Menjaga Simpul Persaudaraan di Tanah Rantau: Jejak Kenangan dan Spirit Pengabdian Kakanda Muslimin Mawi

0
34
- Advertisement -

Catatan Udin Saransi

Tiga puluh tahun silam, waktu terasa berjalan lebih pelan. Tahun 1995 adalah masa ketika kebersamaan tak pernah dijadwalkan di kalender, tetapi selalu menemukan jalannya sendiri. Saat itu, perkumpulan KKSS Bali dikomandoi oleh Pak Makmun, seorang perantau yang kami hormati, yang juga menjabat sebagai Direktur Bank Mega Cabang Denpasar, Bali.

Mendampinginya di KKSS sebagai Wakil Ketua adalah Kakanda Muslimin Mawi, SE., yang kala itu menjabat sebagai Kepala Cabang Asuransi Berdikari. Dua sosok dengan gaya berbeda, namun satu tujuan: menjaga simpul persaudaraan tetap hidup di tanah rantau. Di Bali, Kakanda Muslimin menjadi wakil ketua KKSS Bali tahun 1995.

Setiap akhir pekan, kami berkumpul di Jalan Pulau Komodo, di Rumah Jabatan Pak Makmun. Usai Isya, malam menjadi saksi kebersamaan kami. Domino tersusun rapi di lantai, tawa pecah tanpa beban, dan waktu seolah berhenti. Dari bakda Isya hingga subuh, permainan itu menjadi cara Pak Makmun melepas penat, dan bagi kami menjadi ruang pulang yang hangat di perantauan.

Kami adalah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), rumah besar yang menghimpun anak-anak perantau dari Sulawesi Selatan. Di Denpasar, KKSS tumbuh sebagai perkumpulan yang paling eksis. Pertemuan bulanan digelar bergilir dari satu tempat ke tempat lain, sederhana namun sarat makna. Di sanalah persaudaraan dirawat melalui silaturahim, cerita dibagi, dan masalah dicari jalan keluarnya bersama.
Pada masa itu, saya dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris KKSS Kota Denpasar, sekaligus Sekretaris Eksekutif KKSS Wilayah Bali, mendampingi almarhum Kolonel Arifin Limi sebagai Sekretaris Umum. Hari-hari itu penuh dinamika, namun juga dipenuhi rasa saling percaya dan kebersamaan yang tulus.

Waktu berlalu, tetapi kenangan tak pernah benar-benar pergi. Jumat kemarin, kami berbincang melalui telepon dengan Kak Mus, panggilan akrab kami untuk Kakanda Muslimin Mawi. “Insyaallah besok saya ke Bali sama Prof. Andi Zakir, Ketua Harian BPP-KKSS, ketemuan ya ndik,” ucapnya dengan logat Enrekang yang selalu membuat rindu terasa dekat. Percakapan berlanjut di WhatsApp, saling bertukar kabar, seolah jarak dan tahun-tahun yang berlalu tak pernah ada.

Hari Sabtu, 14 Februari 2026, saya menjemput beliau di Bandara Ngurah Rai. Kami makan malam di Jalan Dewi Sri, Kuta. Di meja makan, rindu dilepas perlahan. Cerita lama kembali mengalir, tentang masa ketika Pangdam Udayana Mayjen A. Rivai, sebagai kerabat Bugis dari Soppeng, turut mewarnai kebersamaan kami. Setiap pertemuan KKSS selalu menghadirkan kisah, solusi, dan keakraban yang terbangun bukan hanya di Bali, tetapi menjalar hingga skala nasional.

Kak Mus adalah pejabat karier di KKSS. Ke mana pun beliau berpindah tugas, amanah organisasi selalu menunggunya. Kepiawaiannya menata dan merawat organisasi mengantarkannya hingga kini dipercaya mengemban tugas di Badan Pengurus Pusat KKSS sebagai Wakil Ketua Umum, sebuah kepercayaan yang diberikan langsung oleh Dr. Andi Amran Sulaiman selaku Ketua Umum BPP-KKSS.

Kehadiran Kakanda Muslimin Mawi, SE., di Bali kali ini bukan sekadar membangunkan memori lama, menyusuri kembali Kuta, Legian, Imam Bonjol, hingga Jalan Teuku Umar, tetapi juga menghadirkan semangat baru. Spirit untuk KKSS Bali, dengan mengusung tema Sipakatau dalam Perantauan: Aktif Menjaga, Hadir Memberi Arti, dalam pelantikan Badan Pengurus Wilayah KKSS Provinsi Bali periode 2025–2030.

Kenangan telah kembali, namun langkah harus terus berjalan.
Salamakki na tofada salamak.

Penulis,  pernah menjabat sebagai Sekretaris KKSS Kota Denpasar dan Sekretaris KKSS Wilayah Bali selama 30 tahun, serta hingga kini aktif sebagai Anggota KKSS Kota Denpasar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here