Penguasa lebih senang dikritik ketimbang ditertawai
Kolom Alif we Onggang
Karena rakyat tidak punya senjata, maka mereka melawan dengan kata-kata yang lebih tajam ketimbang pedang. Kata-kata ini dibungkus dalam humor yang satir, sublim atau vulgar sekalipun.
Daripada diejek dan ditertawai, kekuasaan lebih senang jika dikritik. Bila terusik, penguasa lewat organ-organnya mudah membungkam kritik, segampang memiuhkan krupuk jadi melempem.
Sekiranya dengan humor? Ia tidak bisa dihentikan, sebab ia ada di setiap kepala; lewat meme, reel atau tiktok. Pada era Orba, humor hidup dalam ruang gelap di bawah tanah atawa obrolan warung kopi dan ruang-ruang terbatas.
Saat ini humor membuncah di media sosial. Kasar, telanjang dan dangkal, tanpa basa basi sehingga orang tak perlu memutar otak lagi. Dalam sekejap ia dapat mendatangkan tinjauan ratusan ribu views.
Itulah sebab rezim otoriter seperti Orba takut pada humor karena dapat merobohkan basis kekuasaan dan kesakralan mereka, — sambil tertawa sinis si pengejek membikin kuasa tak bisa tidur.
Kini humor sulit disensor karena menyebar seperti virus dan viral secepat wabah. Humor mendapatkan kanalnya di sejumlah platform media sosial. Lewat kecerdasan buatan, humor melawan dengan cara paling maknyus dan langsung kena sasaran tembak.
Lantaran itu humor tak bisa dilawan dengan kekerasan. Malaporkannya ke aparat atau menangkap orang karena tertawa? Hehehe…Itu artinya penguasa terlihat konyol dan pandir. Represi justru memperkuat humor dan kian menjadi-jadi dan tak henti mengejek bahkan bisa membuat petisi dan unjuk rasa.
Saban hari berbagai rangkaian peristiwa menunjukkan bagaimana humor menggerogoti penguasa dan membikinnya cemas dan adakalanya kehilangan akal. Mens Rea Panji, berikut parodi dan satire di media sosial adalah cerminan bagaimana humor menelanjangi kekuasaan, mengulitinya dengan sarkasme.
Seorang polisi menersangkakan pengejar jambret, di lain tempat seorang tentara mengkriminalisasi penjual es spon, dengan tafsir hukum yang dingin, kaku dan pongah. Keduanya bukan oknum, tapi instrumen negara dalam skala paling kecil: bagaimana menghukum dan melakukan kekerasan terhadap rakyat kecil. Belakangan keduanya tak berkutik karena diparodikan lewat humor-humor satir seraya mempretelinya dengan telanjang.
.
Elemen penguasa ini tidak berdiri sendiri. Mungkin saja ini sistemik dan struktural dan cenderung mempraktikkan terorisme negara, sebagaimana merujuk pada buku State Terrorism and Political Identity, (2006).
Sebab itu ia menciptakan rasa takut dan tentu berupa teror agar semua orang tunduk pada penguasa. Bingkisan kepala babi, misalnya.
Apa kurangnya Orde Baru yang, begitu perkasa hanya bisa dilawan dengan humor-humor yang sublim. Entah lewat lenong, puisi, karikatur, atau lukisan, pamflet hingga esai.
Bersama Gus Dur dan Mahbud Junaidi; dua penulis par excellence dan belum ada tandingannya dalam sejarah kepenulisan humor di Indonesia, mampu mengiris penguasa lewat kalimat-kalimat yang penuh ironi, cerdas dan intelek. Tapi dibutuhkan tingkat pengetahuan tertentu dan konteks sosial jika Anda ingin meresapi humor-humor yang diletupkan kedua cendekiawan ini.
Gus Dur yang memberi pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia (1986) berisi satire tentang orang Rusia dibawa pemerintahan yang menindas dan zalim. Mahbud menulis kolom kolom dengan selera humor tingkat dewa, tak terduga, subversif, tapi tak membuat sakit hati bagi penguasa yang dibidiknya.
Di negara-negara tiranik, seperti Irak, China atau Rusia, dan Indonesia dibawah Soeharto, humor sembunyi di bawah tanah lewat plesetan, singkatan; kritik disamarkan sebagai kebodohan tokoh fiktif. Humor hidup dengan bisik-bisik. Tapi begitulah, humor sebagai katup pengaman sosial paling aman, pelepas masyarakat yang hidup tertekan.
Di Uni Soviet (Rusia) seniman dan penulis seperti Mikhail Bulgakov dan Petrov, dikenal sebagai pentolan satire anti-rezim. Mereka mengolok birokrasi, sensor, dan absurditas negara totaliter lewat fantasi dan humor gelap. Humor tentang korupsi, oportunisme, dan kebodohan aparat dihabisi dengan cara lucu.
Yang paling konyol adalah Abunawas. Ia hidup sekitar 756–814 M
di pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid di Irak. Abunawas terkenal karena pura-pura bodoh, dan melawan raja yang penuh intrik, lewat kritik alegoris (kiasan). Abunawas juga berfungsi sebagai alat pendidikan moral rakyat untuk menertawakan,
keserakahan, kemunafikan, dan
ketololan yang berkuasa.
Nah, di era Panji, di mana kebenaran dan kepalsuan setipis kulit bawang,
humor lebih terbuka dan telanjang tanpa tedeng aling aling. Komika berani menyebut nama, lalu media dan panggung jadi ruang kritik. Penonton suka dan merasa terhibur di tengah impitan ekonomi dan politik yang centang perenang. Penonton memerlukan figur yang menyuarakan kemasygulannya.
Tapi Mens Rea Panji terasa biasa saja kritiknya dibanding humor-humor sarkatis dan banal dari warganet yang seenak pikirannya dan punya otoritas sendiri meluapkan kekesalannya dalam bentuk meme, video ringkas. Tanpa komando, humor warganet Indonesia bisa menular jadi inspirasi bagi kaumnya di Nepal, Madagaskar, Philipina, bahkan Perancis.
Begitulah itu, lelucon adalah bentuk perlawanan paling aman, tapi paling mengkhawatirkan buat penguasa.
Eh, bukankah Tuan Presiden sendiri kerap menyemburkan humor-humor parakdoks? Yang teranyar, Tuan pernah bilang, orang Indonesia paling bahagia di dunia, meskipun miskin (sederhana).
Kok bisa bahagia? Ini karena biarpun menderita, masyarakat masih punya sense of humor yang cukup tinggi. Lagipula rakyat Indonesia suka menertawakan dirinya sendiri. Itulah kualitas humor paling gres dan dewasa.
Bukan begitu kaka?
Alif we Onggang, jurnalis dan esais. Penulis buku Barani, Hidup dengan Martabat, Mati dalam Gairah













