Jangan Jadi Pemarah dan Sikap Toleran Nabi Muhammad SAW

0
135
- Advertisement -

Hikmah Abdul Hamid Husain

Senyum pangkal sehat, marah pangkal sakit. Pepatah ini relevan dalam segala musim.

Maka, jika ingin menjadi warga surga Alfirdaus, jangan suka marah marah, apa lagi mencaci, nyinyir, memfitnah, namiimah dan ghiibah.

Rasuulullaah SAW kerap kali mengingatkan agar jangan marah marah:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تغضب ولك الجنة.
(صحيح الجامع ٧٣٧٤)

“Jangan marah marah, maka surgalah untukmu”. (Hadits Sahih Al-Jami’ No. 7374).

Marah adalah sumber penyakit. Karena itu Nabi Muhammad SAW selalu menghindari marah.

Inilah kisah nyata. Saat kebaktian tiba, beberapa orang Nasrani dari daerah Najran langsung berdiri menghadap ke Timur dan melakukan kebaktian di masjid yang bangunannya masih sangat sederhana kala itu. Kebaktian di masjid ?

Para sahabat Rasuulullaah SAW kaget, marah dan keheranan melihat pemandangan ini. Seketika mereka bangkit mau mencegah, Rasuulullaah SAW serta merta melarang; “Biarkanlah mereka”.

Sabda Rasul ini membuat para sahabat bertanya tanya penuh keheranan.
Mereka tidak membayangkan bahwa Rasuulullaah SAW bersikap lunak seperti itu. Tapi mereka tidak berani membantah karena mereka beriman bahwa sabda Rasuulullaah SAW adalah wahyu dari Allaah SWT.

Kisah ini, menunjukan betapa halus dan tolerannya Rasuulullaah Muhammad SAW.

Beliau tidak marah marah, tidak pula mencaci maki. Bahkan selalu mengajak dengan cara yang santun dan lembut.

Jikapun berbeda pendapat, beliau menjelaskan dan membantah dengan cara dan ungkapan kata-kata yang lembut, dengan cara yang terbaik.

Rasuulullaah SAW berpegang pada perintah Allaah SWT ;
ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة.

“Berdakwahlah ke jalan Tuhanmu dengan cara yang penuh hikmah, bijak, dan dengan nasehat yang indah”
(QS An Nahal, surah ke16, ayat 125, halaman 281 ).

ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك ، فاعف عنهم.
سورة ال عمران ٣ الاية ١٥٩
“Jikalah Engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkan mereka”
(QS Aali Imraan, surah ke 3, ayat 159, halaman 71).

Di lain ayat Allaah SWT menegaskan;
وما ارسلناك الا رحمة للعالمين
“Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk Rahmat Sumber kasih sayang bagi semesta alam”
(QS Al-Anbiyaa, surah ke 21 ayat 107, halaman 331).

Adapun telah terjadi peperangan di masa kenabian, disebabkan oleh karena beladiri, tolak aniaya dan memberantasan kemusyrikan, atau karena mereka inkari perjanjian dan kesepakatan atau ancaman dan penganiayaan yang dialami saat berdakwah.

Fakta sejarah menunjukan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki mertua yang beragama Yahudi. Nama mertua Nabi itu adalah Huyai Bin Akhtab Al-Nadhari dan putrinya bernama Shafiyah. Setelah Shafiyah memeluk Islam Nabi Muhammad SAW menikahi Shafiyah, kemudian dijuluki Ummul Mukminiin atau Ibu Orang orang Yang Beriman.

Sekalipun mertua Nabi tetap setia dengan keyakinannya, Nabi Muhammad SAW tidak pernah memeranginya karena alasan beda agama.

Dalam hadits riwayah ‘Aisyah RA dijelaskan, bahwa Rasuulullaah SAW pernah menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ gandum.

Sejarah menyebutkan, bahwa Rasuulullaah SWT tidak sempat menembus gadaian itu sampai beliau wafat.

Berdasarkan riwayat ini, kita simpulkan bahwa Rasuulullaah SAW semasa hidupnya berinteraksi dengan siapapun, termasuk yang non-Muslim.

Sekalipun beliau ditugaskan untuk menyebarkan misi agama, namun tidak pernah ditemukan fakta dakwah agama disampaikan dengan, ancaman, paksaan dan kekerasan.

Rasuulullaah SAW selalu memberi tauladan dan kearifan dalam menyikapi perbedaan agama. Beliau adalah Maha Guru toleransi. Ia tidak hanya berbicara dalam tataran wacana, tapi mempraktekkannya.

Dalam sejarah, tercatat dengan tinta emas, bahwa kebanyakan yang memilih masuk Islam bukan karena hunusan pedang, bukan pula karena merasa terancam dan terpaksa, tetapi lebih pada kesadaran dan taajub menyaksikan dan merasakan indahnya etika, moral dan kearifan yang ada pada Syariah Islam dan apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Menghormati dan menghargai perbedaan tidaklah mudah. Setiap orang pasti memiliki ego, ambisi, dan kecenderungan untuk mengajak orang agar ikut dengan keyakinan dan pikirannya. Setiap pemeluknya, mempunyai emosi kebanggaan dan keberpihakan pada Agamanya.

Oleh karena itu, ego dan sikap ambisius itu perlu dinetralisir, diminimalisir dengan meneladani Rasuulullaah SAW bagaimana menyikapi perbedaan beragama agar Islam tetap menjadi sumber kasih sayang, cinta sesama makhluk Tuhan, dan menjaga keselamatan dan kedamaian bersama.

Satu hal yang harus diyakini ;
كما تدين تدان
“Engkau akan diperlakukan seperti Engkau memperlakukan”.
Jika enkau mencaci, engkau pun akan dicaci.
Jika engkau menghina, engkapun akan dihina.
Jika Engkau kasar, engkaupun akan dikasari.
Jika engkau menyayangi, engkaupun akan disayangi.

Catatan
1. Bagaimana caranya agar hati ini lembut, ramah tidak suka marah marah ?
Rasuulullaah SAW memberi tips ampuh sbb: perbanyak sedekah, perbanyak senyum,sering mengusap kepala anak yatim dan anak anak keluarga yang tak berpunya.

Rasuulullaah SAW bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ اذا اردت ان يلين قلبك:
– فاطعم المسكين
– وامسح راس اليتيم.
(صحيح الجامع ١٤١٠)

Maknanya:
“Jika engkau ingin hatimu lembut, maka sering seringlah memberi makan orang orang miskin, dan mengusap kepala anak yatim”.(Hadis Sahih Al-Jaami’ No.1410).

Rutin berpuasa. Puasa Senin-Kamis, puasa setiap pekan, puasa Ayyaamul Biidh, puasa bulanan, puasa Ramadhan, puasa tahunan.

Penutup:
Mari kita berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Rasuulullaah SAW ini:
“Yaa Allaah bimbinglah kami untuk selalu eling mengingat Mu yaa Allaah, bersyukur dan beribadah dengan sebaik baiknya kepada Mu”
اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
(Allaahumma a’innaa ‘alaa dzikriKa, wa syukriKa, wa husni ‘ibaadatiKa).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here