“The Crucial 60 Years” Mayjen Purn Dody Hargo

0
45
- Advertisement -

Resensi Buku oleh Egy Massadiah

Anggap saja ini sebagai disclaimer: Saya bukanlah seorang bibliofilia. Tapi terhadap buku, sikap saya persis seperti apa yang pernah diutarakan penulis Amerika Serikat, Gary Edward “Garrison” Keillor. Katanya, “Buku adalah hadiah yang bisa kamu buka berulang kali.” Maknanya, buku adalah “kesenangan yang tak pernah berakhir”.

Begitulah perasaaan saya ketika berjumpa sahabat lama, yang lama tak berjumpa: Mayor Jenderal TNI Purn Dody Hargo. Nama panjangnya, Dody Usodo Hargosuseno. Hari Senin 27 Januari 2026 kami bersua sambil makan siang, dan dia menghadiahi saya sebuah buku buah tangannya berjudul “The Crucial 60 Minutes, Years, and Stories”.

Melahap buku berukuran A5 dengan ketebalan 154 halaman, bukan pekerjaan sulit. Apalagi, fontasi yang besar, sangat memanjakan mata. Ditambah foto-foto full-color yang menghiasi halaman demi halaman.

Melihat tahun penerbitan 2021, seketika saya sadar tentang dua hal. Pertama, buku ini ia tulis bertepatan ulang tahunnya yang ke-60. Kedua, sadar bahwa buku ini terlambat tiba di tangan saya. Tapi beruntung saya kebagian buku cetakan yang kedua.

Menyelami halaman demi halaman, segera saya menjumpai “keganjilan” sebagai sebuah buku pada lazimnya. Tidak ada judul pada tiap-tiap tulisan. Kalaupun ada judul, redundan. Judul yang sama, bisa ditemui di berbagai halaman secara acak.

Sebelum melanjutkan membaca, saya mengulang dari awal. Mencari daftar isi. Oh… baru paham, bahwa ini bukan buku biasa. Ini buku memang luar biasa. Penulis (Dody Hargo) mengklaster tulisan-tulisan menjadi enam bagian. 1). Cerita Nyawa; 2). Cerita Nakal; 3). Cerita Pembelajar; 4). Cerita Bukan Militer Banget; 5). Cerita Kesetiaan, dan 6). Cerita Egois.

Tulisan-tulisan lain, menjadi pelengkap sekaligus penyedap buku. Ada Apresiasi Menko PMK Prof Muhajir Effendi, Sambutan Kasad, Sambutan Wamenhan, pengantar tulisan tentang “Wanita-wanita Hebat”, testimoni tentang Dody Hargo, dan CV penulis.

Dua tulisan di awal “Pengantar: Mengapa Buku ini Hadir?” dan “Wanita-wanita Hebat” sungguh sangat menyentuh. Dody menulis, “Buku ini hadir sebagai bukti keberhasilan didikan seorang ibu, Almarhumah Hajjah Sri Utami….” Isinya adalah inspirasi kebaikan.

Sekalipun buku ini tentang cerita-cerita krusial seorang Dody Hargo, tapi jangan berharap sebuah narasi runut mulai dari kehidupan masa kecil di Padang, hingga hari ini sebagai Komisaris Utama BUMN PT Adhi Karya. Untuk diketahui, meski berdarah Jawa, lidah Dody teramat lentur berbahasa Minang. Untuk cengkok dan medoknya, seorang asli Minang pun yang pernah jalan bareng bersama kami, mengakuinya.

Dalam bukunya, Dody yang lulusan Akmil 1984, tidak sedang bercerita tentang success story. Ia sedang menulis “berita kisah”, human interest dalam ragam tulisan jurnalistik.

Es Mambo dan Tsunami

Cerita pertama dibuka dengan bencana banjir di Situbondo, saat ia menjabat Komandan Kodim di sana. Kisah berikutnya lompat ke masa pengabdian di Timor Timur. Berikutnya, balik lagi ke cerita menarik lain saat menjadi Dandim 0823/Situbondo.

