INTEGRITAS KEPEMIMPINAN BUGIS MAKASSAR

0
219
- Advertisement -

Dari Legasi Sejarah hingga Harapan “The Next J.K

Kolom Muslimin Mawi
Aktivis dan Pemerhati Organisasi

Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), sebagai organisasi kemasyarakatan (ORMAS), berbasis kedaerahan yang berfokus pada penguatan sosial budaya, ekonomi dan pendidikan, bertumpu pada kualitas manusia yang menggerakkannya. Warga adalah tulang punggung kerukunan, namun sejarah membuktikan bahwa organisasi besar tidak digerakkan oleh jumlah semata, melainkan oleh mutu kepemimpinan. Dalam konteks inilah, kehadiran tokoh berintegritas menjadi syarat mutlak, bukan sekadar pelengkap struktur.

Dalam pandangan Bugis Makassar, kepemimpinan tidak pernah dipahami hanya sebagai jabatan administratif. Ia adalah amanah moral, yang bertumpu pada falsafah Eppa Sulapa – sebuah bangunan etika kepemimpinan yang menggambarkan kesempurnaan karakter manusia. Dalam pengertian yang lebih mendalam, Eppa Sulapa terdiri atas empat unsur inti yang menopang kelayakan moral seorang pemimpin, serta dua unsur pendukung yang memperkuat daya tahan kepemimpinannya.

Empat Unsur Inti Eppa Sulapa
Pertama, Amaccang (Kecerdasan yang berwujud kearifan).

Dalam Lontara’, amaccang bukan sekadar kecakapan intelektual, melainkan kemampuan membaca sebab dan akibat, awal dan akhir sebuah keputusan. Pemimpin yang acca tidak tergesa, tidak reaktif dan tidak terjebak pada kepentingan sesaat.

Kedua, Alempureng (Kejujuran dan integritas moral).

Alempureng menuntut kesatuan antara pikiran, ucapan dan tindakan. Dalam budaya Bugis Makassar, kejujuran bukan pilihan etis, melainkan syarat legitimasi kepemimpinan. Pemimpin yang kehilangan alempureng sejatinya telah kehilangan siri’-nya.

Ketiga, Awaraningeng (Keberanian moral).
Keberanian dalam perspektif Bugis Makassar bukanlah keberanian fisik semata, melainkan keberanian menanggung risiko demi kebenaran. Awaraningeng menuntut pemimpin untuk berdiri tegak ketika keputusan benar justru tidak populer.

Keempat, Agattengeng (Keteguhan dan konsistensi).

Tanpa keteguhan, kecerdasan berubah menjadi kelicikan dan keberanian berubah menjadi kenekatan. Agattengeng adalah penyangga siri’, yang menjaga pemimpin agar tidak goyah oleh tekanan kekuasaan dan kepentingan.

Keempat unsur inilah yang menjadi fondasi etis kepemimpinan Bugis Makassar, yang dalam sejarah Republik Indonesia telah mewujud nyata dalam diri para tokohnya.

B.J. Habibie: Amaccang dan Alempureng dalam Kepemimpinan Intelektual.
Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ketiga Republik Indonesia, merupakan manifestasi amaccang dalam makna paling hakiki. Sebagai ilmuwan kelas dunia di bidang teknologi dirgantara, Habibie membawa rasionalitas, etika ilmu pengetahuan dan keberanian moral ke dalam tata kelola negara. Di tengah krisis multidimensi tahun 1998, ia membuka jalan reformasi melalui kebijakan demokratis, kebebasan pers, pemilu yang jujur, serta restrukturisasi kelembagaan negara.

Dalam pappaseng Bugis disebutkan:
“Acca’na to marajae, naisseng riolo napoleang”

kecerdasan pemimpin terletak pada kemampuannya membaca awal dan akhir suatu perkara. Habibie membuktikan bahwa amaccang yang berpadu dengan alempureng mampu melahirkan keputusan besar, meski berisiko secara politik.

