Kembali ke Khitah: Indonesia dan Jalan Non-Blok di Tengah Kegagalan Perundingan AS – Iran

0
78
- Advertisement -

Kolom Muchlis Patahna                  Pemerhati sosial politik dan kemasyarakatan 

Kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menunjukkan satu hal mendasar dalam politik global, bahwa kepentingan strategis seringkali lebih dominan daripada komitmen perdamaian. Di tengah tarik-menarik kekuatan besar itu, dunia kembali dihadapkan pada ketidakpastian, mulai dari ancaman konflik terbuka hingga dampak ekonomi global seperti lonjakan harga energi.

Dunia hari ini seperti gelanggang lama yang diperbarui; kekuatan besar saling menguji, saling mengunci, dan saling mencurigai. Perdamaian tidak lagi menjadi tujuan utama, melainkan sekadar jeda di antara ketegangan.

Di tengah situasi seperti ini, pertanyaannya sederhana, Indonesia berdiri di mana? Apakah kita ikut larut dalam arus besar itu diam, berhitung, dan menunggu arah angin? Ataukah kita kembali meneguhkan diri pada jalan yang pernah kita pilih dengan sadar yaitu jalan tengah.

Sejarah kita sesungguhnya tidak lahir dari keberpihakan, tetapi dari keberanian untuk tidak berpihak. Soekarno tidak membawa Indonesia ke panggung dunia untuk menjadi pengikut. Ia menempatkan Indonesia sebagai suara yang merdeka, suara yang tidak tunduk pada blok mana pun.

Di Konferensi Asia-Afrika, Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah. Kita menjadi penentu arah. Kita mengajarkan bahwa dunia tidak harus dibelah menjadi dua kutub yang saling meniadakan.

Dari sanalah lahir Gerakan Non-Blok, sebuah sikap politik yang sering disalahpahami sebagai netralitas. Padahal, Non-Blok bukan sikap netral yang pasif. Ia adalah keberpihakan yang lebih tinggi: berpihak pada kemerdekaan, keadilan, dan perdamaian.

Namun hari ini, kita seperti berjalan tanpa kompas. Kita berhati-hati, tetapi kadang kehilangan arah. Kita ingin bersahabat dengan semua pihak, tetapi sering lupa bagaimana menjaga jarak yang bermartabat.

Kegagalan dialog AS–Iran seharusnya menjadi pengingat: dunia sedang bergerak menuju ketegangan baru. Polarisasi bukan lagi ancaman, tetapi kenyataan.

Dalam situasi seperti itu, Indonesia tidak cukup hanya “tidak ikut campur.” Kita harus kembali pada khitah: bebas dan aktif. Bebas, artinya tidak terikat oleh kepentingan kekuatan mana pun.
Aktif, artinya tidak diam ketika dunia bergerak menuju konflik.

Indonesia memiliki posisi unik. Kita bukan negara kecil yang harus memilih untuk bertahan. Kita juga bukan kekuatan besar yang harus mendominasi. Kita adalah penyeimbang, jika kita mau.

Di forum seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, suara Indonesia bisa menjadi jembatan. Di kawasan, Indonesia bisa menjadi peneduh. Tetapi semua itu hanya mungkin jika kita kembali percaya pada diri sendiri: bahwa kita tidak perlu menjadi bagian dari blok mana pun untuk dihormati.

Ada satu pelajaran lama yang sering terlupakan, bahwa kekuatan tidak selalu lahir dari keberpihakan, tetapi dari kemampuan menjaga jarak.
Dan jarak itu, dalam politik global, adalah martabat.

Maka kembali ke Non-Blok bukan nostalgia. Ia adalah kebutuhan.
Bukan langkah mundur, tetapi langkah untuk tetap tegak di tengah dunia yang semakin condong.

Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang ikut arus, tetapi bangsa yang mampu menentukan arusnya sendiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here