Membudayakan Sipakarennu-rennu dan Sikamaseang: Hakikat Kita Ber-KKSS

0
118
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

Bagaimana kita menghayati dan memaknai nilai Sipakarennu-rennu dan Sikamaseang? Nilai-nilai ini perlu kita uraikan kembali dalam konteks kehadiran wadah silaturahmi dan kekerabatan yang dilandasi oleh Adab Sipangadereng.

Paguyuban kekerabatan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dideklarasikan pada 12 November 1976 di Jakarta oleh 26 tokoh asal Sulawesi Selatan untuk pembinaan sosial dan budaya.

Di antara para pendiri dan deklarator tersebut adalah: Mansyur Sophiaan, Azis Bustam, Andi Sose, Ahmad Nurhani, Anfi Baso Amier, Baharuddin Lopa, M. Saleh Djindang, Yusuf Mallombasang, dan Asrul Aziz Taba (yang termuda dan masih bersama kita hingga kini).

Pada ulang tahun ke-49 KKSS, 12 November 2025 mendatang, kita perlu melakukan retrospeksi:
Apakah KKSS tetap kukuh membudayakan nilai Sipakarennu-rennu dan Sikamaseang (dalam bingkai Adab Sipangadereng) dalam kehidupan berpaguyuban, bermasyarakat, dan berbangsa?

Adab Sipangadereng Ciri Khas KKSS

Inilah pembeda yang menjadi ciri khas paguyuban KKSS dibandingkan dengan organisasi kekerabatan lainnya.

Adab Sipangadereng adalah nilai etika dalam interaksi dan pergaulan, yaitu saling memberi penghormatan, menjunjung martabat masing-masing, dan menjaga kepatutan yang wajar.

Saling memuliakan (Sipakarajang) dan tidak saling merendahkan (Sipakatuna) dalam perilaku maupun ucapan.

Sipakarennu-rennu, yaitu saling memberi kegembiraan ketika melihat orang lain mendapatkan rezeki, kedudukan, atau jabatan yang melampaui dirinya.

Nampaknya sederhana, tetapi memerlukan latihan jiwa agar tercipta prasangka baik dan pikiran positif. Jika tidak, kita mudah terjebak menjadi “pemburu layangan kepak” yang hanya iri terhadap keberhasilan orang lain.

Perilaku yang perlu dibangun adalah kemampuan menghormati orang yang lebih unggul dari kita, tanpa rasa iri, tanpa memusuhi, dan tanpa memfitnah. Iri hati adalah penyakit sosial yang tidak memberi manfaat, bahkan merusak kebersamaan dalam membangun kebajikan komunitas.

Sikamaseang: Cinta Kasih

Bagaimana wujud Sikamaseang?
Paseng (petuah) leluhur dalam Lontara menyebutkan bahwa prasyarat seorang pemimpin adalah memiliki kepedulian, yang disebut “Matumpu Batu”, yaitu tanggung jawab mensejahterakan kehidupan yang dipimpinnya. Ini semacam kontrak sosial.

Dalam kehidupan orang Bugis-Makassar, budaya Sipesséang dan Sipatuo tampak pada kebiasaan berbagi makanan. Jika seseorang memasak daging atau ikan dan aromanya menyebar ke tetangga, maka dipastikan makanan itu akan dibagikan.

Atau ketika tanaman seperti padi, jagung, kacang tanah, atau mangga siap panen, pemilik kebun mengundang kerabat untuk ikut memanen—berbagi kebahagiaan. Bahkan di sawah, biasanya dibuat lubang (kalebbong) untuk memelihara ikan, yang hasilnya juga dinikmati bersama saat panen.

Hajatan Keluarga, Warisan Gotong Royong

Pada setiap hajatan keluarga, seperti pernikahan atau membangun rumah, kerabat datang bergotong royong, membawa keperluan hajatan.
Betapa damainya kehidupan seperti itu di kampung. Pertanyaannya, apakah tradisi ini masih ada? Minimal, apakah semangatnya masih kita warisi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here