Kolom Aslamuddin Lasawedy
Pemerhati Masalah Ekonomi, Budaya dan Politik
DI KOTA itu, hiduplah seorang penjaga kata-kata Tuhan. Ia bukan muazin, namun suaranya lebih nyaring dari azan yang berkumandang.
Namanya Rahman.
Setiap hari, ia berjalan dengan tasbih di jemarinya. Tasbih itu seperti rantai yang mengikat waktunya pada kesalehannya. Orang-orang memanggilnya “cermin agama,” lantaran bibirnya selalu basah oleh ayat-ayat suci. Namun sayangnya, matanya kering dari kasih sayang. Ia diam-diam, menjadi seperti cermin yang retak, yang memantulkan bayangan orang lain dengan distorsi yang kejam.
Dalam beribadah, Rahman tak pernah lupa akan rakaat shalatnya. Namun ironisnya, ia kerap lupa mengasihi sesama manusia. Ia melihat dunia seperti hakim melihat terdakwa. Semua bersalah, kecuali mereka yang terbukti suci. Dan sayangnya, tak ada seorang pun di matanya yang benar-benar suci.
Suatu hari, seorang perempuan tua berpakaian lusuh dan kotor datang ke masjid dengan langkah gontai seperti daun tua yang enggan jatuh. Ia duduk di sudut mesjid, mencoba menambal dosa-dosa hidupnya dengan memanjatkan doa-doa yang terbata-bata
Rahman melihatnya, dan langsung menegurnya. “Masjid bukan tempat untuk orang-orang yang tidak menjaga kehormatan diri,” katanya ketus. Suaranya seperti palu yang memukul kaca.
Perempuan itu hanya diam saja dan tersenyum aneh. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama berdamai dengan luka kehidupannya.
“Anakku,” katanya pelan, “aku datang bukan karena aku suci. Aku justru datang ke mesjid ini, karena aku tahu, diriku ini sangat kotor dan penuh dosa.”
Rahman terdiam sejenak. Namun sesaat kemudian, egonya memuncak kembali seperti ombak yang tak mau kalah oleh kerasnya batu cadas.
“Justru karena itu, kau harus tahu diri,” jawabnya kasar, dengan mata melotot..
Perempuan itu bangkit perlahan dan beranjak pergi. Sebelum pergi, ia berbisik seperti angin yang menyelinap di celah pintu. “Semoga Tuhan tidak memperlakukanmu seperti engkau memperlakukanku hari ini.”
Hari demi hari berlalu. Rahman kian sombong beragama. Ia semakin sering mengutip surga. Semakin fasih menggambarkan neraka. Kata-katanya seperti pedang tajam. Namun ia lupa satu hal, bahwa pedang yang terlalu sering diayunkan akan melukai pemiliknya.
Hingga suatu malam, ia bermimpi sedang berdiri di padang yang luas tanpa batas. Tak ada mimbar disana. Tak ada jamaah disana. Yang ada hanya dirinya… dan suara entah siapa.
“Rahman,” suara itu memanggil dari dalam dirinya sendiri. Bukan dari luar dirinya.
Ia melihat tasbih di tangannya. Tasbih itu berubah menjadi rantai yang membelit pergelangannya. Setiap butirnya memunculkan wajah-wajah yang pernah ia hakimi dan sakiti. Mereka tidak marah. Mereka hanya diam. Dan diam mereka lebih menakutkan daripada murka mereka
“Ini apa?” tanyanya gemetar.
“Ini kata-katamu, yang kau kira adalah doa-doamu,” jawab suara itu. “Kata-katamu itulah yang berubah menjadi luka di hati orang lain.”
Rahman tersungkur jatuh. Berlutut.
“Apa salahku ? Bukankah semua itu kulakukan demi membela agama-Mu…”
Suara itu terdiam sejenak, lalu berkata ; “Agama-Ku tidak pernah meminta untuk dibela dengan kesombongan.”
Tetiba Rahman terbangun dengan napas tersengal-sengal. Untuk pertama kalinya tasbih di tangannya terasa begitu berat. Tasbih itu, ternyata bukan sekadar alat zikir, pun menjadi saksi perbuatannya yang penuh dosa.
Subuh itu, ia berjalan ke masjid dengan langkah berbeda. Bukan lagi melangkah seperti seorang hakim. Ia melangkah layaknya seorang terdakwa.
Sesampainya di mesjid, Ia duduk di sudut mesjid, tempat perempuan tua itu pernah duduk. Tak terasa air matanya mengalir deras. Ia berdoa bukan lagi dengan kata-kata yang indah. Ia berdoa dengan air mata yang jujur.
“Tuhanku… jika Engkau harus memilih antara kesalehanku dan kasih-Mu… Maka hancurkan saja kesalehanku ini.”
Angin subuh masuk pelan ke dalam masjid, seolah-olah membawa kabar bahwa langit tiak pernah membutuhkan manusia yang merasa paling dekat dengan-Nya.
Karena sering kali, yang paling jauh dari Tuhan… Justru mereka yang merasa paling dekat.
Dan …
Rahman akhirnya mengerti, bahwa menjadi relijius tapi tak punya cinta, seperti menyalakan lampu di siang bolong. Terang, namun tak menerangi siapa pun. Weleh, weleh, weleh.












