RAMADHAN BERSAMA BAZNAS (10)

0
18
- Advertisement -

 

Membangun Kekuatan Umat: Selain ZIS, Wakaf (Lebih) Dahsyat
Kolom Ashar Tamanggong

Kita ini kadang unik. Setiap Ramadhan, semangat berbagi naik drastis. Kotak amal ramai, transfer zakat lancar, sedekah mengalir deras. Luar biasa. Tapi pertanyaannya: setelah Ramadhan lewat, apakah kekuatan umat ikut naik? Atau hanya saldo rekening yang sempat mampir lalu pergi?

Zakat, infak, dan sedekah adalah pilar penting dalam Islam. Al-Qur’an berulang kali menggandengkan shalat dengan zakat. Bahkan di masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang menolak zakat diperangi karena dianggap merusak sistem sosial umat. Artinya, zakat bukan sekadar ibadah personal, tapi fondasi peradaban.

Namun, kalau kita ingin berbicara tentang kekuatan umat, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar karitas (charity). Kita butuh pemberdayaan. Kita butuh sistem. Kita butuh keberlanjutan.

Di sinilah wakaf menjadi “senjata rahasia” yang sering kurang disadari kedahsyatannya.

*Zakat: Menolong yang Lemah*

Zakat itu seperti ambulans. Ia datang ketika ada yang sakit, tertimpa musibah, kekurangan makan, terlilit utang. Ia menyelamatkan. Ia meringankan. Ia mengobati.

Tapi ambulans tidak membangun rumah sakit. Zakat bersifat konsumtif sekaligus produktif, tapi tetap terbatas pada delapan asnaf. Ia menjaga agar yang miskin tidak semakin tenggelam. Namun untuk membuat umat berdiri tegak, kita perlu instrumen yang membangun infrastruktur jangka panjang.

*Wakaf: Membangun Sistem dan Peradaban*

Wakaf bukan sekadar memberi, tapi “mengunci aset” untuk kemaslahatan umat selamanya. Tanah diwakafkan, dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, kebun produktif, gedung usaha — hasilnya terus mengalir.

Lihat sejarah. Universitas tertua di dunia seperti Universitas Al-Azhar berdiri dan bertahan berabad-abad karena sistem wakaf. Banyak rumah sakit dan lembaga pendidikan di dunia Islam klasik hidup dari aset wakaf.

Bahkan di masa Umar bin Khattab, ketika beliau mendapatkan tanah di Khaibar, Nabi menyarankan agar pokoknya ditahan dan hasilnya disedekahkan. Itulah konsep wakaf produktif pertama dalam sejarah Islam.

Coba bayangkan kalau setiap pengusaha Muslim punya satu aset wakaf produktif. Satu ruko saja. Disewakan, hasilnya untuk beasiswa. Sepuluh tahun kemudian, lahir ratusan sarjana dari keluarga dhuafa. Dua puluh tahun kemudian, mereka jadi dokter, insinyur, pemimpin. Itu bukan lagi sedekah sesaat. Itu rekayasa masa depan.

Umat Lemah Bukan Karena Kurang Sedekah

Mari jujur. Umat ini bukan kekurangan orang baik. Setiap ada bencana, donasi deras. Setiap ada pembangunan masjid, cepat terkumpul. Tapi kenapa kita masih sering tertinggal dalam ekonomi, pendidikan, dan riset?
Karena kita kuat di “memberi ikan”, tapi belum serius membangun “kolam dan tambaknya”.
Zakat itu jaring pengaman sosial. Wakaf adalah mesin penggerak ekonomi umat.

Bayangkan jika dana zakat dikelola optimal oleh lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional, lalu didukung ekosistem wakaf produktif yang profesional. Umat tidak hanya menerima bantuan, tapi punya akses modal, pendidikan, layanan kesehatan, bahkan lapangan kerja.

Itulah lompatan dari belas kasihan menuju kemandirian.
Mengubah Pola Pikir: Dari Dermawan ke Visioner
Kita sering bangga disebut dermawan. Tapi umat butuh lebih dari itu — umat butuh visioner.

Dermawan berpikir: “Hari ini saya bantu.” Visioner berpikir: “Bagaimana agar 50 tahun lagi mereka tidak perlu dibantu lagi?”
Wakaf melatih kita berpikir jangka panjang. Ia memaksa kita memikirkan tata kelola, manajemen, investasi, keberlanjutan.
Wakaf bukan hanya soal pahala yang mengalir, tapi juga soal manajemen yang profesional. Kalau tidak dikelola dengan baik, aset wakaf bisa tidur. Tanah kosong bertahun-tahun. Bangunan terbengkalai. Padahal potensinya luar biasa.

*Saatnya Integrasi: ZISWAF sebagai Ekosistem*

Bukan berarti zakat, infak, dan sedekah tidak penting. Justru semuanya harus disinergikan. Zakat menjaga yang lemah.
Infak dan sedekah memperluas kebaikan.
Wakaf membangun fondasi jangka panjang.

Bayangkan skema seperti ini:
Zakat untuk pemberdayaan mustahik.
Infak untuk program sosial fleksibel.
Wakaf untuk membangun aset produktif yang hasilnya membiayai program tanpa henti.

Kalau ini berjalan serius, umat tidak lagi hanya reaktif terhadap masalah, tapi proaktif menciptakan solusi.

*Dahsyatnya Wakaf Uang*

Hari ini, wakaf tidak harus menunggu kaya raya atau punya tanah luas. Wakaf uang membuka pintu bagi siapa saja. Seratus ribu, satu juta, berapapun — jika dikelola profesional — bisa menjadi modal usaha, proyek properti syariah, atau investasi sosial.
Hasilnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi.

Inilah sedekah yang “beranak-pinak”.

*Dari Emosional ke Institusional*

Kekuatan umat tidak bisa hanya dibangun dengan semangat musiman. Ia harus dibangun dengan sistem. Dari gerakan emosional menjadi gerakan institusional.

Kita tetap tunaikan zakat. Kita rajin bersedekah. Tapi mari naik kelas. Mari berpikir wakaf. Mari bangun aset, bukan hanya habiskan kas.

Karena umat yang kuat bukan hanya umat yang murah hati, tapi umat yang punya strategi. Dan mungkin, di situlah letak kedahsyatannya.

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here