Hikmah Abdul Hamid Husain
Rumusnya, puasa selama 1 bulan Ramadhan bernilai puasa 10 bulan. Puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan bernilai dua bulan. Maka total nilai berpuasa = 12 bulan.
Ramadhan telah berlalu, agak sedih sih, karena nikmatnya malam-malam berbuka puasa bareng, i’tikaf dan asyiknya makan sahur serta tadarus Al Quran bareng telah berakhir, dan waktu ibadah yang pahalanya berlipat-lipat ganda, minimal 10 x lipat, telah berakhir.
Namun, masih ada kesempatan, yaitu mulai hari ini, atau besok atau lusa hingga sebulan ke depan, terdapat puasa yang pahalanya juga berlipat lipat ganda, yaitu “berpuasa 6 hari di bulan Syawal. Boleh berturut-turut selama 6 hari, dan boleh selang seling, yang penting dilakukan di bulan Syawal.
Puasa yang 6 hari di bulan Syawal, bernilai ibadah 2 bulan. Dengan bernilai pahala 2 bulan, maka siapa yang berpuasa 6 hari Syawal, ia dinilai oleh Allaah ia berpuasa sepanjang tahun penuh, karena ia telah menggenapkan pahala puasa Ramadhan nya yang bernilai puasa 10 bulan, menjadi 12 bulan.
Demikian Rasuulullaah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ.
(رواه الجماعة إلا البخاري والنسائي)
“Siapa yang sudah berpuasa Ramadhan, kemudian dia menambahkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah ia telah melaksanakan puasa sepanjang tahun penuh”. (Hadits Sahih diriwayatkan oleh semua Perawi Hadits kecuali Al-Imam Al-Bukhari dan An-Nasa’i).
Rasuulullaah SAW juga bersabda;
عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ . (رواه أحمد)
“Siapa yang berpuasa Ramadhan, maka pahala satu bulan Ramadhan itu, dilipat gandakan dengan pahala puasa 10 bulan, dan berpuasa 6 hari sesudah Idul Fitri, dilipat gandakan sebanyak 10 kali, menjadi 60 hari, maka genaplah, puasa Ramadhan dan 6 hari di bulan Syawal, menjadi puasa satu tahun penuh”.
(Hadits Sahih Riwayah Al-Imam Ahmad).
Catatan
1. Usahakan semaksimal mungkin, jangan sampai tidak berpuasa 6 hari di bulan Syawal. Dengan demikian, Allaah SWT tambah menyayangi kita dengan mengampuni dosa kita, dijauhkan dari siksa Kubur dan siksa akhirat, dan surga Alfirdaus menanti kita.
2. Lebih afdol puasa Syawal dahulu, baru berpuasa qadha jika ada puasa Ramadhan yang batal atau terlewatkan.
Karena, puasa Qadha puasa Ramadhan, punya tenggang waktu yang panjang sampai bulan Ramadhan mendatang.
3. Orang yang berpuasa di bulan Syawwal 6 hari yang berarti dia berpuasa sepanjang setahun, maka dia memperoleh QR code pembuka “Pintu Rayyaan” nya surga Al Firdaus Al A’laa,
Yaitu, pintu istimewa yang hanya dilewati oleh orang orang yang berpuasa ikhlas ibadah pada Allaah SWT.
Rasuulullaah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ. رواه مسلم.
“Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu dia ikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia dinilai berpuasa sepanjang tahun.” (Hadits Sahih Riwayah Al Imam Muslim, no. 1164)
4. Puasa adalah pelindung kita dari siksa dan murka Allaah.
Rasuulullaah SAW bersabda:
أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ
“Maukah kutunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai”. (Hadits Sahih Riwayah Al Imam
At Tirmidzi dan Abu Daud )
5. Orang yang rajin berpuasa, doa nya akan selalu dikabulkan Allaah SWT;
Rasuulullaah SWT bersabda dalam hadits Qudsi ;
وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ.
( رواه اليخارى )
“Allaah berfirman:
Dan jika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan Sunnah, maka Aku tambah mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang.
Selanjutnya memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.
Dan jika ia berdoa memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya,
dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan Melindunginya.”
(HR. Bukhari no. 2506)
6. Itulah di antara keistimewaan orang yang melakukan amalan Sunnah. Dia akan mendapatkan Rahmat, kasih sayang Allaah SWT, dan Allaah akan memberi hidayah, bimbingan dan pertolongan pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya.
Allaah juga akan memberikan keistimewaan dengan mustajab dan terkabulkan do’a doa nya”. (Kitab Faedah dari Fathul Qowiyyul Matiin, Al Imam Abdul Muhsin Bin Hamd
Al Abad)
7. Orang yang rajin berpuasa akan lebih sehat. Ada puasa setiap tahun, setiap bulan dan ada puasa setiap pekan. Di bulan Syawal, kita dapat menunaikan puasa enam hari Syawal, inilah puasa penggenap puasa tahunan Ramadhan.
Ada pula puasa setiap bulan Hijriyah, yaitu berpuasa tiga hari berturut turut, pada “Ayyaamul Biiidh”, yaitu di tanggal 13, 14, dan 15. Inilah puasa bulanan.
Kalimat “Ayyaamul Biidh” artinya “Hari hari Pemutihan”, yaitu puasa setiap tengah bulan Hijriyah untuk memutihkan, menjernihkan atau membersihkan pikiran, pendengaran, hati, jiwa dan jasad. Kita juga disunnahkan berpuasa Senin-Kamis. Inilah puasa setiap pekan.
8. Cara puasa 6 hari di bulan Syawal ;
Al Imam Ibrahim Al-Baijuri menuturkan
“Yang lebih afdal, adalah puasa 6 hari Syawal dilakukan “muttashil”, langsung sehari setelah Shalat Idul Fitri atau 2 Syawal langsung mulai Puasa Syawal, dan juga afdalnya dilakukan “mutataabi’ah”, yaitu berturut-turut selama 6 hari, walaupun jika puasa tersebut dilakukan tidak dari 2 Syawal tidak Muttashil, juga tidak dilakukan berturut-turut, tidak Mutataabi’ah, tetap sah dan dapat ganjaran puasa setahun.
Termasuk juga tetap dapat ganjaran puasa Syawal walau tidak berpuasa Ramadhan, misalnya karena di Ramadhan punya udzur sakit, hal ini dikatakan oleh ulama Muta’akhiriin.
(Kitab Haasyiyah Asy-Syaikh Ibrahim Al-Baijuri).
9. Puasa 6 hari di bulan Syawal tidak mesti dimulai dari 2 Syawal. Dengan pertimbangan hari pertama dan kedua atau ketiga Syawal masih padat dengan acara Silatur Rahim, kunjung mengunjungi yang biasanya oleh tuan rumah menyiapkan makanan. Maka boleh mulai berpuasa Syawal setelah beberapa hari berlebaran, dan boleh juga tidak langsung 6 hari tapi selang seling, yang penting puasanya yang 6 hari itu, dilaksanakan selama masih di dalam bulan Syawal.
Penutup:
Mari kita berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:
“Yaa Allaah bimbinglah kami untuk selalu eling mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu”
اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
(Allaahumma a’innaa ‘alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni ‘ibaadatiKa).