dr. Dea dan dr.Mulan Melukis Pelangi di Tanah Pengabdian Buton Tengah

0
31
- Advertisement -

Kolom  Bachtiar Adnan Kusuma
Tokoh Literasi Nasional dan Penulis

SAYA memilih merayakan Idulfitri 1447 Hijriah bukan di ruang-ruang nyaman, melainkan di sebuah puskesmas di ujung peta: Wadiabero, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara.

Di tempat ini, takbir tidak selalu menggema keras.

Ia kerap kalah oleh suara batuk pasien, langkah tergesa tenaga medis, dan napas panjang orang-orang yang menggantungkan harapan pada kesembuhan.

Dan, perjalanan ini bukan sekadar pulang.

Ia adalah ziarah batin seorang ayah. Selain menjenguk cucu tersayang, Dzakira Thalita Delafarsyah (6 tahun), saya juga merayakan hari kemenangan bersama dua anak tercinta: dr. Dea dan dr. Mulan—dua nama yang kini lebih akrab dengan stetoskop daripada pangkuan keluarga.

Didampingi istri tercinta, Ani Kaimuddin Mahmud, serta si bungsu Farhan Alfarisi Kusuma, saya menyaksikan dari dekat bagaimana suka dan duka menjadi dokter di daerah terpencil menjelma menjadi cerita harian yang tidak pernah ditulis dalam buku teks kedokteran.

Di Puskesmas Wadiabero, dr. Dea Ambarwati Kusuma mengabdi. Sementara di Puskesmas Sangia Wanbulu, dr. Mulafarsyah menjalankan tugas yang sama: merawat, menjaga, dan menjadi harapan bagi masyarakat.

Di ruang-ruang sederhana itu, pelayanan kesehatan bukan sekadar profesi. Ia adalah sumpah yang hidup.

Sebagai ayah, saya bersujud dalam syukur. Tidak banyak yang dapat diberikan selain doa, kerja keras, dan keyakinan.

Dari usaha kecil menjual buku kelontongan hingga menulis tanpa kepastian, perjalanan panjang itu kini menjelma menjadi dua sosok dokter yang berdiri di garis depan melayani masyarakat.

Universitas Hasanuddin menjadi saksi bagaimana mimpi-mimpi itu dirajut. Dari kampus itulah, anak-anak saya belajar menakar langit, memeluk ilmu, melukis pelangi dan menembus batas-batas keterbatasan. Mereka bukan lahir dari kemewahan. Mereka tumbuh dari kesederhanaan yang keras kepala.

Saya percaya, kemiskinan bukan alasan untuk menyerah. Ia adalah batu pijakan. Sering kali tajam, penuh onak dan duri, tetapi justru membuat langkah lebih hati-hati dan kuat.

Dokter Dea, alumnus Fakultas Kedokteran Unhas dan SMA 17 Makassar, telah mengabdi selama tiga tahun di Sulawesi Tenggara. Ia memilih jalan sepi, jauh dari gemerlap kota. Sementara dr. Mulafarsyah mengikuti jejak yang sama, menguatkan komitmen sebagai tenaga medis di daerah yang membutuhkan.

Di belakang mereka, anak-anak lain juga sedang berjalan di lintasan masing-masing: Ria Atmaranti Kusuma di Fakultas Psikologi UNM, Safwan Ariyadi Kusuma di UIN Alauddin yang segera menyelesaikan studinya, dan Farhan Alfarisi Kusuma sebagai santri di Ponpes DDI Mangkoso.

Mereka adalah mozaik harapan yang disusun perlahan, dengan kesabaran yang panjang.

Kenangan paling menggetarkan adalah saat Dea dan Mulan mengucapkan sumpah profesi dokter di Auditorium Prof. Dr. Achmad Amiruddin, Universitas Hasanuddin, pada 1 November 2022. Sumpah itu bukan sekadar formalitas. Ia adalah janji yang kini hidup di pelosok-pelosok negeri, di tempat-tempat yang jarang disorot kamera.

Di titik ini, saya ingin menegaskan satu hal sederhana, yaitu tidak ada alasan bagi orang tua untuk menyerah pada keadaan.

Keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi dalih untuk mematikan masa depan anak-anak. Justru di situlah pendidikan menemukan kesannya yang paling dalam.

Teori ekonomi menyebutnya knowledge-driven economy. Namun bagi saya, ia lebih dari sekadar teori.

Ia adalah pengalaman hidup. Pengetahuan bukan hanya jalan menuju kesejahteraan, tetapi juga jalan menuju kehormatan.

Apa yang pernah dikatakan Imam Syafii terasa begitu dekat. Siapa yang menginginkan dunia, tuntutlah ilmu; siapa yang menginginkan akhirat, tuntutlah ilmu.

Kalimat itu bukan sekadar kutipan. Ia adalah bahan bakar yang menjaga nyala harapan tetap hidup.

Dalam setiap keterbatasan, saya selalu berpesan kepada anak-anak, bayar keadaan dengan prestasi. Tebus kekurangan dengan kerja keras. Dan di atas semuanya, gantungkan harapan pada doa.

Saya sadar, sebagai ayah, belum mampu memberikan segalanya. Namun, anak-anak itu memilih memahami, bukan menuntut. Mereka menerima, bukan menyalahkan.

Dan dari penerimaan itulah lahir kekuatan yang tidak terlihat, tetapi nyata.

Dalam sebuah tulisan, dr. Dea pernah menuliskan rasa syukurnya, tentang keluarga sederhana yang dipenuhi cinta, tentang orang tua yang menjadikan pendidikan sebagai prioritas, meski dalam kekurangan.

Kata-kata itu sederhana, tetapi mengandung kedalaman yang sulit diukur.

Bagi saya, anak-anak adalah emas. Bukan emas yang diam, melainkan emas yang harus ditempa. Disepuh dengan kerja keras, diasah dengan ilmu, dan diterangi dengan nilai-nilai keimanan.

Hanya dengan cara itu, mereka akan terus berkilau, bahkan di tempat yang paling gelap sekalipun.

Merayakan Idulfitri di Buton Tengah menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia adalah cermin perjalanan hidup. Tentang bagaimana mimpi tumbuh dari tanah yang keras. Tentang bagaimana doa menjadi jembatan antara harapan dan kenyataan.

Di tengah kesunyian puskesmas, saya melihat masa depan. Bukan dalam bentuk kemewahan, melainkan dalam dedikasi. Dalam pengabdian. Dalam kesediaan untuk hadir bagi orang lain.

Terima kasih, anak-anakku. Kalian telah menerima hidup apa adanya. Dan dari penerimaan itu, kalian menulis takdir kalian sendiri.

Teruslah melukis pelangi. Teruslah terbang bersama mimpimu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here