Peluncuran Buku 70 Tahun Prof Yusril, Bagikan 8 Ribu Buku

0
35
- Advertisement -

PINISI.co.id- Siang tadi, Sabtu, 7 Februari 2026, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra genap berusia 70 tahun dan dirayakan dengan peluncuran buku yang digelar di Balai Kartini Jakarta. Dihadiri Wakil Presiden dan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, tokoh politik dan kerabat Yusril.

Yusril lahir di Manggar, Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, pada 5 Februari 1956. Prof. Yusril dikenal sebagai salah satu pakar hukum terkemuka Indonesia. Hampir di setiap era pemerintahan pascareformasi, ia dipercaya mengemban amanah sebagai menteri.

Saat ini, ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan dalam Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto.

Ungkapan rasa syukur atas anugerah usia tersebut dirayakan melalui acara tasyakuran yang mengundang keluarga, guru, sahabat, kolega, murid, staf, serta generasi muda pencinta buku. Acara bertema “Setengah Abad Dedikasi untuk Bangsa: Peluncuran 8 Buku Rekam Jejak 70 Tahun Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra”.

Delapan judul buku yang diluncurkan pada kesempatan tersebut adalah:
Pertama, “The Untold Stories of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dan Testimoni Kolega”, editor M. Saleh Mude dkk., setebal 926 halaman, dengan kata pengantar Prof. Dr. Hafid Abbas dan Fachry Ali.

Kedua, “The Autobiography of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Testimoni Kolega, dan Hadiah Puisi”, editor M. Saleh Mude, 492 halaman, disajikan dalam dua bahasa: Indonesia dan Arab. Penerjemahan bahasa Arab dikerjakan oleh Thohir Ashari dan Zainal Abidin H. Cangkelo.

Ketiga, “Islam, Democracy, and Human Rights in Contemporary Indonesia”, editor Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dan Prof. Dr. Hafid Abbas, 192 halaman.
Keempat, “Pemikiran Politik Yusril Ihza Mahendra: Islam, Negara, dan Demokrasi”, ditulis oleh Dr. Herdito Sandi Pratama, dosen Departemen Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, sekaligus Staf Khusus Menko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, 322 halaman.

Kelima, “Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra: Keadilan yang Memulihkan”, ditulis oleh Ahmadie Thaha, wartawan senior, berisi 64 esai, setebal 460 halaman.
Keenam, “The Landmark Cases of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra”, ditulis oleh Prof. Dr. Fitra Arsil dan Dr. Qurrata Ayuni, 540 halaman.

Ketujuh, “Lebih Dekat dengan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra: Pandangan Tokoh dan Sahabat”, ditulis dan diedit oleh Ahmad Pratomo dkk., di bawah supervisi Randy Bagasyudha, 112 halaman.

Kedelapan, “Di Mana Bumi Dipijak: Novel Biografis”, karya Andre Syahreza, 188 halaman.

Setiap judul dicetak lebih dari seribu eksemplar dan dibagikan secara gratis kepada para tamu dan undangan. Berdasarkan data kepanitiaan, lebih dari seribu tamu hadir, baik dari dalam maupun luar negeri, terutama dari Malaysia, Jepang, dan Filipina, selain para duta besar negara sahabat.
Peluncuran delapan buku ini mendapat apresiasi dari Ahmadie Thaha, yang menulis:

“Acara hari ini di Balai Kartini adalah peristiwa yang ditunggu-tunggu dan dipersiapkan dengan kesungguhan yang jarang terlihat. Di balik peluncuran delapan buku, yang secara keseluruhan memuat ribuan halaman, terdapat kerja panjang sebuah tim yang sabar, tekun, dan nyaris bekerja dalam diam. Mungkin tidak banyak ulang tahun yang dirayakan dengan cara seperti ini: bukan dengan pesta, melainkan dengan pemikiran; bukan dengan hingar-bingar, melainkan dengan warisan intelektual. Bagi saya, ini bukan sekadar perayaan usia, melainkan penanda setengah abad dedikasi seorang anak bangsa yang jejaknya tertulis dalam buku, nalar, dan pengabdian. Selamat ulang tahun, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra.”

Sebagai penutup, dikutip siaran pers Prof. Dr. Hafid Abbas dalam pengantar penerbitan delapan buku tersebut:
“Semoga kedelapan buku ini, sebagai warisan intelektual Prof. Yusril, tidak hanya dikenang, tetapi juga dimanfaatkan secara aktif oleh dunia akademik, masyarakat luas, dan generasi muda. Karya-karya ini diharapkan menjadi sumber inspirasi, refleksi, dan pengembangan ilmu pengetahuan, sekaligus mendorong kajian historis, politik, hukum, dan sosial yang lebih mendalam.

Buku-buku ini juga memperkuat koleksi Prof. Yusril Ihza Mahendra sebagai pusat referensi, yang melayani penelitian akademik, penyusunan kebijakan, serta pengembangan literasi hukum dan politik di Indonesia. Dengan demikian, koleksi ini tidak hanya menjadi simbol intelektual, tetapi juga instrumen nyata untuk memperluas wawasan masyarakat dan memajukan ilmu pengetahuan di tingkat nasional maupun internasional.”

M. Saleh Mude, pendiri Prodeleader sekaligus penjaga warisan intelektual tokoh-tokoh bangsa, dapat dihubungi melalui surel: [email protected].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here