Demo: Jalan Pintas Menuju Kursi Empuk

0
88
- Advertisement -

Catatan Aprial Hasfah 

Setiap kali ada demo, kita selalu terbayang wajah-wajah penuh semangat, suara lantang di jalanan, dan spanduk-spanduk sarat tuntutan. Namun, di balik semua itu, ada “rahasia umum” yang sering membuat orang tersenyum miring: demo tidak selalu tentang idealisme, tapi juga tentang masa depan karier.

Sejarah sudah membuktikannya. Mereka yang dulu berteriak di jalanan, menolak penguasa, kini duduk manis di kursi kekuasaan. Ada yang jadi menteri, ada yang duduk di parlemen, bahkan ada yang mendapat jatah komisaris BUMN. Dari buruh hingga mahasiswa, semua bisa naik kelas jika rajin turun ke jalan.

Tak heran bila hari ini banyak yang kembali bersemangat berdemo. Mereka berpikir, “Kalau para senior dulu bisa naik pangkat dari jalanan ke jabatan, kenapa kita tidak?” Toh, demo bisa menjadi investasi. Sambil meneriakkan “hidup rakyat!”, siapa tahu masa depan juga ikut hidup.

Lucunya, siapa pun yang berkuasa tidak terlalu penting. Entah pemerintah berganti warna, partai, atau slogan, jalan tetap menjadi panggung. Karena yang terpenting: kalau tidak bisa jadi menteri, setidaknya bisa jadi komisaris.

Akhirnya, demo pun berubah wajah: dari perlawanan menjadi semacam “job fair politik”. Bedanya, bukan membawa CV, melainkan spanduk dan toa dengan teriakan lantang…

Penulis, Sekjen KKBS Soppeng 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here