Kolom Bachtiar Adnan Kusuma
Motivator Gerakan Satu Masjid Satu Perpustakaan IKA BKPRMI Perpustakaan Nasional
Sebagai tokoh literasi yang diserahi amanah sebagai Kepala Badan Nasional Literasi Labbaik Pengurus Pusat IKA BKPRMI, telah menggerakkan secara nasional Gerakan Satu Masjid Satu Perpustakaan Pengurus Pusat IKA BKPRMI dan Perpustakaan Nasional, diluncurkan pada 2022 di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta.
Berikutnya, Gerakan Satu Masjid Satu Perpustakaan diluncurkan di Sulawesi Selatan di Kabupaten Maros oleh Bupati Maros, Dr.H.A.S.Chaidir Syam, S.IP.M.H., kini bergulir di beberapa titik di kabupaten Maros. Tiga tahun terakhir ini Bupati Maros Chaidir Syam yang juga Ketua Umum IKA BKPRMI Kab. Maros dan Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Alumni Badan Komunikasi Pemuda Remaja masjid Indonesia telah menggerakan ekosistem literasi masjid di berbagai masjid dan pondok pesantren di Maros.
Penulis menegaskan bahwa masjid tak sekadar hanya tempat ritual ibadah, melainkan pusat budaya, pusat pendidikan dan pusat peradaban Islam. Dan, untuk menjadikan pusat peradaban, masjid harus menjadi basis penguatan sumber daya umat melalui gerakan literasi. Karena hanya dengan penguatan literasi berbasis masjid, maka umat Islam menjadi umat terbaik karena memiliki kemampuan literasi yang baik. Makanya, seharusnya setiap masjid wajib memiliki ruang baca dan perpustakaan sebagai sarana mendorong tumbuhnya minat baca umat Islam dari masjid.
Hanya umat Islam yang memiliki kemampuan minat baca yang tinggi, bisa mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju dan marhamah. Selain masjid memiliki peran yang sangat strategis sebagai wujud literasi agama, literasi digital, literasi finansial, literasi baca dan tulis, literasi numerasi dan literasi sains plus budaya. Komponen dasar literasi ini telah digerakkan di setiap masjid dan butuh sinergi dan kolaborasi semua pihak terutama menjadikan masjid sebagai pusat peradaban. Caranya, merubah mindset dan cara pandang kita tentang masjid sebatas statis atau tetap, akan membuat kerdil cara pandang umat.
Saatnya umat Islam menjadikan masjid dengan pandangan growt mindset yaitu cara memandang masjid pusat kegiatan umat Islam. Kalau setiap masjid memiliki perpustakaan,berikutnya menjadi sarana mencerdaskan umat, pada akhirnya umat Islam tak mudah mau menjadi sender ataupun distributor berita-berita hoaks.
Penulis berharap para pemimpin di daerah termasuk Bupati dan Walikota serta Gubernur ikut serta mendukung hadirnya setiap perpustakaan masjid di Indonesia. Kalau setiap masjid memiliki perpustakaan, otomatis menjadi jalan tol terwujudnya umat Islam yang berkualitas, terampil dan cakap serta mandiri.
Bukankah literasi menjadi penentu kemenangan? Penulis mengutip pernyataan Geoffrey Jukes, penulis The Russo Japanese War pada 1904-1905, menegaskan bahwa penentu hasil kemenangan itu, bukanlah teknologi, tetapi tingkat literasi. Tak heran jika Jepang mampu menaklukkan Rusia pada 1904 dan Rusia kalah pada pertempuran laut di Selat Tsusshima, pada 27 Mei 1905.
Mengapa Rusia kalah? Karena hanya 20 persen personel militer Rusia bisa membaca dan menulis. Ujungnya, banyak yang tak mampu mengoperasikan secara benar persenjataan moderen dan sistem telegraf nirkabel yang diimpor dari Jerman. Serangan Rusia kepada Jepang acapkali salah sasaran karena salah membaca peta dan salah mengoperasikan jaringan komunikasi.
Karena itu, sejarah telah mencatat bahwa kemenangan yang gemilang dari tentara Jepang atas Rusia karena keampuhan membaca. Kemenangan inilah yang berhasil mengubah sejarah bahwa bangsa Asia ternyata mampu mengalahkan bangsa berkulit putih, Rusia.
Tak bisa disangkal keampuham membaca memiliki kekuatan yang luar biasa, selain individu atau bangsa yang mampu memanfaatkan keampuhan membaca memiliki peluang yang sangat besar mengalahkan individu atau bangsa yang kurang memiliki dosis membaca. Sayangnya, bangsa kita masih masuk dalam deretan bangsa yang kurang berbudaya membaca. Akibatnya, dalam berbagai panggung kehidupan, Indonesia masih sulit bersaing dengan bangsa yang gemar membaca, semisal Singapura dan Malaysia, apalagi Jepang. Penulis menghormati bangsa Jepang yang telah mampu membaca enam judul buku sebulan.
Benarlah, kata Mark Levy dalam bukunya “Menjadi Genius dengan Menulis” menegaskan kalau aset fisik sudah ketinggalan zaman, aset tidak nyata memegang peranan penting. Membaca merupakan aset tidak nyata, tetapi memegang peranan penting dalam kehidupan kita.
Benarkah membaca bisa menjadi aset? Berkaca pada kemenangan tentara Jepang dari Rusia karena kemampuan Jepang memanfaatkan kemampuan membaca dengan empat aset. Pertama, aset informatif, tentara Jepang mampu membaca dengan baik, akibatnya ia mampu melakukan serangan yang tepat pada sasaran.
Kedua, membaca merupakan aset edukatif yaitu tentara Jepang mahir menggunakan persenjataan militer moderen dan memanfaatkan infrastruktur intelejen militer secara baik dan benar. Dengan kemampuan membaca, maka tentara Jepang telah mampu menuntut dan memahami cara melakukan berbagai hal sesuai dengan prinsip dan pola yang benar.
Ketiga, membaca merupakan aset aplikatif yaitu menerapkan apa yang kita baca. Misalnya tentara Jepang mampu menerapkan pengetahuan dari hasil membaca. Artinya, membaca memiliki keampuhan untuk diterapkan apa yang dibaca.
Keempat, membaca merupakan aset kreatif untuk berkreasi. Tentara Jepang mampu memodifikasi sistem telegraf nirkabel dari Jerman. Dan, sebaliknya, tentara Rusia belum mampu mengoperasikan sistem telegraf nirkabel dengan baik.
Pada akhirnya kita mengakui kalau tak ada kemenangan yang hakiki, tanpa dengan kemampuan membaca yang baik. Berkaca pada kemampuan Jepang yang telah mengabadikan pentingnya budaya membaca buku menjadi kekuatan ampuh mengalahkan senjata teknologi. Nah, membaca memiliki keajaiban yang luar biasa, sebab tak ada kemenangan yang hakiki, tanpa dengan kekuatan membaca yang baik. Ayo ke masjid membaca buku dan membaca Al-Quran di Perpustakaan Masjid…














