PINISI.co.id- Kabar membahagiakan datang bagi perfilman nasional, khususnya film bertema kepahlawanan. Rumah produksi Denny Siregar Production kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk Emmy. Hal ini disampaikan saat acara syukuran yang turut dihadiri DemiFim TV pada Jumat (27/3).
Denny Siregar mengungkapkan bahwa film ini terinspirasi dari sosok pejuang wanita asal Sulawesi, Emmy Saelan. Ia dikenal sebagai seorang suster di RS Stella Maris, rumah sakit yang masih eksis hingga saat ini.
“Saya kembali memercayakan kursi sutradara kepada Emil Heraldi, dengan naskah yang ditulis bersama Evelyn Afnilia,” ujarnya dengan penuh semangat.
Berikut sinopsis dan daftar pemain film Emmy.
Sinopsis Singkat
Emmy Saelan merupakan seorang tenaga kesehatan yang hidup dalam situasi penuh tekanan. Ia tampil sebagai perawat yang berdiri di garis depan ketika banyak orang memilih mundur.
Melalui film ini, Denny Siregar Production ingin menghadirkan cerita yang tidak hanya kuat secara historis, tetapi juga emosional serta dekat dengan realitas tentang perempuan, cinta, dan pilihan-pilihan besar yang menentukan arah masa depan.
Emmy Saelan (15 Oktober 1924 – 24 Januari 1947) adalah salah satu pejuang wanita dan Pahlawan Nasional Indonesia.
Ayahnya, Amin Saelan, merupakan tokoh pergerakan Taman Siswa di Makassar sekaligus penasihat organisasi pemuda. Salah satu adiknya, Maulwi Saelan, juga dikenal sebagai pejuang dan pernah menjadi pengawal Presiden Soekarno.
Daftar Pemain
Cut Beby Tsabina sebagai Emmy Saelan, Samo Rafael sebagai Bote, Aji Santosa sebagai Johan, Iqbal Sulaiman sebagai Katong, Dioren Jalu Permana sebagai Lalo, Dito Darmawan sebagai Maulwi, Tubagus Ali sebagai Stefanus, Aksara Dena sebagai Ranggong, Dinda Ghania sebagai Upe, Vincent Verhaag sebagai Westerling, Regina Suhari sebagai Keke, Jesyca Marlein sebagai Martha, Hans De Kraker sebagai De Vries, dan lainnya.
Emmy Saelan dikenal sebagai pejuang perempuan dari Sulawesi yang gugur di medan pertempuran di Kassi-Kassi, dekat Kota Makassar, pada tahun 1947. Sejak muda, ia menolak bekerja sama dengan Belanda dan terlibat dalam pemogokan di Stella Maris sebagai bentuk protes atas penangkapan Dr. Sam Ratulangi.
Ia juga pernah menggunakan posisinya sebagai perawat untuk membantu membebaskan pejuang yang ditawan Belanda—sebuah tindakan berani yang penuh risiko.
Pada Juli 1946, Emmy bergabung dengan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) di bawah pimpinan Ranggong Daeng Romo dan ikut bergerilya di hutan.
Dalam pertempuran di Kassi-Kassi, Emmy melempar granat ke arah pasukan Belanda yang hendak menangkapnya. Delapan tentara Belanda tewas, dan Emmy sendiri gugur dalam peristiwa tersebut.
Siapa Emmy?
Emmy merupakan lulusan SMP Nasional Makassar yang didirikan pada 1945 oleh Dr. Sam Ratulangi bersama para tokoh pejuang. Sekolah ini menjadi tempat lahirnya banyak pejuang republik.
Guru-guru di sekolah tersebut adalah tokoh-tokoh perjuangan, salah satunya Benhard Korompis yang juga menjadi saksi sejarah.
Saat agresi militer Belanda, para pelajar membentuk laskar perjuangan bernama Harimau Indonesia, dipimpin oleh Robert Wolter Mongisidi. Anggotanya termasuk Emmy Saelan dan adiknya, Maulwi Saelan.
Kelompok ini aktif melakukan perlawanan terhadap Belanda, hingga akhirnya Belanda mendatangkan Raymond Westerling untuk menumpas gerakan tersebut.
Di dalam laskar Harimau Indonesia, Emmy memimpin pasukan perempuan sekaligus bertugas di Palang Merah. Ia dikenal cerdas dalam menggunakan sandi komunikasi antarpejuang.
Dengan nama sandi “Daéng Kébo’”, Emmy menunjukkan keberanian luar biasa di usia muda—usia ketika kebanyakan remaja menikmati masa santai, namun ia justru memilih jalan perjuangan penuh risiko.
Pada 23 Januari 1947, Emmy memimpin 40 pejuang di Kampung Kassi-Kassi. Pasukannya terkepung oleh tank dan tembakan Belanda. Meski diperintahkan mundur, situasi sudah terlambat.
Saat semua rekannya gugur, Emmy menolak menyerah. Ia melemparkan granat ke arah pasukan Belanda, menewaskan sejumlah musuh, namun juga mengorbankan dirinya sendiri.
Awalnya, tentara KNIL tidak menyadari bahwa pelaku adalah seorang perempuan karena Emmy mengenakan pakaian laki-laki.
Jenazah Emmy kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar. Namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional, serta dikenang melalui berbagai monumen dan nama jalan.
Perjuangannya menjadi simbol keberanian perempuan Indonesia dalam merebut kemerdekaan.
Film Emmy diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat perjuangan tersebut bagi generasi masa kini. (Rul)













