PINISI.co.id- Terkait pelaksanaan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI di Makassar pada 25-26 Maret nanti, Ketua BPW KKSS Papua, H. Mansur, menilai PSBM menjadi momen penting untuk memperkuat jaringan ekonomi warga Sulawesi Selatan di rantau.
Hal tersebut disampaikan Mansur dalam pandangannya terkait tema PSBM tahun ini, “Saudagar Tangguh, Ekonomi Tumbuh.” Menurutnya, setelah lebih dari tiga dekade digelar, PSBM perlu terus menghadirkan terobosan agar mampu memperkuat kolaborasi ekonomi para pengusaha Bugis-Makassar di berbagai daerah bahkan di mancanegara.
Mansur mengingatkan bahwa PSBM telah memasuki 26 kali pertemuan, kecuali pada masa pandemi COVID-19. Karena itu, forum ini perlu terus mengalami perkembangan agar tetap relevan sebagai ruang berbagi pengalaman dan peluang usaha di antara para saudagar diaspora.
Ia juga mengapresiasi gagasan awal penyelenggaraan PSBM yang dipelopori oleh sejumlah tokoh Bugis-Makassar seperti Jusuf Kalla, Aksa Mahmud, serta almarhum Alwi Hamu bersama tokoh KKSS lainnya.
“PSBM seharusnya menjadi wadah strategis untuk berbagi informasi dan memperkuat jejaring para entrepreneur warga KKSS yang tersebar di berbagai daerah bahkan di seluruh dunia,” ujar Mansur kepada PINISI.co.id, Kamis (12/3).
Selain itu, Mansur menegaskan peran Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan sebagai rumah besar bagi masyarakat asal Sulawesi Selatan di perantauan. Menurutnya, organisasi ini memiliki peran penting dalam memediasi dan mengonsolidasikan potensi ekonomi warganya.
Namun jujur ia mengakui, menyatukan potensi tersebut bukan hal mudah karena latar belakang profesi, skala usaha, dan tingkat perkembangan bisnis para anggota yang berbeda-beda.
“KKSS perlu terus membangun konsolidasi sehingga seluruh potensi pengusaha Bugis-Makassar bisa terhubung dan saling menguatkan,” katanya.
Lebih jauh, Mansur menilai penyelenggaraan PSBM yang selalu berlangsung di Sulawesi Selatan memiliki makna tersendiri bagi para perantau. Forum ini tidak hanya menjadi ajang bisnis, tetapi juga momentum “pulang kampung” untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan sesama warga KKSS.
Ia berharap pemerintah daerah di Sulawesi Selatan dapat memanfaatkan momentum tersebut dengan memberikan dukungan nyata bagi iklim investasi. Beberapa sektor yang dinilai memiliki potensi besar antara lain pariwisata, peternakan, serta berbagai sektor ekonomi lokal lainnya.
Namun Mansur juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih perlu dibenahi, seperti kemudahan berusaha, birokrasi, serta persoalan keamanan di beberapa daerah, termasuk kasus pencurian ternak yang masih cukup tinggi.
“Hal-hal ini penting dibenahi agar warga KKSS yang datang ke Sulawesi Selatan tidak hanya bersilaturahmi, tetapi juga tertarik menanamkan investasi di kampung halamannya,” ujarnya.
Mansur optimistis jika berbagai kendala tersebut dapat diatasi, maka PSBM tidak hanya menjadi forum silaturahmi, tetapi juga motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang menghubungkan diaspora Bugis-Makassar dengan potensi pembangunan di daerah asalnya. (Lif)













