Kolom Bachtiar Adnan Kusuma
Ketua Forum Nasional Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional
Tidak terasa kita telah memasuki fase kedua, menjelang fase ketiga atau putaran terakhir Ramadhan 1447 H. Penulis melakukan perjalanan dari kota Makassar menuju kota Bau-Bau, selanjutnya menunaikan shalat Idul Fitri 1447 H di Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Dalam tulisan ini, penulis memperkuat kembali Ramadhan ibarat buku novel terdiri dari prolog dan epilog.
Pertanyaannya, apakah sesungguhnya istilah tentang Epilog? Epilog, seperti umumnya kita kenal adalah etafe bagian akhir dari suatu tulisan. Dan, bagian ini penting dari tulisan, karena menjadi inti penegasan isi tulisan. Demikian halnya perjalanan bulan suci Ramadhan 1447 H, saat ini kita telah memasuki putaran kedua menuju putaran ketiga atau bagian akhir dari perjalanan puasa kita.
Penulis mengingatkan kembali Ramadhan telah menjadi ruang, tempat dan pusat pembinaan ruhani bagi umat Islam.
Ramadhan telah mempertegas pentingnya masjid sebagai pusat ilmu pengetahuan, pusat kebudayaan dan pusat literasi baca dan tulis. Pada 17 Ramadhan diperingati Nuzulul Qur’an perintah membaca diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw.
Lalu, apa hubungannya Literasi dan Masjid? Literasi dan dan Masjid begitu istilah yang penulis berikan, memiliki hubungan yang erat. Selain Masjid pusat ibadah umat Islam, di masjid pula tempat dikumandangkannya Al-Quran sebagai tempat yang paling strategis membaca ayat-ayat Allah sebagai peringatan pertamakali turunnya perintah membaca “Iqra”. Makanya, Ramadhan telah menjadi wujud nyata membaca dalam pengertian kontekstual maupun tekstual sejak lama telah menjadi wajib bagi umat Islam Indonesia.
Fakta menunjukkan negara-negara maju di dunia, memberikan gambaran kemajuan ekonomi dan kesejahteraan berbanding lurus dengan tingkat literasi masyarakat yang tinggi. Maka, peningkatan literasi masyarakat membutuhkan partisipasi masyarakat untuk menjadi jembatan dan tindakan role model, motivator, katalisator dalam membentuk masyarakat Indonesia berbudaya tinggi Literasi (Knowledge Driven of Economy).
Karena itu, Akademi Literasi Masjid telah menunjukkan tumbuhnya kesadaran kolosal dari pemuda, remaja masjid, pegiat literasi, relawan, pemuda dan remaja masjid yang terus menerus bergerak tanpa batas pengabdian, mengembalikan literasi masjid bergema di berbagai penjuru masjid di masyarakat.
Mengapa penulis konsisten terus menerus mendorong tumbuhnya budaya literasi masyarakat dari masjid-masjid kita? Jawabannya sederhana, budaya membaca dan budaya menulis di Indonesia belum menjadi budaya memassal, massif dan berkesinambungan. Makanya, dibutuhkan gerakan terus menerus mengajak masyarakat membaca. Selain karena membaca belum menjadi kebutuhan primer masyarakat, membaca juga belum menjadi gaya hidup kosmopolit masyarakat.
Nah, diperlukan keterlibatan semua pihak, bukan hanya Perpustakaan Nasional, Pemerintah Provinsi, Kab dan Kota, tapi semua unsur dan satuan masyarakat, satuan pendidikan, satuan keluarga dan satuan masjid wajib menjadi pilar utama menumbuhkan ekosistem budaya membaca di Indonesia.
Pertama, gerakan membaca dan gerakan menulis tidak cukup hanya diucapkan atau disampaikan melalui forum-forum resmi, tapi lebih penting lagi dikerjakan, diamalkan dan dilakukan. Penulis acapkali menyaksikan ada kelompok atau pihak tertentu hanya mengajak dan menjadikan literasi sebagai industri, namun penerapannya tidak berjalan dengan baik. Inilah yang penulis sebut pseudo literasi. Artinya, mengajak orang lain membaca, tapi dirinya sendiri tidak membaca.