Narasi di halaman berikut sudah lompat lagi ke cerita unik masa kecil di Padang saat ia berjualan es medan (es mambo). Tiba-tiba di halaman berikutnya, kita disuguhi kenangan saat ia merasakan terbang tandem menggunakan pesawat tempur F15/Tiger tahun 2009 di Balikpapan.

Tulisan yang mengisahkan tsunami Aceh 26 Desember 2004 membuat siapa pun yang membaca ikut terharu. Betapa tidak, saat tsunami terjadi ia sedang memimpin operasi Darurat Sipil I di Aceh, dan menjadi salah satu korban.

Berada di Meulaboh saat gempa dahyat mengguncang bumi, hingga air laut merangsek ke daratan, lalu menyeret kembali ke laut semua yang bisa diseret: Rumah, mobil, motor, manusia…..

Dody termasuk yang terhantam ombak dan terseret arus balik laut Samudera Hindia. Saat terseret arus dan terapung-apung di laut, ia masih sempat memandangi anggotanya melakukan pertolongan di bibir pantai.

Selang beberapa saat kemudian, ombak setinggi 12 sampai 20 meter datang kembali. Menggulung apa saja yang bisa digulung. Ombak ganas yang seolah ingin melumat dan menenggelamkan apa saja.

Dody berpegang pada dua dirigen botol minyak goreng, agar teta bisa mengapung. Delapan jam lamanya ia terombang-ambing di laut, menelan air asin bercampur sampah dan darah. Badan mulai lelah. Tak tahu arah. Sampailah ia pada titik pasrah. Sempat ia memanggil-manggil ibu…. “Ibu… tolong aku….”

Testimoni untuk Dody

Begitu mengalir gaya bertutur Dody dalam bukunya. Lugas pula bahasanya. Persis pembawaan sehari-hari yang humoris, blak-blakan.

Tak terasa, kisah berakhir. Isi buku berganti ke testimoni orang-orang dekat, sahabat, sampai ajudan. Kontan hati kecil ini berkata, “saya ingin juga bertestimoni tentangnya”.

Berhubung tidak sempat menulis dan tercetak di buku, biarlah saya tuliskan testimoni saya tentang Mayjen Purn Dody Hargo.

Begini, persinggungan dengannya banyak berkaitan dengan tugas saya sebagai Tenaga Ahli Bidang Media Kepala BNPB/Staf Khusus, Letjen TNI Doni Monardo (al fatihah untuk almarhum), 2019 – 2021. Kebetulan, pada tarikan waktu yang bersamaan, Dody –untuk kedua kalinya—dilantik (kembali) sebagai Deputi Menko PMK Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan wilayah dan Penanggulangan Bencana. Klop, bukan?

Berkali-kali kami terlibat dalam bidang tugas yang beririsan, baik bencana alam maupun non alam (Covid-19). Misalnya akhir Februari 2020, saat kami mengunjungi Pulau Sebaru Kecil di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau yang menjadi lokasi observasi TNI yang menjadi ABK Kapal Pesiar World Dream dan Diamond Princess.

Kami mendarat dengan helikopter di bibir pantai Sebaru. Baling-baling menderu, sebagian pasir pantai muncrat memasuki sepatu. Karena landasan heli bersifat darurat, maka kami hanya di-drop untuk turun dan selanjutnya heli melenggang terbang lagi.

Turut dalam rombongan peninjauan ke Pulau Sebaru antara lain Jubir Satgas Covid-19, (alm) Achmad Yurianto dan Marsekal Pertama TNI Jorry Soleman Koloay (sekarang Dan Seskoau berpangkat Marsekal Muda).

Selang beberapa hari kemudian kami berjumpa lagi di Bandara Kertajati, Majalengka. Menjemput pesawat Garuda Indonesia Airbus A330 yang mengangkut 69 WNI kru ABKI Diamond Princess yang diduga terpapar Covid-19. Nah mereka inilah yang nantinya di-observasi di Pulau Sebaru Kecil.

