Merawat dan Menjaga Tradisi Literasi Kita

0
27
- Advertisement -

Kolom Bachtiar Adnan Kusuma

Merawat dan Menjaga tradisi kebiasaan literasi kita, jauh lebih sulit mempertahankan daripada memulainya. Istilah merawat berarti menjaga, memelihara apa yang telah dilakukan dan telah menjadi kebiasaan, agaknya sulit dilupakan. Kata kuncinya, dibutuhkan tekad yang kuat, komitmen atas apa yang telah menjadi janji diri kita dan berkelanjutan.

Nah, sikap mempertahakan kebiasaan yang telah menjadi tradisi adalah kerja keras seseorang untuk merawat diri sendiri, baik secara fisik maupun mental, agar tubuh dan pikiran tetap sehat. Caranya melakukannya betapapun sulit, karena bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari.

Self care merupakan bagian dari self love atau bentuk mencintai diri sendiri. Demikian pula, siapa yang selalu dihinggapi rasa malas, maka sukses pasti selalu menjauh dari dirinya.

Selain malas mempertahankan tradisi literasi yang sehat dengan membaca rutin dan menulis setiap hari, juga bentuk perlawanan terhadap rasa malas yang diartikan sebagai sikap keengganan seseorang melakukan sesuatu yang mestinya harus dilakukan, malas juga adalah sikap tak disiplin, suka menunda waktu, tidak tekun. Pendeknya, malas tabiat manusia yang harus dilawan dan dihilangkan.

Penulis mengutip buku 17 Jurus Gemar Membaca, Halaman 75-79 yang diterbitkan GPMB Sulsel-Yapensi, 2013 yang merupakan karya penulis bersama Ama Saing, menegaskan kalau rasa malas sesungguhnya merupakan sejenis penyakit mental dan menerima apa adanya.

Mengapa disebut budaya menerima apa adanya? Karena rasa malas bisa menimbulkan sifat buruk dan merugikan masa depan seseorang.

Karena itu, jujur harus diakui bahwa sifat malas atau suka menunda waktu salah satu penyakit yang berlawanan dengan kehidupan seorang penulis. Seorang penulis melahirkan karya tulis yang baik kalau mereka tekun dan rajin terus menerus mengasah otaknya membaca dan menulis.

Rasa malas menggambarkan hilangnya semangat seseorang melakukan pekerjaan maupun apa sesungguhnya yang dicita-citakan.

Pertanyaannya, bagaimana cara mempertahankan tradisi membaca menulis kita agar tidak berdamai dengan rasa malas?

Membuat tujuan. Biasanya orang malas karena tidak punya tujuan hidup, akibatnya motivasi menghadapi hidup semakin kerdil. Sementara orang yang punya garis hidup dan tujuan jelas, mereka memiliki motivasi tinggi untuk mencapai tujuan atau cita-cita hidupnya.

Caranya dengan memulai merintis komitmen apa yang ingin dicapai dan mempertahankan apa yang telah dicapai.

Mengasah kemampuan. Orang yang punya tujuan hidup, mereka pasti membuat resolusi dan janji komitmen untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Kuncinya, karena mereka punya motivasi yang tinggi untuk mencapai cita-citanya.

Bergaul dinamis dan disiplin diri. Carilah teman sebanyak-banyaknya dengan bergaul dan berdiskusi. Namun kuncinya memulai dan melakukannya dengan membaca dan menulis. Lakukan….

Penulis Tokoh Literasi dan Ketua Forum Perkumpulan Penerima Penghargaan NJDP Perpustakaan Nasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here