PINISI.co.id- Perkembangan pendidikan tinggi di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Provinsi Banten, dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Kota yang awalnya dikenal sebagai kawasan hunian dan pusat bisnis ini kini tumbuh sebagai salah satu sentra pendidikan tinggi penting di wilayah Jabodetabek, bahkan berskala nasional.
Hadirnya berbagai universitas unggulan dengan fasilitas modern dan kualitas akademik yang terus meningkat menjadikan Tangsel magnet baru bagi para pencari ilmu dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak terkecuali mahasiswa asal Sulawesi, yang jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun. Mereka datang dengan harapan memperoleh pendidikan berkualitas sekaligus pengalaman hidup di lingkungan perkotaan yang dinamis.
Pilihan perguruan tinggi di Tangsel terbilang sangat beragam, mulai dari universitas negeri, politeknik, hingga perguruan tinggi swasta dengan akreditasi unggul. Beberapa di antaranya bahkan telah membangun reputasi hingga tingkat internasional, seperti Universitas Pelita Harapan (UPH). Kondisi ini semakin mengukuhkan Tangsel sebagai destinasi favorit pendidikan tinggi.
Bagi calon mahasiswa, khususnya dari Sulawesi, universitas negeri di Tangerang Selatan sering menjadi pilihan utama karena biaya kuliah yang relatif terjangkau dengan kualitas pendidikan yang telah diakui secara nasional. Salah satu kampus negeri yang paling diminati adalah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang berlokasi di Ciputat, Tangsel.
Di sisi lain, universitas swasta di Tangsel juga memiliki daya tarik tersendiri. Banyak di antaranya meraih akreditasi unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Universitas Pamulang (UNPAM), misalnya, dikenal sebagai kampus dengan jumlah mahasiswa terbesar di Indonesia. UNPAM menjadi favorit karena menawarkan biaya pendidikan yang relatif terjangkau, namun tetap menjaga kualitas pembelajaran yang kompetitif.
Seiring meningkatnya jumlah pemuda-pemudi Sulawesi yang menempuh pendidikan di Tangsel, bermunculan pula berbagai organisasi kemahasiswaan daerah sebagai wadah silaturahmi dan saling membantu di tanah perantauan. Organisasi seperti HIMAS, IKAMI, dan PMBM menjadi ruang kebersamaan sekaligus penguat identitas kedaerahan di tengah kehidupan akademik.
Melihat realitas tersebut, Ir. Barawaja Ramli, S.H., M.H., selaku Ketua IKA Unhas Wilayah Banten sekaligus Ketua Kerukunan Keluarga Besar Soppeng (KKBS) Wilayah Banten, merasa terpanggil untuk berperan sebagai orang tua bagi mahasiswa Sulawesi di perantauan. Salah satu gagasan konkret yang diinisiasinya adalah pengadaan Mess Mahasiswa Sulawesi di Kota Tangerang Selatan.
Menurut pria yang akrab disapa “Pak RW Jaya” oleh masyarakat Tangsel ini, keberadaan mess mahasiswa akan sangat membantu meringankan beban biaya hidup mahasiswa Sulawesi, terutama dalam hal tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan makan sehari-hari. Dengan biaya hidup yang lebih terkendali, mahasiswa diharapkan dapat lebih fokus pada studi dan pengembangan diri.
“Insya Allah pengadaan Mess Mahasiswa Sulawesi ini akan segera diwujudkan. Ke depan, kami juga akan mengajak bapak dan ibu warga Sulawesi yang telah bermukim di Tangerang Selatan untuk bersama-sama berpartisipasi dalam mewujudkan mess ini,” ujar Barawaja Ramli.
Ia optimistis, dengan dukungan berbagai elemen kerukunan seperti Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), IKA Unhas, KKBS, serta organisasi pilar kerukunan daerah yang tersebar di Banten, khususnya di Kota Tangerang Selatan; gagasan tersebut dapat terealisasi. Bahkan, Barawaja Ramli juga membuka peluang kerja sama dengan Pemerintah Daerah Kota Tangerang Selatan agar program ini berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat luas bagi generasi muda Sulawesi di masa depan. (Lif)