Ada juga kisah yang membuat detak jantung berdegup kencang. Bersama Dody Hargo, Kepala BNPB Doni Monardo, Menko PMK Muhadjir Effendy, terbang naik helikopter dari bandara Atang Sanjaya Bogor. Sedianya menuju lokasi longsor di Babakan Madang, Bogor, awal 2020.

Baru saja “capung besi” mengudara tiga menit, tiba-tiba pilot memberi tahu adanya gangguan teknis. Pilot memutar arah kembali ke Atang Sanjaya. Di bidang aviasi, itu yang disebut RTB atau Return to Base. Semua penumpang diam, wajah tegang, berdoa untuk selamat.

Cerita menarik berikutnya lebih kepada “apes”. Suatu hari, rombongan BNPB, di dalamnya juga terdapat pejabat Kemenko PMK Mayjen Dody Hargo, anggota DPR, dll terbang ke Sentani, Papua.

Usai menempuh penerbangan 5,5 jam, kami landing di Sentani. Sebelum menuju lokasi sesuai run-down, mendadak Kepala BNPB Doni Monardo memberitahukan rombongan harus kembali ke Jakarta. Sekarang juga, karena ada kegiatan yang lebih penting.

Kami baru mau cuci muka saat pemberitahuan itu sampai di telinga. Apa lacur, kembalilah kami ke Jakarta dengan pesawat yang sama. “Badan belum lurus, udah terbang lagi,” guman Dody Hargo yang disambut tawa kecil anggota rombongan.

Juara Karya Tulis

Sebelum saya akhiri catatan ringan ini, sidang pembaca layak tahu –dan perlu saya beri tahu— sedikit riwayat si penulis buku: Dody Hargo. Pria Jawa kelahiran Padang 5 Maret 1961 ini memiliki nama yang bermakna, “Dody berusaha menjadi anak gunung yang baik”.

Tentang apa-siapa dia, sejatinya tidak terlalu sulit untuk melacaknya di Wikipedia. Yang jelas, Dody adalah orang paling ganteng di keluarga. Pasalnya, dari sang istri, Kurniasari, SM (Sarjana Muda Akuntansi), ia dikaruniai dua anak yang keduanya cantik-cantik. Mereka adalah drh Nurdysa Diliana Putri, dan Ayu Sekar Putri, S.P.

Di bidang pendidikan, Dody terbilang komplit. Sebagai pria kelahiran tahun 1961, ia bahkan mengenyam pendidikan Taman Kanak-kanak. Namanya TK Kutilang Solok, Sumatera Barat (sekarang TK Kartika). Pendek kata, pendidikan formal (TK hingga S2) dan pendidikan militer, berderet cukup panjang jika diurai.

Yang tak kalah lengkap adalah riwayat penugasan, baik penugasan di medan operasi maupun penugasan luar negeri. Tercatat lima operasi militer, mulai dari Timtim sampai Aceh, dan 14 penugasan luar negeri, mulai dari Singapura sampai Belanda.

Di bukunya, ada yang cukup membetot perhatian saya saat membaca riwayat hidup. Pada bagian “Prestasi Militer”, terjawab mengapa buku ini begitu menarik. Kiranya, Dody memang seorang penulis berprestasi.

Dua kali ia menyabet gelar Juara 1. Yang pertama, Juara I Karya Tulis Militer (Teritorial) Tingkat TNI-AD. Kedua, Juara I Karya Tulis Militer (Teritorial) Tingkat TNI. Di luar itu, ia telah mempublikasikan belasan karya tulis.

Last but not least, cukup menarik pernyataan Dody menjawab pertanyaan, “Apa yang ia rasakan setelah (melewati) usia 60 tahun?” Katanya, “Tidak perlu merasa terbatas. Lawan usia dengan cerdas. Apa pun capaian, jangan cepat puas. Setiap waktunya tidak lupa dengan yang DI ATAS.”

Bravo, jenderal…!!!

Penulis adalah jurnalis senior, pegiat teater

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here