Jangan Biarkan Lebaran Menghapus Manfaat Puasa

0
38
- Advertisement -

Spesialis Gizi Klinik Ingatkan Risiko Metabolik Pasca-Ramadhan dan Cara Mengatasinya

PINISI.co.id- Menjelang Idul Fitri, masyarakat diingatkan untuk tetap menjaga pola makan dan kesehatan agar manfaat puasa selama Ramadhan tidak hilang akibat pola konsumsi berlebihan saat Lebaran. Pesan ini mengemuka dalam Seri Webinar Kesehatan Ramadhan 1447 H bertajuk “Mitigasi Risiko Metabolik Pasca-Ramadhan: Kiat Tetap Sehat Selama Mudik Lebaran” yang digelar secara daring pada Jumat (13/3/2026).

Webinar yang berlangsung melalui Zoom pukul 15.30–17.30 WIB ini diselenggarakan oleh Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI) bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI), Kibicare, serta sejumlah mitra kesehatan lainnya. Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan menjadi forum edukasi penting bagi masyarakat menjelang hari raya.

Ketua HIFDI, Zaenal Abidin, membuka webinar dengan menekankan pentingnya menjaga keseimbangan kesehatan selama dan setelah Ramadhan. Webinar menghadirkan dua narasumber utama, yakni Prasetyo Widhi Buwono, anggota Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup PP DMI sekaligus Wakil Ketua PP HIFDI, serta Tirta Prawita Sari, dokter spesialis gizi klinik yang berpraktik di RS Pondok Indah Jakarta dan RS Bunda Margonda Depok serta dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Diskusi juga mendapat tanggapan dari Ketua Umum Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Ardiansyah Bahar dan Ketua Umum Perhimpunan Dokter Manajemen Kesehatan Indonesia (PDMI) M. Saptadji, dengan moderasi Fathur Rahman Sadil.

Satu Piring Lebaran Setara Kebutuhan Kalori Harian

Dalam pemaparannya, dr. Tirta mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai kandungan gizi hidangan khas Lebaran. Menurutnya, satu porsi makanan yang terdiri dari ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng ati, dan kue nastar dapat mencapai sekitar 1.390 kilokalori, hampir setara dengan kebutuhan energi harian sebagian orang dewasa.

Lebih dari 60 persen kalori dalam menu tersebut berasal dari lemak jenuh santan, sementara kandungan sodiumnya mencapai sekitar 2.035 mg, mendekati batas konsumsi harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia, yaitu 2.000 mg. Sebaliknya, kandungan seratnya hanya sekitar 5 gram, jauh di bawah kebutuhan harian yang berkisar 25–30 gram.

“Satu porsi makan Lebaran itu seperti menekan semua tombol bahaya sekaligus—gula, lemak, garam, dan asam urat—dalam satu waktu. Itulah yang membuat risiko metaboliknya sangat nyata, terutama bagi mereka yang sudah memiliki kondisi kesehatan tertentu,” jelas dr. Tirta.

Ia menambahkan bahwa makanan seperti ketupat dan lontong memiliki indeks glikemik tinggi sehingga memicu lonjakan gula darah dengan cepat. Lemak jenuh dari santan dapat mengganggu kerja insulin, sementara sodium tinggi berpotensi menaikkan tekanan darah secara mendadak.

Kelompok Rentan Perlu Waspada
Menurut dr. Tirta, kelompok yang paling rentan mengalami gangguan metabolik pasca-Lebaran adalah penderita diabetes, hipertensi, asam urat, serta pasien penyakit ginjal kronis.

Pada penderita diabetes atau prediabetes, kadar gula darah dapat melampaui 200 mg/dL dalam waktu 60–90 menit setelah makan. Penderita hipertensi juga berisiko mengalami kenaikan tekanan darah sistolik sekitar 5–10 mmHg dalam beberapa jam akibat tingginya asupan sodium.

Sementara itu, konsumsi jeroan dalam sambal goreng ati dapat memicu serangan asam urat akut, terutama bila disertai kurang minum air putih.

Meski demikian, dr. Tirta menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menghindari makanan Lebaran sepenuhnya. Ia menyarankan lima langkah sederhana berbasis bukti ilmiah untuk menekan risiko kesehatan.

Pertama, memodifikasi cara memasak, misalnya mengganti sebagian santan kental dengan santan encer atau susu rendah lemak, serta membuang kulit ayam sebelum dimasak.

Kedua, mengonsumsi serat terlebih dahulu sebelum makan besar, seperti sayuran atau setengah buah alpukat, untuk memperlambat penyerapan gula dan lemak.

Ketiga, berjalan kaki selama 15–30 menit setelah makan. Aktivitas ringan ini terbukti mampu menurunkan lonjakan gula darah pasca-makan.

Keempat, memperbanyak minum air putih, sekitar 8–10 gelas per hari, untuk membantu ginjal membuang sodium dan asam urat berlebih.

Kelima, memanfaatkan rempah alami seperti kunyit dan jahe dalam masakan yang memiliki efek antiinflamasi.

“Tidak perlu diet ketat atau berhenti menikmati hidangan Lebaran. Modifikasi kecil pada cara memasak, makan sayur lebih dulu, bergerak setelah makan, dan minum air putih cukup sudah mampu menekan risiko secara bermakna,” ujarnya.

Persiapan Mudik Sehat

Sementara itu, dr. Prasetyo Widhi Buwono menyoroti pentingnya kesiapan fisik sebelum melakukan perjalanan mudik. Ia mengingatkan bahwa banyak orang hanya menyiapkan kendaraan tanpa memperhatikan kondisi tubuh.
Ia menyarankan lima langkah utama sebelum mudik, yakni menjaga kondisi fisik dengan istirahat cukup, melakukan pemeriksaan kesehatan terutama bagi penderita penyakit kronis, menyiapkan kotak P3K, membawa bekal makanan bergizi, serta beristirahat secara berkala selama perjalanan.

Dr. Prasetyo juga menekankan peran masjid dalam mendukung kesehatan jamaah. Melalui kerja sama dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama, DMI mengadakan skrining tekanan darah dan gula darah bagi jamaah yang akan mudik, biasanya dilakukan setelah shalat tarawih.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah. Kami ingin masjid menjadi pusat kesehatan jamaah. Dengan skrining sederhana di masjid, kasus hipertensi dan diabetes yang sebelumnya tidak terdeteksi bisa ditangani sebelum menjadi komplikasi serius,” ujarnya.

Webinar ini mendapat sambutan antusias dari peserta yang aktif mengajukan berbagai pertanyaan terkait kondisi kesehatan mereka. Para penanggap menilai edukasi kesehatan menjelang Lebaran sangat penting agar masyarakat tidak mengalami gangguan kesehatan setelah Ramadhan.

HIFDI berencana melanjutkan program edukasi kesehatan serupa sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat di seluruh Indonesia. Peserta webinar juga memperoleh e-sertifikat sebagai bukti keikutsertaan. (Man)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here