia kota Depok. Dalam sambutannya, Mitha berharap dengan diadakannya kegiatan ini, para perias pengantin modifikasi, khususnya di wilayah kota Depok, bisa mengetahui dan menguasai tata rias pengantin dari berbagai suku/etnis yang ada di wilayah Indonesia. Untuk diketahui, ada sekitar 25 skema tata rias pengantin dari seluruh Indonesia, satu persatu akan dibedah oleh Katalia.
Yang sudah dibedah diantaranya adalah adat Makassar dan Toraja. Rencana kedepannya akan digarap adat Mandailing dan berbagai suku/etnis yang ada di wilayah pulau Sumatera.
Lebih lanjut dijelaskan Mitha bahwa di zaman sekarang ini, anak-anak muda pengantin banyak menggali asal-usul mereka. Contohnya ada yang keturunan separuh Toraja dan separuh Bali. Jadi misalnya ada yang mencari rias pengantin adat Toraja, mereka bisa mendapatkannya di kota Depok, tidak perlu jauh-jauh mencari ke kota lain.
Walaupun diakui Mitha bahwa untuk adat Toraja ini periasnya belum melalui ujian skema, tetapi paling tidak mereka sudah mengetahui dasar-dasarnya, sehingga tidak salah dalam penerapan aksesoris.
Mengenai organisasi Katalia sendiri, Mitha menjelaskan bahwa Katalia sudah berdiri sejak 15 tahun lalu. Tepatnya lahir pada tanggal 9 September 2009. dalam perjalanannya sudah berjalan kurun waktu 3 generasi. Dimulai dari ketuanya pada awal berdiri adalah Romlah Effendi, kemudian dilanjutkan oleh Teresia Grace, dan ketua yang sekarang adalah Mitha Z Betah.
Dalam perjalanannya para perias anggota Katalia banyak menangani rias adat yang bukan berasal dari sukunya. Misalnya orang Betawi yang memakai adat Sunda, orang Sunda yang memakai adat Jawa, begitupun sebaliknya. Salah satu contoh ada yang memilih untuk memakai adat Bali karena dianggap aksesorisnya lebih bagus, walaupun dia bukan orang Bali.
Diwawancara di acara yang sama, Ady Siswadi selaku owner Ady Salon menjelaskan secara teknis bahwa, kebanyakan perias pengantin di kota Depok, belum menguasai teknik sanggul suku/etnis diluar Jawa. Diantaranya rias adat Batak dan Toraja, dikarenakan sanggulnya memerlukan sasakan yang tebal dan banyak. Contohnya untuk model “Sappi”, teknik sanggul Toraja dimana aksesorisnya harus tertutup dan tidak boleh kelihatan dari luar.
Menurut Ady, penguasaan tata rias suku-suku diluar Jawa jadi menarik karena sifatnya yang unik. Diantaranya adat Batak, Toraja dan beberapa suku lain di wilayah Indonesia bagian Timur.
Diceritakan Ady bahwa dirinya pernah menerima tawaran untuk rias pengantin Toraja, sementara kebanyakan rekannya di Depok belum ada yang menguasai teknik sanggul tersebut. Maka dari itu dia tertarik untuk mengadakan tutorial sanggul Toraja ini.
Lebih lanjut Ady berharap dengan diadakannya berbagai tutorial rias pengantin adat suku-suku diluar Jawa, kedepannya diharapkan akan semakin meningkatkan kompetensi para perias pengantin, khususnya di wilayah kota Depok.
Untuk diketahui, Ady Salon sendiri berlokasi di wilayah Cinere, tepatnya di Jl Cinere Raya, Ruko Blok M no 21 Cinere Depok. Untuk akun instagram-nya adalah adywedding.
Dari pantauan awak media, secara keseluruhan acara demo sanggul dan bedah rias pengantin ini berjalan cukup lancar dan kondusif. Suasananya terasa cair, penuh keakraban dan kekeluargaan. Apalagi banyak diantara para peserta tutorial adalah pelaku rias pengantin di kota Depok yang sudah saling mengenal satu sama lain. (Irfan)