Kultum (Kuliah Terserah Antum)
Ashar Tamanggong
Dalam ilmu kesehatan, jantung adalah organ yang tidak boleh bermasalah. Ukurannya tidak besar, tapi perannya menentukan hidup dan mati. Sekali jantung terganggu, seluruh tubuh ikut limbung. Nafas pendek, langkah berat, pikiran kacau. Logika sederhana ini sesungguhnya cukup untuk membaca kondisi umat Islam hari ini: jika masjid sebagai jantung umat melemah fungsinya, jangan heran bila umat mudah lelah, cepat marah, dan gampang terpecah.
Masjid dalam Islam bukan sekadar tempat ibadah ritual. Ia adalah pusat kehidupan. Al-Qur’an dengan tegas menyebutkan fungsi masjid bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai ruang pengabdian dan pemakmuran umat. Allah berfirman:“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 18)
Ayat ini menarik. Allah tidak menyebut “membangun”, tetapi memakmurkan. Artinya, masjid tidak cukup berdiri kokoh, tapi harus hidup, berdenyut, dan memberi manfaat nyata.
Sejarah Islam mencatat hal itu dengan sangat jelas. Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, yang pertama beliau bangun bukan istana, bukan pasar, apalagi gedung pemerintahan. Yang pertama beliau dirikan adalah masjid. Dari sanalah shalat ditegakkan, ilmu diajarkan, persoalan umat dibicarakan, dan solidaritas sosial dirajut. Masjid menjadi pusat ibadah sekaligus pusat peradaban.
Namun realitas hari ini sering berbanding terbalik. Masjid semakin banyak dan megah, tetapi problem umat juga semakin kompleks. Bangunannya sehat, tapi fungsinya kurang bergerak. Ramai saat Jumat dan Ramadhan, sunyi dari peran sosial di luar itu. Masjid akhirnya hanya menjadi tempat menyelesaikan kewajiban, bukan tempat menumbuhkan kesadaran.
Kadang kita terlalu sibuk menjaga karpet agar tidak kotor, sampai lupa menjaga hati agar tidak kering. Anak-anak yang berlari ditegur, anak muda yang tampil berbeda dicurigai, orang miskin yang datang dianggap mengganggu ketertiban. Masjid menjadi rapi, tetapi kurang ramah. Padahal Rasulullah ﷺ memberi teladan sebaliknya. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:
“Sesungguhnya masjid-masjid itu dibangun untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Muslim).
Namun dalam praktik Rasulullah ﷺ, masjid juga menjadi tempat menerima tamu, membantu yang kesulitan, bahkan tempat orang miskin bernaung. Masjid Nabawi tidak steril dari kehidupan, justru hidup bersama kehidupan.
Ironisnya, ada masjid yang kasnya melimpah, tetapi kepeduliannya minim. Infak dan sedekah terkumpul rutin, saldo aman, laporan keuangan rapi. Namun di sekitar masjid masih ada tetangga yang kelaparan, anak putus sekolah, dan jamaah yang hidupnya berat sendirian. Jika masjid tidak hadir dalam situasi seperti ini, maka denyut jantung umat sedang melemah.
Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan sangat keras..“Tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Thabrani).
Hadis ini seharusnya menggugah kesadaran masjid sebagai pusat empati sosial. Sebab masjid yang hidup tidak hanya menguatkan hubungan dengan Allah, tetapi juga merawat hubungan dengan sesama manusia.
Masjid sebagai jantung umat seharusnya memompa tiga hal sekaligus: iman, ilmu, dan kepedulian. Iman menjaga arah hidup agar tidak tersesat. Ilmu menjaga umat agar tidak mudah ditipu dan diadu domba. Kepedulian menjaga agar Islam tetap terasa sejuk, bukan kaku dan menakutkan. Tanpa ketiganya, masjid hanya melahirkan rutinitas, bukan perubahan.
Umat hari ini sebenarnya tidak kekurangan ceramah, tetapi kekurangan keteladanan. Tidak kekurangan simbol, tetapi kekurangan makna. Di sinilah masjid memegang peran strategis. Masjid tidak cukup hanya mengatur saf shalat, tetapi juga merapikan saf sosial. Tidak cukup hanya mengajarkan bacaan shalat, tetapi juga mengajarkan kejujuran, empati, dan tanggung jawab.
Jika masjid hidup, anak muda akan merasa diterima. Jika masjid berdenyut, orang miskin merasa ditemani. Jika masjid berfungsi, perbedaan tidak mudah berubah menjadi permusuhan. Sebab masjid yang hidup akan melahirkan umat yang matang secara spiritual dan dewasa secara sosial.
Akhirnya, mari berhenti berbangga hanya pada kemegahan bangunan masjid. Ukur keberhasilan masjid bukan dari tinggi kubahnya, tetapi dari luas manfaatnya. Karena jantung tidak diciptakan untuk dipamerkan, melainkan untuk menghidupkan.
Dan umat yang jantungnya berdetak dengan baik, insya Allah, tidak mudah mati, meski zaman berubah dan ujian datang silih berganti.













