PINISI.co.id- Ormas Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan menilai upaya menyeret nama Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam polemik dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo sebagai narasi sesat, tidak rasional, dan sarat kepentingan politik tersembunyi.
Wakil Ketua Bidang Politik DPW Gerakan Rakyat Sulsel, Syamsul Alimuddin, menegaskan bahwa isu tersebut tidak berdiri sebagai perdebatan akademik maupun hukum yang objektif. Menurutnya, narasi itu justru kuat terindikasi sebagai desain besar yang disetting secara sistematis, terstruktur, dan masif.
“Joko Widodo sudah tidak lagi menjabat sebagai Presiden. Secara logika politik, seharusnya isu ini sudah selesai. Jika kini kembali dihembuskan dan bahkan menyeret nama SBY, maka patut dicurigai ada agenda lain yang sedang dimainkan,” ujar Syamsul Alimuddin, Sabtu (10/1/2026).
Ia menilai pola penyebaran isu yang berulang, lintas platform, dan menggunakan narasi seragam menunjukkan bahwa isu tersebut tidak lahir secara alamiah dari kegelisahan publik.
Syamsul menyebut, produksi opini semacam ini hampir mustahil terjadi tanpa dukungan sumber daya dan pembiayaan yang besar.
“Ini bukan sekadar opini liar di media sosial. Ada orkestrasi narasi yang rapi dan terencana. Karena itu, isu ini harus dilawan dengan pendekatan rasional, berbasis nalar sehat, bukan dengan emosi,” tegasnya.
Syamsul juga menolak keras upaya memetakonflikkan SBY dengan Joko Widodo. Menurutnya, relasi keduanya adalah relasi kenegaraan dalam tradisi demokrasi dan transisi kekuasaan yang konstitusional, bukan relasi permusuhan apalagi konspirasi.
“SBY adalah Presiden dua periode dengan rekam jejak kenegaraan yang jelas dan diakui. Sangat tidak masuk akal jika beliau dituding terlibat dalam operasi politik yang menyerang legitimasi mantan presiden lain,” katanya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa fitnah terhadap SBY bukan hanya mencederai kehormatan seorang negarawan, tetapi juga berpotensi merusak memori kolektif bangsa tentang perjalanan demokrasi Indonesia.
“Jika narasi semacam ini dibiarkan, presedennya sangat berbahaya. Siapa pun yang pernah memimpin republik ini bisa sewaktu-waktu diseret dan dihancurkan reputasinya melalui rekayasa opini yang masif,” ujar Syamsul.
Gerakan Rakyat Sulsel, lanjut dia, menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk politik adu domba, manipulasi informasi, dan kampanye kebencian yang menjadikan tokoh bangsa sebagai sasaran.
“SBY telah menyelesaikan tugas sejarahnya secara terhormat. Jokowi juga telah menyelesaikan masa jabatannya. Mengadu domba keduanya adalah konflik artifisial yang tidak bermoral dan harus dilawan dengan nalar sehat,” pungkasnya. (Fen)