H. M. Jusuf Kalla, Alempureng, Awaraningeng dan Kepemimpinan Praksis

H. M. Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, menampilkan perpaduan alempureng, awaraningeng dan agattengeng dalam bentuk kepemimpinan praksis. Kiprahnya sebagai arsitek perdamaian di Maluku dan Aceh menegaskan bahwa keberanian moral sering kali lebih menentukan daripada kekuatan formal.

Dalam bidang ekonomi dan sosial, kepemimpinannya lugas, cepat dan berorientasi solusi. Ia merepresentasikan falsafah taro ada taro gau -kesatuan antara kata dan perbuatan. Inilah kepemimpinan Bugis Makassar yang tidak gemar retorika, tetapi bekerja dalam senyap dan menghasilkan dampak nyata.

Jenderal TNI M. Jusuf, Agattengeng dan Keteladanan Negara

Jenderal TNI M. Jusuf, Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan Menteri Pertahanan dan Keamanan, merupakan simbol agattengeng dan sipakatau dalam institusi militer. Ia menempatkan disiplin, profesionalisme dan penghormatan terhadap rakyat sebagai prinsip utama.

Dalam Lontara’, keteguhan sikap dipandang sebagai penjaga siri’. Keteladanan Jenderal M. Jusuf menunjukkan bahwa kekuatan sejati negara lahir dari pengendalian diri dan kesetiaan pada amanah, bukan dari dominasi kekuasaan.

Dua Unsur Pendukung Kepemimpinan
Selain empat unsur inti, kepemimpinan Bugis Makassar juga ditopang oleh dua unsur pendukung penting.

Pertama, kemampuan material
yakni kemandirian ekonomi yang menjaga pemimpin dari ketergantungan dan kompromi moral. Dalam tradisi Bugis Makassar, pemimpin yang tidak bergantung secara material akan lebih bebas menjaga siri’ dan integritas keputusan.

Kedua, Mappasendre ri Elo Ullena Puangnge menyandarkan ikhtiar kepemimpinan pada kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Unsur spiritual ini menegaskan bahwa kekuasaan bukan hak mutlak, melainkan titipan, yang kelak harus dipertanggungjawabkan.

Andi Amran Sulaiman, Figur Masa Kini dan Kepemimpinan Masa Depan

Dalam konteks kekinian, Andi Amran Sulaiman kerap disebut sebagai The Next J.K. – bukan sebagai peniru figur, melainkan sebagai penerus nilai kepemimpinan Bugis Makassar. Sebagai Menteri Pertanian Republik Indonesia dan Kepala Badan Pangan Nasional (BAPANAS), Ia berada di jantung persoalan strategis bangsa, pangan.

Kepemimpinannya memperlihatkan konfigurasi Eppa Sulapa yang relatif utuh. Amaccang tampak dalam pendekatan teknokratis berbasis data dan sistem. Alempureng tercermin dalam keberanian menertibkan tata niaga pangan.

Awaraningeng terlihat dalam kesediaan menghadapi tekanan kepentingan besar. Agattengeng tampak dalam konsistensi kebijakan di tengah dinamika politik.

Ditopang oleh kemandirian material dan kesadaran spiritual, Andi Amran menampilkan kepemimpinan kerja yang mempraktikkan sipakatau, memanusiakan petani sebagai subjek pembangunan. Inilah alasan mengapa ia dipandang sebagai figur kepemimpinan masa depan, bukan karena popularitas, melainkan karena kesesuaian nilai dengan tantangan zaman.

Penutup
Kepemimpinan Bugis Makassar bukan romantisme masa lalu, melainkan sistem nilai yang terbukti adaptif lintas zaman. Eppa Sulapa – dengan empat unsur inti dan dua unsur pendukung – adalah kompas etik bagi KKSS dan bangsa Indonesia dalam menilai, menyiapkan dan menjaga kepemimpinan masa depan.

Dalam kerangka itulah, Andi Amran Sulaiman berdiri bukan sekadar sebagai tokoh hari ini, melainkan sebagai kemungkinan sejarah esok hari, jika integritas terus dijaga dan amanah tetap diletakkan di atas segalanya.

Eramas 2000, 03 Januari 2026
Penulis, Aktivis dan Pemerh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here