Guru La Side Menghidupkan “Sulo” dari Bumi Latemmamala

0
40
- Advertisement -

 

Catatan Ahmad Saransi

Pada momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026, masyarakat Kabupaten Soppeng memiliki alasan kuat untuk membusungkan dada. Dari tanah “Kota Kalong” ini, telah lahir seorang tokoh besar yang tidak hanya mengajar di depan kelas, tetapi juga meletakkan fondasi peradaban Bugis melalui literasi dan kebudayaan. Beliau adalah La Side Daeng Tapala, sang pendidik visioner yang lahir di Soppeng pada Desember 1912.

Jejak Pengabdian Sang Pendidik
Lulusan Kweekschool (Sekolah Guru) tahun 1931 ini mengawali baktinya sebagai guru SD di tanah kelahirannya sebelum akhirnya menempati posisi strategis sebagai Kepala Jawatan Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Kontribusi nyata beliau bagi Soppeng bukan sekadar angka dalam laporan administratif, melainkan pilar-pilar ilmu seperti Pendirian Sekolah Guru Atas (SGA) dan Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Soppeng.

Dan menjadikan rumah pribadinya di Makassar sebagai “asrama kasih” bagi warga Soppeng yang merantau demi melanjutkan pendidikan di ibu kota provinsi.

Guru La Side adalah bukti bahwa pendidik adalah penulis sejarah yang paling jujur. Pada usia yang sangat muda, 23 tahun, karyanya Roman Bajak Laut telah diterbitkan oleh Balai Pustaka. Dedikasinya terhadap pelestarian bahasa daerah tak tertandingi melalui buku-buku ajar legendaris yakni Bahasa Bugis: Seri Sulo Jilid I-IV dan Wajeng Pajeng. Bahasa Makassar: Seri Dallè Tabbua Jilid I-IV.
Karya Sejarah & Budaya: Penulisan Lontara Petta Malampèè Gemme’na (3 jilid), Biografi Andi Pangerang Petta Rani, hingga mahakarya menerjemahkan Sure’ I La Galigo.

Pengabdian beliau yang melintasi batas-batas profesi, sebagai Sekretaris Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan Tenggara hingga anggota DPRD Kota Madya Makassar, dan telah diakui di tingkat nasional. Pada tahun 2017, Presiden Republik Indonesia menganugerahkan Satya Lencana Kebudayaan kepada mendiang Guru La Side sebagai bentuk penghormatan atas jasanya yang abadi bagi kebudayaan Indonesia.

Di Hari Pendidikan yang kita petjngati ini, sebuah pertanyaan besar muncul ke permukaan: Sejauh mana kita, warga Soppeng, telah menghargai dan meneruskan api perjuangan Guru La Side? Apakah nama beliau hanya tersimpan dalam arsip berdebu, ataukah semangat literasi dan cinta pendidikannya telah mendarah daging dalam setiap anak muda Soppeng hari ini?

Menghargai jasanya bukan sekadar mengenang, melainkan terus menghidupkan tradisi membaca dan menjaga akar budaya Bugis yang telah beliau perjuangkan seumur hidupnya.

Sudahkah Anda mengenalkan sosok inspiratif ini kepada generasi muda di lingkungan Anda hari ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here