Menyongsong PSBM 2026, Dari Nostalgia, Peran Saudagar dan Gagasan Masa Depan

0
126
- Advertisement -

Catatan Achmad Pawennei

PSBM (Pertemuan Saudagar Bugis Makassar) sejak awal kelahirannya bukan sekadar agenda temu kangen atau pulang kampung. Ia lahir dari kesadaran kolektif bahwa diaspora Bugis Makassar tersebar luas di seluruh Nusantara dan memainkan peran penting dalam denyut ekonomi rakyat, khususnya di sektor perdagangan.

Saya masih menyimpan nostalgia kuat tentang PSBM pertama yang diprakarsai oleh BPP KKSS bersama Kadin Sulawesi Selatan dan Pemerintah Provinsi Sulsel. Saat itu, tujuan utamanya adalah memperkenalkan keberadaan KKSS di seluruh Indonesia. Menariknya, di Sulawesi Selatan sendiri memang KKSS tidak ada, sehingga seluruh peserta justru diajak berkeliling kampung halaman.

Dengan dukungan kendaraan bus dari Pemda dan TNI, rombongan melakukan tour keliling Sulsel dan menginap di rumah-rumah penduduk. Sambutan masyarakat begitu hangat, penuh keikhlasan dan kebanggaan. Sebagai Sekretaris Jenderal KKSS yang diberi amanah memimpin perjalanan tersebut, saya merasakan sendiri betapa luar biasanya ikatan emosional antara perantau dan kampung halaman. Masya Allah, pengalaman itu membekas hingga hari ini.

Alhamdulillah, pada usia 83 tahun, saya masih diberi kesehatan untuk menjalankan amanah organisasi. Baru-baru ini saya pulang dari tugas mewakili Ketua Umum DPN KPM Bone, H. M. Rusdi Taher, SH., MH, yang berhalangan hadir untuk melantik tiga provinsi baru di Papua: Provinsi Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya. Saya menjalankan tugas tersebut sebagai Wakil Ketua Umum DPN KPM Bone dengan penuh rasa syukur.

Pengalaman panjang dalam organisasi dan dunia usaha itulah yang ingin saya kaitkan dengan PSBM 2026. Di seluruh pelosok Indonesia, kita menyaksikan fenomena yang sama: pasar-pasar tradisional dikuasai oleh saudagar Bugis Makassar. Bahkan sering kali, ketika berada di pasar daerah rantau, kita serasa kembali ke kampung halaman karena bahasa Bugis Makassar terdengar akrab dalam transaksi sehari-hari.

Ironisnya, para saudagar inilah yang sesungguhnya menjadi tulang punggung ekonomi rakyat justru banyak yang tidak bisa hadir di PSBM Makassar. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena keterbatasan biaya dan waktu. Yang sering hadir justru saudagar besar atau pengurus organisasi. Padahal, “saudagar asli” Bugis Makassar itu hidup di pasar-pasar rakyat.

Selama 10 tahun (1985–1995) saya mengabdi sebagai Sekjen BPP KKSS dan ikut membidangi lahirnya PSBM bersama almarhum Beddu Amang (Ketum BPP KKSS), Yusuf Kalla, serta almarhum Alwi Hamu (Kadin Sulsel).

Dalam perjalanan mengunjungi seluruh KKSS provinsi di Indonesia, perhatian utama saya sebagai pedagang selalu tertuju ke pasar. Dari sanalah denyut ekonomi warga KKSS benar-benar terasa.

Maka, menjelang PSBM ke-26, izinkan saya menitipkan beberapa gagasan strategis yang berangkat dari kepentingan UMKM yang merupakan mayoritas saudagar Bugis Makassar:
Pertama, perlunya pendirian Bank Saudagar KKSS, dengan cabang di seluruh provinsi dan prioritas pembiayaan bagi saudagar KKSS.

Akses permodalan yang adil dan berbasis solidaritas etnis akan memperkuat ekonomi akar rumput.
Kedua, PSBM perlu ditransformasikan menjadi semacam KADIN Saudagar Bugis Makassar, yakni organisasi saudagar yang profesional, modern, dan berorientasi pada penguatan jaringan usaha lintas daerah.

Ketiga, karena diaspora KKSS secara kultural telah mewarisi jiwa entrepreneur, yang dibutuhkan kini adalah dukungan fasilitas dan kemudahan perizinan. Untuk itu, diperlukan Konsultan Perizinan dan Peluang Usaha yang visioner, bertugas menampung kebutuhan warga KKSS terkait izin usaha dan akses peluang ekonomi baru.

Keempat, berdagang sambil memperkenalkan budaya. PSBM dapat mempelopori berdirinya Kampung Bugis (Bugis Village) di setiap BPW KKSS: lengkap dengan panggung seni, toko atribut budaya, serta restoran kuliner khas Bugis Makassar. Dengan demikian, wisatawan domestik maupun mancanegara dapat menikmati “miniatur Sulawesi Selatan” di daerah rantau.

Usulan-usulan ini saya sampaikan sebagai representasi suara UMKM. Adapun saudagar besar, saya yakin panitia PSBM adalah para pakar dan tokoh usaha yang telah memiliki konsep-konsep besar dan strategis.

Terakhir, saya berharap ada penulisan serius tentang kepeloporan saudagar Bugis Makassar di berbagai bidang: industri, pertambangan, pertanian, dan perbankan. Sebut saja PT Bukaka, PT Bank Marannu, Fajar Group, kiprah Haji Isam, PT MBT, dan banyak lagi.

Penulisan ini bukan semata soal besar kecilnya aset, melainkan tentang keberanian menjadi pionir. Nilai keteladanan inilah yang penting diwariskan kepada generasi penerus, bahkan akan sangat bermakna bila diupayakan dalam bentuk penghargaan nasional atau awards melalui usulan KKSS.

Semoga PSBM 2026 menjadi momentum konsolidasi, refleksi, dan lompatan besar bagi saudagar Bugis Makassar di seluruh Nusantara. Sukses PSBM 2026.

Salamaki’.

Penulis, Sekjen BPP KKSS 1985-1995

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here