PINISI.co.id- Badan Pengurus Nasional Ikatan Kerukunan Keluarga Gowa (BPN IKKG) menggelar kegiatan buka puasa bersama yang melibatkan Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS), Pilar-Pilar KKSS, serta warga Gowa di wilayah Jabodetabek. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 21 Februari 2026, di Mampang Square Tower C, Lantai 2, Wisma Haji dan Umroh Indonesia, Jalan Mampang Prapatan Raya No. 88, Jakarta Selatan.
Acara yang dimulai pukul 16.00 WIB ini dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya mantan Ketua Umum KKSS Hasanuddin Massaile, Ketua Dewan Pakar KKSS M. Jafar Hafsah, jajaran ketua pilar KKSS, serta pengurus Pilar Gowa, selain Ketua Umum BPN IKKG Awaluddin Tjalla dan Sekretaris Umum Mubha Kahar Muang Daeng Ngagi.
Hikmah Ramadhan disampaikan oleh Muhklis Paeni, dengan topik “Membumikan Nilai-nilai Kejuangan dan Religiusitas Syekh Yusuf Al-Makassari”. Dalam ceramah yang dipandu Arief Rosyid ini, ia mengulas secara mendalam perjalanan hidup, perjuangan, serta warisan intelektual dan spiritual Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama besar kelahiran Gowa yang diakui tidak hanya di Nusantara, tetapi juga di Banten dan Afrika Selatan.
Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, dari keluarga bangsawan. Sejak kecil ia telah menempuh pendidikan yang komprehensif, meliputi budi pekerti dan adat Makassar, ilmu keagamaan, serta pendidikan kewiraan. Dalam tradisi Gowa, dikenal tiga unsur penting yang harus dimiliki generasi muda, yakni darah Bajau (etika dan adat), Melayu (ilmu pengetahuan), dan Makassar (kewiraan dan kepahlawanan).
Perjalanan intelektual dan spiritual Syekh Yusuf membawanya merantau ke berbagai pusat keilmuan Islam, mulai dari Banten, Aceh, Gujarat, Yaman, Mekkah, Madinah, hingga Damaskus. Ia mendalami berbagai tarekat besar dan memperoleh lima ijazah tarekat, menjadikannya mursyid yang diakui secara luas.
Dalam ranah politik dan perjuangan, Syekh Yusuf dikenal sebagai mufti dan penasihat Sultan Ageng Tirtayasa di Banten. Ia memimpin perlawanan terhadap VOC setelah terjadinya konflik internal di Kesultanan Banten. Akibat perjuangannya, ia ditangkap dan diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka), kemudian dipindahkan ke Afrika Selatan. Di Cape Town, pengaruh dakwah dan spiritualitasnya tetap kuat, bahkan menjadi inspirasi bagi perjuangan kesetaraan dan anti-apartheid. Nelson Mandela secara terbuka mengakui besarnya warisan spiritual Syekh Yusuf bagi Afrika Selatan.
Muhklis Paeni menekankan pentingnya membumikan kembali nilai-nilai Syekh Yusuf, yaitu kebijaksanaan, intelektualitas, dan kepahlawanan, secara seimbang dalam kehidupan generasi Bugis-Makassar masa kini. Ia juga mendorong adanya festival budaya “South to South” yang menghubungkan Sulawesi Selatan dan Afrika Selatan, peningkatan kesejahteraan keturunan Syekh Yusuf, khususnya di Cikpual, serta upaya pelestarian karya-karya tulisnya.
Sementara itu Ketua Umum BPN IKKG, Awaluddin Tjalla, menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama ini tidak sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga untuk memperkuat persatuan warga Gowa di perantauan serta meneguhkan kembali semangat perjuangan dan religiusitas yang diwariskan Syekh Yusuf Al-Makassari.
Acara berlangsung khidmat dan penuh kehangatan, ditutup dengan buka puasa bersama dan doa, mempererat ikatan persaudaraan warga Gowa dan keluarga besar KKSS di Jabodetabek. (Lif)














