Hujan Tak Pernah Menagih Imbalan

0
32
- Advertisement -

Kolom Atang Lasawedi 

DI BERANDA rumah kayu itu, seorang lelaki tua bernama Ambo menadahkan wajahnya. Air hujan membasahi pipinya, laksana air yang mengisi kembali sungai-sungai kecil yang lama mengering. Ia tersenyum gembira, bukan lantaran wajahnya basah oleh air hujan. Ia tersenyum lantaran ia tahu, tak ada yang lebih jujur daripada hujan.

“Lihatlah,” katanya kepada cucunya yang berdiri di ambang pintu, “hujan tak pernah memilih siapa yang menadahnya. Ia hanya tahu caranya turun.”

Cucunya mengerutkan dahinya. “Mengapa hujan tak meminta bayaran, Kek? Bukankah air itu berharga?”

Ambo tertawa kecil. Tawanya seperti gemericik air di selokan yang mulai penuh. “Karena hujan tahu, kalau ia mulai menagih, ia bukan lagi rahmat—ia berubah menjadi barang dagangan.”

Anak itu terdiam.

Di kejauhan, anak-anak lain berlari di bawah hujan. Mereka tertawa seperti burung-burung yang menemukan kembali langitnya. Sementara itu, di tempat lain di sudut pasar, seorang pedagang yang terkenal pelit, berdiri memaki-maki hujan, lantaran barang dagangannya basah oleh air hujan. Namun, meski dimaki-maki, hujan tetap turun di atas kepala pedagang itu, sama seperti hujan yang turun di atas kepala anak-anak yang bersukacita itu.

Ternyata hujan tak tersinggung oleh makian. Ia tak tersanjung oleh pujian. Ia hanya setia pada tugasnya, yakni turun membasahi bumi.

Hujan memang turun begitu saja, meski tak ada suara yang meminta. Ia tak menuntut kuitansi. Dan tak membawa daftar nama siapa yang berhak menerimanya. Ia tak bertanya siapa yang rajin beribadah, siapa yang gemar berbuat culas. Ia tak membedakan atap masjid atau atap gudang, halaman orang saleh atau kebunnya penipu. Hujan hanya jatuh—dan dalam jatuhnya, ia mengajarkan sesuatu yang tak diajarkan oleh banyak guru, memberi tanpa menagih.

Malam itu, Ambo duduk sendirian di teras rumahnya. Ia teringat masa mudanya ketika ia memberi dengan penuh perhitungan, membantu dengan beragam syarat, mencintai dengan banyak tuntutan. Ia seperti awan yang enggan menurunkan airnya sebelum memastikan ladang itu miliknya. Dan setiap kali ia menagih balasan, yang ia dapat hanyalah kecewa.

Baru ketika hidup menghancurkan egonya—seperti petir memecah langit—ia kemudian belajar dari hujan. Bahwa memberi, bukan soal seberapa banyak yang kembali. Memberi adalah seberapa ringan hatimu ketika melepas.

Nah, hujan tak lain adalah metafora dari jiwa yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia jatuh karena memang harus jatuh. Ia memberi karena memang itu hakikatnya. Ia tak menunggu ucapan terima kasih. Tak menulis nama di batu nisan ladang yang ia hidupkan. Bahkan ketika airnya mengalir ke selokan dan bercampur lumpur, ia tak pernah menuntut penghargaan.

Esok paginya, suasana kota berubah. Tanah yang retak itu, kini menjadi lembut kembali. Daun-daun menegakkan tubuhnya seperti orang yang baru selesai sujud. Sumur-sumur terisi kembali. Orang-orang bersyukur, meski sebagian diantaranya, lupa pada siapa mereka harus berterima kasih.

Ambo berjalan pelan menyusuri jalan yang masih basah itu. Ia memungut ember kecil yang semalam ia letakkan di halaman. Ember itu penuh dengan air hujan. Ia memandang isinya sejenak, lalu menuangkannya ke pot tanaman tetangga yang sudah lama meranggas.

Cucunya melihatnya dan bertanya, “Mengapa Kakek tidak menyimpannya saja? Itu kan air kita.”

Ambo tersenyum penuh arti. “Kalau hujan saja tak pernah mengaku ‘ini airku,’ mengapa kita begitu mudahnya mengaku ‘ini milikku’?”

Anak itu terdiam, seperti langit yang terdiam saat badai telah reda.

Dan hujan, entah di mana ia berada, mungkin sudah berubah menjadi uap, naik kembali tanpa pamit. Ia tak membawa kwitansi dari ladang yang ia selamatkan. Tak membawa daftar terima kasih yang diucapkan manusia. Ia hanya kembali pada asalnya.

Sejak hari itu, Ambo belajar menjadi hujan kecil dalam hidupnya. Ia memberi tanpa mengumumkan. Ia menolong tanpa mencatat. Ia mencintai tanpa menagih.

Karena ia tahu, pada akhirnya, yang membuat air hujan menjadi rahmat bukanlah jumlahnya, melainkan ketulusannya untuk turun tanpa meminta bayaran kepada siapa pun yang menadahnya.

Dan…
Di kota kecil yang dulu retak itu, orang-orang mungkin tak sadar, bahwa bukan hanya tanah yang disuburkan oleh hujan, pun juga jiwa-jiwa yang diam-diam belajar untuk memberi seperti langit—tanpa kuitansi, tanpa syarat, tanpa tagihan, dan seterusnya. Wuiihh indahnya. Weleh, weleh, weleh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here