Kedua, menggerakkan budaya membaca, tapi menanggalkan budaya menulis. Padahal, budaya membaca dan budaya menulis ibarat dua keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Pennebaker, salah seorang psikolog terkemuka Amerika Serikat, menegaskan kalau membaca dan menulis dua sisi mata uang yang penting dalam proses pembudayaan membaca dan menulis masyarakat. Karena hanya dengan budaya membaca dan menulis yang tinggi, maka bangsa Indonesia memiliki peradaban tinggi.
Ketiga, budaya membaca dan budaya menulis digerakkan, namun budaya wakaf buku untuk perpustakaan masjid, desa, lorong, komunitas, taman baca belum berjalan baik. Hanya dengan menggerakkan gerakan wakaf buku untuk masjid, perpustakaan desa, lorong, komunitas baca masyarakat, dibutuhkan terutama menjadi terapi kurangnya buku-buku bermutu di perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, lorong, kampung dan komunitas baca.
Jujur, penulis mengakui kalau masyarakat belum bisa berharap banyak dari negara terutama kurangnya akses buku-buku bacaan konten lokal di masyarakat. Karena itu, diperlukan keterlibatan masyarakat seperti yang tertulis dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pada pasal 43 menegaskan kalau masyarakat berperan serta dalam pembentukan penyelenggaraan, pengelolaan, pengembangan dan pengawasan perpustakaan.
Iktikaf Ramadhan dan Toga Kemenangan
Nah, pada sesi akhir (Epilog Ramadhan 1447 H), ditutup sepuluh hari terakhir lewat Iktikaf di masjid, rumah-rumah dan lembaga pendidikan telah menunjukkan kalau peran umat Islam Indonesia telah berhasil menerapkan literasi agama melalui gerakan membaca ayat suci Al-Quran. Gerakan membaca yang dimulai dari setiap keluarga, rumah ibadah atau masjid menjadi basis penguatan kesadaran pentingnya literasi agama.
Iktikaf sesungguhnya menepi dari hiruk pikuknya keramaian dunia. Bertasbih, berwitir, bertaubat, berhajat dan bertahajud, sesungguhnya membuktikan kalau manusia lemah dan hanya Allah SWT yang maha penolong. Dalam perspektif sosiologis, Iktikaf memiliki peran besar terutama mengembalikan semangat soliditas umat Islam. Selain berdiam diri, berjamaah dan memanfaatkan seperdua malam pada malam ganjil di penghujung Ramadhan, Iktikaf mampu membentuk ekosistem jamaah yang kuat sekaligus melahirkan energi fositif bagi umat Islam Indonesia.
Di penghujung akhir Ramadhan 1447 H, akan ditutup dengan Shalat Idul Fitri sebagai kunci utama pelaksanaan puasa Ramadhan. Siapa saja yang berhak menerima toga kemenangan? Hanya mereka yang mampu menunaikan puasa selama sebulan, melaksanakan ibadah sunah, ibadah sosial selama ramadhan, maka mereka inilah yang berhak menerima Toga Kemenangan.
Berikutnya, segala prestasi ibadah Ramadhan 1447 H, dibutuhkan konsisten dan konsistensi. Hanya dengan kedua pilar konsisten dan konsistensi, maka segala prestasi yang diraih di bulan Ramadhan ini, out putnya dibuktikan dengan melanjutkan dan mengerjakan di luar bulan suci ramadhan.
Itikaf, Epilog Ramadhan dan Toga Kemenangan adalah milik bagi mereka yang menjaga kesucian bulan Ramadhan di hari-hari berikutnya di luar bulan Ramadhan. Semoga.














