Kolom Muslimin Mawi
Aktivis dan Pemerhati Organisasi
Pendahuluan
Pertemuan Saudagar Bugis–Makassar (PSBM) bukanlah sekadar agenda tahunan yang mempertemukan para pelaku usaha dalam suasana silaturahmi kultural, pasca lebaran (Idul Fitri). Seiring perjalanan waktu, PSBM tumbuh sebagai ruang refleksi kolektif tentang jati diri, daya juang dan peran historis saudagar Bugis–Makassar dalam denyut ekonomi bangsa. Di usia ke-26 penyelenggaraannya pada tahun 2026 ini, PSBM berada pada satu titik penting, antara mempertahankan tradisi pertemuan, atau melangkah lebih jauh menjadi sebuah ekosistem ekonomi kultural yang hidup, berkelanjutan dan relevan dengan tantangan zaman.
Ekosistem dimaknai bukan semata sebagai kumpulan individu sukses, melainkan sebagai jejaring nilai, pengalaman, kepemimpinan dan keberpihakan pada masa depan. Dalam kerangka inilah PSBM perlu dibaca ulang, bukan hanya sebagai peristiwa, tetapi sebagai proses sejarah yang terus bergerak.
Kepemimpinan sebagai Penggerak Ekosistem
Tidak ada ekosistem yang tumbuh tanpa penggerak. Dalam konteks PSBM tahun ini, penggerak itu menemukan momentumnya pada kepemimpinan Andi Amran Sulaiman sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS). Untuk pertama kalinya, PSBM berada di bawah kepemimpinan seorang Ketua Umum KKSS yang sekaligus merupakan tokoh nasional dengan rekam jejak kuat di dunia usaha dan pemerintahan.
Posisi ini memberi PSBM legitimasi berlapis. Secara kultural, ia berakar kuat pada nilai dan etos masyarakat Bugis–Makassar. Secara sosial, Ia merepresentasikan keberhasilan saudagar yang tumbuh dari kerja keras dan keberanian mengambil risiko. Secara nasional, ia hadir sebagai bagian dari kepemimpinan negara di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, dengan pemahaman mendalam tentang kebijakan, tantangan dan arah pembangunan nasional.
Kepemimpinan ini menjembatani nilai dan zaman. Nilai siri’ na pacce, etos kerja, dan solidaritas tidak dibiarkan menjadi romantisme masa lalu, tetapi diarahkan untuk menjawab tantangan kekinian, disrupsi ekonomi, kebutuhan regenerasi saudagar, serta tuntutan akan sistem yang berkelanjutan. PSBM, dalam konteks ini, ditantang untuk bergerak dari seremoni menuju substansi.
Dari Forum Pertemuan Menuju Ruang Regenerasi
Sebagai ekosistem, PSBM tidak cukup hanya menjadi panggung inspirasi. Ia harus menjadi ruang belajar kolektif. Diskusi tematik, lokakarya kewirausahaan, dan pembacaan kritis atas kisah sukses para saudagar senior perlu dirancang sebagai mekanisme transfer pengetahuan lintas generasi.
Kisah keberhasilan tidak berhenti sebagai narasi heroik, tetapi dibedah sebagai pengalaman nyata, tentang kegagalan, ketahanan, strategi bertahan dan keberanian membaca peluang. Di sinilah PSBM dapat mengambil peran penting dalam menyiapkan saudagar muda Bugis–Makassar agar tidak hanya mewarisi jejaring, tetapi juga mewarisi cara berpikir dan etos perjuangan.
Pembinaan UMKM menjadi bagian tak terpisahkan dari proses ini. Bukan dalam pendekatan karitatif, melainkan melalui peningkatan kapasitas manajerial, literasi keuangan, digitalisasi usaha dan perluasan akses pasar. Dengan demikian, PSBM bertransformasi menjadi ruang regenerasi yang nyata, bukan simbolik.
Ketahanan Pangan sebagai Panggilan Kolektif
Dalam lanskap pembangunan nasional, ketahanan pangan merupakan isu strategis yang menyentuh kedaulatan dan martabat bangsa. Bagi PSBM, isu ini bukanlah sesuatu yang asing. Sejarah saudagar Bugis–Makassar selalu bersinggungan dengan sektor riil, pertanian, perdagangan dan distribusi.
Peran Andi Amran Sulaiman sebagai tokoh nasional di pemerintahan Presiden Prabowo memberi dimensi baru bagi PSBM dalam isu ini. Ketahanan pangan tidak lagi dipahami semata sebagai program negara, tetapi sebagai tanggung jawab kolektif yang membutuhkan keterlibatan dunia usaha dan komunitas diaspora.
PSBM memiliki peluang untuk menjadi ruang konsolidasi komitmen saudagar dalam mendukung sektor pangan, mulai dari investasi pada produksi, penguatan rantai pasok, pengembangan industri hilir, hingga pemberdayaan petani dan UMKM pangan. Dalam kerangka ekosistem, saudagar berperan sebagai katalis yang menghubungkan kebijakan, teknologi dan pasar.
Diaspora Bugis–Makassar dan Horizon Global
Sejarah diaspora Bugis–Makassar adalah sejarah tentang mobilitas dan adaptasi. Jauh sebelum globalisasi menjadi istilah akademik, saudagar Bugis–Makassar telah menembus batas wilayah dan negara, membangun jejaring perdagangan yang luas dan dinamis.
Di era global hari ini, diaspora bukan sekadar penyebaran komunitas, melainkan modal ekonomi dan diplomasi. Diaspora Bugis–Makassar hadir di berbagai sektor strategis, perdagangan, logistik, energi, pangan, hingga ekonomi digital. PSBM berpotensi menjadi simpul yang menghubungkan potensi diaspora ini dengan kebutuhan nasional.
Dengan kepemimpinan yang memahami dinamika lokal dan global, PSBM dapat diarahkan sebagai platform kepemimpinan ekonomi diaspora, menghubungkan komunitas, negara dan pasar internasional. Nilai siri’ na pacce, kejujuran, dan tanggung jawab sosial menjadi fondasi etis yang membedakan kepemimpinan ekonomi Bugis–Makassar di tengah persaingan global.
Penutup
PSBM sebagai Warisan Masa Depan
PSBM bukan sekadar peristiwa tahunan, melainkan perjalanan sejarah. Dari forum kultural, ia bergerak menuju ekosistem ekonomi. Dari ruang komunitas, ia menatap peran nasional dan global. Kepemimpinan, ketahanan pangan dan konsolidasi diaspora menjadi simpul-simpul penting dalam arah baru PSBM (Pertemuan Saudagar Bugis Makassar), etnis Bugis, Makassar, Toraja, Mandar dan Massernrempulu.
Di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman, PSBM memiliki peluang sejarah untuk menegaskan diri sebagai ruang strategis saudagar Bugis–Makassar dalam berkontribusi bagi Indonesia dan dunia. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai penutup wacana, melainkan sebagai ajakan refleksi, bahwa komunitas yang terorganisir dengan nilai, visi dan kepemimpinan yang kuat akan selalu menemukan jalannya dalam sejarah.
Eramas, 07 Februari 2026
Penulis: Aktivis dan Pemerhati Organisasi














