LIMA AMALAN SUKSES H. ANDI AMRAN SULAIMAN

0
69
- Advertisement -

Jalan Sunyi Menuju Rezeki yang Dimudahkan

Kolom Muslimin Mawi

Dalam sejarah panjang bangsa ini, figur-figur perubahan tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari relung-relung kesederhanaan. Mereka tumbuh dari tanah luka, dari masa-masa sulit, dari kefakiran yang membentuk karakter, serta dari perjalanan panjang yang pernah membuat mereka hampir menyerah.

Di antara tokoh itu, berdirilah sosok yang hari ini menjadi inspirasi banyak orang: H. Andi Amran Sulaiman, “anak Bugis” dari Sulawesi Selatan yang kini menjadi pejabat negara dan pengusaha nasional, namun tetap membawa hati sederhana yang tak pernah berubah, hati yang percaya bahwa rezeki adalah amanah, bukan milik pribadi.

Keberhasilannya membawa Indonesia menuju swasembada beras, sebuah capaian monumental yang mengangkat martabat bangsa, tidak lahir dari kebetulan. Ia tumbuh dari lima amalan yang menjadi napas hidupnya.

Lima amalan ini bukan sekadar petuah, ia adalah spiritualitas kerja, etika kepemimpinan dan filsafat rezeki yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari.

1. Jangan Sombong
Ketika Kekuasaan dan Kekayaan Tidak Pernah Mampu Mengalahkan Kerendahan Hati.

Dalam perspektif ilmu kepemimpinan modern, kesombongan adalah musuh terbesar keberlanjutan (sustainability). Namun bagi Andi Amran Sulaiman, kerendahan hati bukan sekadar teori, itu adalah napas yang menghidupinya.

Ia pernah berkata bahwa Tuhan dapat mengangkat seseorang dalam satu hari dan menjatuhkannya dalam hitungan detik. Cara berpikir ini membentuk etika hidupnya, jabatan bukan puncak, harta bukan tujuan dan kesombongan adalah awal kejatuhan.

Ketika banyak pejabat menjaga jarak dari rakyat, Amran tetap membumi. Ketika banyak orang tenggelam dalam pujian, ia memilih menyembunyikan luka-luka lama yang membentuknya, agar tidak lupa dari mana ia berasal.

Inilah amalan pertama yang menjadikan rezekinya mengalir tanpa henti,
ketika seseorang menundukkan kepala, langit meninggikan derajatnya.

2. Jangan Lupakan Masa Susah.        Karena Masa Lapar adalah Guru yang Tidak Pernah Berdusta

Setiap keberhasilan memiliki asal-usulnya. Bagi Andi Amran, masa susah adalah “universitas kehidupan” yang tidak pernah ditulis dalam ijazah, tetapi menjadi fondasi paling kokoh dalam perjalanan panjangnya.

Ia mengingat masa saat ia tidak memiliki apa-apa, masa ketika rekening kosong, masa ketika makan sederhana sudah terasa seperti perayaan. Masa itu, meski pahit, menjadi penjaga kewarasan ketika kelimpahan datang.

Dalam literatur psikologi modern, disebutkan bahwa ingatan terhadap “masa kekurangan” adalah mekanisme yang menjaga seseorang tetap rendah hati dan terhindar dari ilusi superioritas.

Andi Amran menjadikan masa susahnya sebagai pengingat abadi, bahwa kekuatan sejati bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada apa yang pernah mampu dilewati.

3. Jangan Berhenti Berbuat Baik
Karena Rezeki yang Tak Dibagikan Akan Membusuk

Bagi Andi Amran Sulaiman, rezeki bukan tujuan, ia adalah tanggung jawab.
Berkali-kali ia mengulang bahwa rezeki yang tidak dibagikan akan membusuk, tetapi rezeki yang disebarkan akan tumbuh berlipat-lipat.

Dalam banyak kesempatan, ia membantu pesantren, beasiswa, anak yatim, kegiatan sosial dan gerakan ekonomi rakyat. Namun jarang sekali ia menuliskannya. Baginya, kebaikan yang dipamerkan kehilangan berkahnya.

Sosiologi memberi istilah untuk ini “kapital sosial”, sementara agama menyebutnya berkah. Keduanya bertemu dalam satu nilai universal, kebaikan adalah investasi yang tak pernah merugi.

Inilah magnet yang mempercepat rezekinya, ia tidak hanya membuka tangan untuk menerima, tetapi juga untuk memberi.

4. Jangan Berhenti Belajar
Karena Orang Kaya yang Berhenti Belajar adalah Orang Miskin yang Menunggu Jatuh

Di balik ketegasannya sebagai Menteri Pertanian sekaligus Kepala BAPANAS dan ketangkasannya sebagai pengusaha besar, tersembunyi kebiasaan yang tidak pernah berubah, membaca, mendengar dan belajar.

Ia berdiri di pertemuan-pertemuan internasional tidak hanya sebagai pejabat negara, tetapi sebagai intelektual yang paham data, paham dunia dan paham arah masa depan.

Dalam teori manajemen modern, belajar berkelanjutan (lifelong learning) adalah kunci mempertahankan keunggulan kompetitif.

Andi Amran menerjemahkan teori itu dalam bahasa yang lebih sederhana,
“Orang kaya yang berhenti belajar adalah orang miskin yang sedang menunggu jatuh”. Belajar adalah fondasi transformasi.
Belajar membuatnya tidak hanya berhasil, tetapi bertahan.

5. Jangan Lupa Bersyukur
Sebab Syukur Adalah Magnet Rezeki Terbesar

Sebanyak apa pun kerja keras manusia, sebanyak apa pun rencana dan strategi yang disusun, keberhasilan tetap menyimpan ruang yang tidak bisa dijelaskan kecuali sebagai pertolongan Tuhan.

Bersyukur menjadikan hati lapang, pikiran jernih dan langkah ringan. Syukur adalah ilmu ketenangan, amalan yang memperluas ruang rezeki, sekaligus benteng dari keangkuhan.

Dan Andi Amran menghayati syukur bukan dengan kata-kata, tetapi dengan sikap hidup yang tidak berubah meski jabatan naik, meski kekayaan bertambah.

Dalam ilmu psikologi spiritual, syukur adalah energi yang memperkuat optimisme dan mendorong produktivitas.
Dalam kehidupan Andi Amran, syukur adalah mata air yang mengaliri seluruh perjalanan panjangnya.

Penutup
Ketika Lima Amalan Menjadi Jalan Rezeki dan Jalan Pengabdian

Dari semua perjalanan panjang itu, dari masa susah hingga puncak jabatan negara, kita belajar satu hal: bahwa kesuksesan bukan hanya tentang kecerdasan atau kekuatan, tetapi tentang karakter dan sikap batin yang konsisten.

Lima amalan H. Andi Amran Sulaiman bukan hanya etika pribadi, tetapi menjadi energi perubahan yang mengantarkan Indonesia menuju kedaulatan pangan dan swasembada beras.

Semoga kisah dan nilai hidup ini menjadi cermin bagi siapa pun yang ingin meniti perjalanan panjang menuju keberkahan.

Dan saya berdoa, semoga kamu menjadi salah satu manusia yang dimudahkan rezekinya, dilapangkan hatinya dan dituntun langkahnya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Aamiin.

Eramas 2000, 29 November 2025
Penulis, Aktivis dan Pemerhati Organisasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here