Kolom HM Yasin Azis
Ketua Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Sulsel
Dalam panggung ekonomi global, kecerdasan sering dipuja sebagai panglima. Strategi yang tajam, penguasaan data, dan kemampuan akumulasi aset dianggap sebagai kasta tertinggi keberhasilan.
Namun, sebuah peringatan keras muncul untuk mengalibrasi ulang arah kompas kita: “Kecerdasan tanpa empati hanyalah alat bagi keserakahan.”
Bagi seorang saudagar Muslim, kepintaran finansial yang kering dari rasa kemanusiaan bukanlah sebuah prestasi, melainkan potensi malapetaka.
Kecerdasan yang tidak dibasuh dengan empati hanya akan melahirkan pengusaha yang “pintar eksploitasi” namun “miskin nurani”.Secara teologis, sejarah mencatat bahwa kejatuhan makhluk bukan selalu karena kebodohan, melainkan karena kesombongan atas kelebihannya.
Iblis dilaknat Allah bukan karena kurang ilmu, melainkan karena merasa “paling hebat” (Ana Khairun Minhu).
Demikian pula Firaun yang mampu membangun peradaban fisik yang megah, namun hancur karena meniadakan empati dan memuja kekuasaan mutlak.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berulang kali mengingatkan bahwa harta dan kekuasaan adalah ujian (Fitnah), bukan indikator kemuliaan.
Membicarakan kemewahan triliunan rupiah di hadapan mereka yang sedang berjuang menyambung hidup (perut yang lapar) bukan hanya masalah etika, melainkan pelanggaran adab yang berat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya lapar di sampingnya dan ia mengetahuinya.” (HR. At-Tabrani).
Di sini, syariat mengajarkan bahwa “kelas” seorang Muslim ditentukan oleh kepekaannya terhadap realitas sosial di sekelilingnya, bukan oleh deretan angka di saldo rekeningnya.Dalam kacamata bisnis yang sehat, seorang entrepreneur harus menyadari sifat volatile (berubah-ubah) dari kekayaan.
“Harta hanyalah amanah yang bisa berputar sekejap mata” sejalan dengan firman Allah tentang perputaran nasib manusia: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia…” (QS. Ali Imran: 140).Saudagar Muslim yang tangguh tidak akan “mabuk” saat berada di puncak. Ia memahami bahwa aset yang dikelolanya adalah titipan untuk menciptakan lapangan kerja dan kemaslahatan.
Pamer kekayaan di tengah krisis sosial adalah bentuk branding yang buruk dan merusak kepercayaan pasar jangka panjang.
Bisnis yang berkelanjutan adalah bisnis yang dibangun di atas fondasi empati, di mana keuntungan perusahaan sebanding dengan kesejahteraan ekosistemnya.
Falsafah Bugis-Makassar juga memberikan penekanan yang sangat dalam mengenai hubungan antar-manusia melalui nilai Sipakalebbi (saling memuliakan).
Membicarakan kekayaan secara jemawa di depan orang yang berkekurangan dianggap sebagai tindakan yang de’gaga siri’na (tidak memiliki rasa malu/harga diri).
Kecerdasan atau Acca dalam budaya kita haruslah bersanding dengan Lempu (kejujuran) dan Tau (kemanusiaan).
Ada sebuah petuah: “Sellei fanni muala accu, muappasidapi lino akhera” (Gunakanlah kecerdasanmu untuk menyatukan urusan dunia dan akhirat).
Pengusaha yang merasa “paling hebat” telah kehilangan nilai Sipakatau—ia gagal memanusiakan orang lain karena tertutup oleh tabir kesombongannya sendiri.
Dalam budaya Makassar, kerendahan hati (Sere-sere) justru merupakan tanda ketinggian martabat seorang bangsawan atau saudagar sejati.
Menjaga Adab di Atas Angka
Kutipan ini adalah pengingat bahwa di atas strategi bisnis, ada Adab. Adab dalam menggunakan kata-kata, adab dalam menunjukkan keberhasilan, dan adab dalam membelanjakan kekuasaan.
Kekayaan yang tidak membawa manfaat bagi “perut yang lapar” hanya akan menjadi tumpukan harta yang menyesakkan jiwa di kemudian hari.
Seorang saudagar sejati adalah mereka yang bicaranya menyejukkan, tindakannya solutif, dan hartanya menjadi jembatan bagi keadilan. Jangan sampai kita membangun menara bisnis setinggi langit, namun merobohkan jembatan kemanusiaan di bumi.
Sebab, sehebat apa pun bangunan yang kita dirikan, jika ia dibangun di atas kesombongan, ia hanya tinggal menunggu waktu untuk runtuh sebagaimana runtuhnya Firaun dan keangkuhan Setan.
Na’uzubillahiminzalik.













