Tiga Datuk Minangkabau Hijrah Menebar Ajaran Agama ke Jazirah Sulawesi

0
33
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

Terdapat empat unsur penting dalam memahami dan menyerap makna Ranah Minangkabau. Unsur tersebut, secara antropologis, tercermin dalam konsep Tigo Tungku Sejarangan: Nini Mamak, Cerdik Pandai, dan Ulama.

Peran ketiganya diuraikan dalam filosofi: Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Filosofi ini kemudian diintegrasikan dan diimplementasikan dalam prinsip Alam Takambang Jadi Guru.
Tiga Datuk dari Ranah Minangkabau yang diabadikan namanya adalah:

Datuk ri Fatimang di bumi Sawerigading Opunna Ware, Luwu, Datuk ri Bandang di Butta ri Kamaseang, Makassar, Datuk ri Tiro di Butta Toa, Bulukumba

Ketiga datuk ini hijrah berdakwah, membawa ajaran Islam ke Aceh dan Jawa, sebelum akhirnya menuju Jazirah Sulawesi, tanah Bugis-Makassar.

- Advertisement -

Di tanah Bugis-Makassar saat itu telah tumbuh peradaban tradisi kuno sejak abad ke-6 dan ke-7, pada masa kehadiran Sawerigading, yang diyakini sebagai titisan Dewa Langit. Peradaban tradisional ini kemudian beradaptasi dengan ajaran yang dibawa oleh tiga datuk tersebut.

Diperkirakan pada abad ke-15 dan ke-16, ajaran tersebut dianut sebagai agama kerajaan, dan para raja pun mulai bergelar Sultan.

Jejak warisan Adat, Syarak, dan Tauhid itu kemudian menjadi bagian dari peradaban genetis Bugis-Makassar, yang teraktualisasi dalam karakter Eppa Sulapa:
Malempu (jujur)
Macca (bijaksana)
Warani (berani)
Magetteng (teguh/ konsisten antara kata dan perbuatan)

Seyogianya, peradaban yang terintegrasi antara Adat, Syarak, dan Tauhid ini diabadikan sebagai The Memory of Bugis-Makassar, baik dalam teks literatur, panggung (on stage), maupun layar (on screen/cinema).

Pertemuan dan interaksi peradaban Minangkabau dan Bugis-Makassar telah menginspirasi perkembangan peradaban kemanusiaan dan sistem pemerintahan bangsa.

Waris Genetis
Sekian lama saya tidak berjumpa dengan sahabat, almarhum Ihsan Amar. Kemudian, Wiwiek Sipala—Daeng Baji, seniwati tari senior alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ)—membagikan rencana pentas “Tiga Datuk: Adat, Syarak, dan Tauhid”.

Dari situ terbayang kembali hubungan keakraban saya dengan sahabat penulis naskah tersebut. Saya pun menghubungi putranya, Sabibul, yang menyutradarai pentas itu. Ia menceritakan bahwa ayahnya sering berkisah tentang persahabatan kami.

Dalam pentas tersebut, para pemerannya antara lain Ancoe dan Ilham Anwar—putra sulung Sinarwati dari Soppeng—serta sebagian kru berasal dari keluarga sendiri.
Saya sungguh terharu dan bangga menyaksikan pentas itu bersama Kak Aspar Parurusi dan istrinya Sulasmi, Riri Riza beserta istri dan putra-putranya, serta Aba Arsal Al Habsy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here