Makassar — Pelaksanaan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI tahun 2026 di Makassar tidak hanya menjadi ajang silaturahmi diaspora, tetapi juga panggung strategis konsolidasi kekuatan ekonomi berbasis kekerabatan. Di tengah dinamika tersebut, kehadiran Dr. H. Andi Jamaro Dulung, M.Si—atau yang akrab disapa AJD—menjadi sorotan.
Tokoh senior asal Sulawesi Selatan yang kini menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) PB IKA PMII periode 2025–2030 itu hadir bukan sekadar sebagai undangan, melainkan sebagai figur yang membawa perspektif panjang tentang arah gerakan saudagar Bugis-Makassar.
AJD menilai, PSBM telah bertransformasi dari forum silaturahmi menjadi ruang strategis untuk membangun kekuatan ekonomi kolektif.
“PSBM hari ini tidak boleh berhenti pada nostalgia. Ia harus menjadi pusat lahirnya kekuatan ekonomi baru yang terorganisir dan berdampak,” ujar AJD dalam salah satu sesi diskusi.
*Dari Pengalaman Nasional ke Penguatan Diaspora*
Pandangan AJD tidak lepas dari latar belakang panjangnya di berbagai sektor. Lahir di Soppeng, ia meniti karier dari dunia akademik sebagai dosen, hingga masuk ke panggung politik nasional sebagai anggota DPR RI dalam dua periode. 
Selain itu, kiprahnya sebagai pengurus Nahdlatul Ulama dan berbagai organisasi nasional membentuk perspektif kepemimpinan yang mengedepankan keseimbangan antara nilai, jaringan, dan kekuatan ekonomi.
Di sektor bisnis, AJD juga dikenal aktif sebagai komisaris dan direktur utama di sejumlah perusahaan energi dan investasi—memberinya pengalaman langsung dalam mengelola skala usaha besar dan membangun jejaring strategis. 
Kombinasi pengalaman tersebut membuat pandangannya terhadap PSBM tidak hanya normatif, tetapi juga operasional.
*Swasembada Pangan dan Ekonomi Terstruktur*
Dalam forum PSBM XXVI, AJD secara khusus menyoroti pentingnya swasembada pangan sebagai agenda strategis KKSS ke depan. Menurutnya, kekuatan saudagar tidak cukup hanya di sektor perdagangan dan jasa, tetapi harus masuk ke sektor hulu yang menyangkut kebutuhan dasar.
“Kalau kita ingin kuat, kita harus menguasai sektor pangan. Ini bukan hanya bisnis, tapi soal kedaulatan,” tegasnya.
Ia juga mendorong pembentukan ekosistem ekonomi yang lebih terstruktur, termasuk penguatan database saudagar, pembentukan satgas ekonomi, serta peningkatan kolaborasi lintas daerah dan generasi.
*PSBM sebagai Ruang Regenerasi dan Akselerasi*
AJD melihat PSBM XXVI sebagai momentum penting untuk mempercepat regenerasi saudagar. Ia menekankan pentingnya memberi ruang bagi generasi muda untuk tampil dengan pendekatan baru, termasuk digitalisasi dan inovasi.
“Generasi muda harus masuk, bukan hanya sebagai peserta, tapi sebagai pelaku utama. Kita butuh akselerasi, bukan sekadar kesinambungan,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi antara tokoh senior dan generasi muda menjadi kunci agar PSBM tidak hanya menjadi forum seremonial, tetapi benar-benar menghasilkan dampak nyata.
*Simbol Konsistensi dan Arah Gerakan*
Kehadiran AJD dalam PSBM XXVI juga dipandang sebagai simbol konsistensi gerakan diaspora Sulawesi Selatan. Dengan pengalaman organisasi sejak era PMII hingga level nasional, ia merepresentasikan kesinambungan nilai sekaligus adaptasi terhadap perubahan zaman. 
Di tengah tantangan ekonomi global dan nasional, figur seperti AJD dinilai mampu menjaga arah sekaligus mendorong transformasi.
PSBM XXVI pun tidak hanya meninggalkan catatan sebagai pertemuan tahunan, tetapi sebagai titik penting dalam upaya membangun kekuatan ekonomi kolektif yang lebih terstruktur, inklusif, dan berkelanjutan—sebuah gagasan yang sejalan dengan pandangan AJD tentang masa depan saudagar Bugis-Makassar.














