Bona Fide (29)
Kolom Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin
Pernahkah anda merasakan betapa beratnya kalau tidak dipercaya pada satu hal? Satu saja berat, apalagi kalau banyak hal. Itulah hidup, ketidakepercayaan tidak lahir dari ruang hampa. Ada proses dan ongkos sosial yang menyertainya.
Rasa percaya kepada seseorang membutuhkan biaya lebih rendah dibanding mencurigainya. Menjadi orang yang terpercaya itu dasarnya adalah itikad baik. Itikad baik itulah yang membangun “track record” seseorang. Track record itu yang kemudian menjadi jaminan kepercayaan.
Kita menengok praktek transaksi dalam kehidupan sosial. Ternyata, bertransaksi dengan orang yang dipercaya cenderung efisien. Orang tidak membutuhkan banyak waktu untuk bersepakat dengan orang yang selalu memiliki itikad baik. Orang tidak membutuhkan banyak lembaran aturan untuk “deal” dengan mereka yang memiliki track record yang baik.
Bahkan dengan menjadi terpercaya, penghematan ongkos dimulai dengan tidak perlunya membeli materai pada surat perjanjian karena sering tidak dibutuhkan. Jadinya, tingkat keterpercayaan bisa menyederhanakan administrasi.
Berbeda dengan rasa curiga dalam berbagai transaksi kehidupan. Untuk mencurigai dibutuhkan perangkat yang lebih kompleks, diantaranya perangkat rasa “ketidaknyamanan”, “ketidaktenangan”, atau “kewaspadaan”.
Berbeda dengan mempercayai, memenuhi rasa curiga itu membutuhkan radar pengintai, mata-mata, atau spionase untuk memuaskan rasa curiga yang berkecamuk. Berbeda dengan mempercayai yang berakhir dengan tanda baca “titik”, mencurigai sering menggunakan tanda “koma.”
Karena menggunakan tanda koma, maka mencurigai seseorang itu membutuhkan kalimat panjang berupa ulasan atau analisa. Bahasan panjang itu akan berlanjut selama kecurigaan itu masih berlangsung.
Berbeda dengan orang yang mempercayai yang memiliki kemurahan hati, orang yang sering mencurigai memikul beban psikologis yang berat. Hidup dengan orang yang dipercayai memiliki banyak kemudahan, sementara dengan orang yang dicurigai mengakibatkan banyak kelelahan. Seorang anak muda memberanikan diri untuk melamar perempuan idamannya.
Orang tua perempuan itu bertanya berapa kesanggupan uang belanjanya (uang panai). Anak muda itu berkata, hanya satu juta rupiah. Kembalilah ke rumahmu dan ceklah apalagi yang kamu punya, kata calon mertuanya. Tidak lama, pemuda itu datang lagi menyampaikan bahwa dia hanya punya tiga sisir pisang kepok di rumah kosnya.
Calon mertuanya mengatakan karena saya percaya itikad baikmu, maka saya terima lamaranmu dengan uang panai sebanyak “satu juta tiga sisir.” Itulah, menjadi bonafit (terpercaya), selalu bedasar dari bona fide (itikad baik).














