PSBM XXVI: Sudah Saatnya Dari Pertemuan Menjadi Persatuan Saudagar

0
51
- Advertisement -

Kolom Andi Djalal Latief
Ketua BPW KKSS Provinsi Banten

Selama lebih dari dua dekade, Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) telah menjadi ruang berkumpulnya para saudagar dari berbagai daerah. Tahun 2026 ini, PSBM memasuki edisi ke-26, sebuah capaian yang tidak sederhana. Konsistensi selama 25 kali pertemuan sebelumnya menunjukkan bahwa semangat kebersamaan itu nyata dan terus hidup.

Namun, pertanyaannya sederhana: apakah kita akan terus berhenti pada “pertemuan”?
PSBM XXVI yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) pada 25-26 Maret 2026 seharusnya menjadi momentum untuk melangkah lebih jauh. Bukan lagi sekadar ajang silaturahmi, tetapi menjadi titik balik menuju gerakan ekonomi kolektif yang nyata.

Tradisi Besar, Tantangan Lebih Besar
Kita semua memahami bahwa Bugis Makassar memiliki sejarah panjang sebagai pelaut, perantau, dan saudagar. Filosofi resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata bukan sekadar ungkapan, tetapi telah terbukti menjadi motor penggerak mobilitas ekonomi lintas generasi.

Nilai siri’ na pacce, sipakatau, dan sipakainge membentuk karakter saudagar yang tidak hanya tangguh, tetapi juga beretika dan menjunjung tinggi kepercayaan.

Namun, di tengah perubahan zaman, tradisi saja tidak cukup. Dunia usaha hari ini menuntut kolaborasi, skala, dan kecepatan adaptasi. Tanpa itu, jejaring besar bisa menjadi sekadar potensi yang tidak terkelola.

Gagasan Harus Menjadi Tindakan
Di sinilah pesan Andi Amran Sulaiman menjadi sangat relevan: “Gagasan tanpa tindakan adalah nol.”

Kalimat ini sederhana, tetapi tajam. Ia menampar kesadaran kita bahwa ide, diskusi, bahkan pertemuan yang berulang akan kehilangan makna jika tidak berujung pada tindakan nyata.

PSBM selama ini telah menghasilkan banyak gagasan. Tetapi ke depan, ukuran keberhasilan tidak lagi pada seberapa banyak ide yang lahir, melainkan seberapa banyak yang diwujudkan.

Saudagar dan Tanggung Jawab Ekonomi
Sebagaimana diingatkan oleh Jusuf Kalla:
“Saudagar itu bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi. Semakin banyak saudagar yang tumbuh, semakin kuat ekonomi masyarakat.”

Pernyataan ini menempatkan saudagar bukan sekadar pelaku bisnis, tetapi aktor pembangunan ekonomi. Artinya, keberhasilan saudagar tidak hanya diukur dari laba pribadi, tetapi dari dampaknya terhadap masyarakat.

Hal ini sejalan dengan pandangan Aksa Mahmud: “Kekuatan saudagar Bugis Makassar ada pada jejaring dan keberanian mengambil risiko. Jika itu dikelola bersama, maka peluang yang besar bisa kita wujudkan.”

Pertanyaannya kemudian: apakah jejaring itu sudah benar-benar dikelola bersama, atau masih berjalan sendiri-sendiri?

Dari Pertemuan ke Persatuan
Inilah saatnya melakukan redefinisi. PSBM tidak cukup dimaknai sebagai Pertemuan Saudagar Bugis Makassar. Ia harus ditingkatkan menjadi Persatuan Saudagar Bugis Makassar.

Mengapa “persatuan”? Pertemuan hanya menghadirkan kebersamaan sesaat, sementara persatuan menciptakan arah, sistem, dan gerakan jangka panjang.
Sebagai sebuah persatuan, PSBM seharusnya mampu:

Mempererat silaturahmi sekaligus membangun kerja sama nyata, sehingga lahir usaha bersama yang berdampak pada kesejahteraan anggota; Mendorong regenerasi saudagar, dengan membina generasi muda melalui pelatihan, mentoring, dan pendampingan;
Mewujudkan kolaborasi bisnis yang saling menguntungkan, sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat nasional dan global;
Membangun reputasi saudagar Bugis Makassar sebagai pelaku ekonomi yang profesional, tangguh, dan berintegritas.
Tanpa empat hal ini, PSBM berisiko menjadi rutinitas tahunan tanpa akselerasi makna.

Momentum untuk Bergerak Bersama
Tagline “Saudagar Tangguh, Ekonomi Bangkit” hanya akan menjadi slogan jika tidak diikuti dengan langkah konkret. Ketangguhan tidak lahir dari retorika, tetapi dari keberanian mengambil keputusan, membangun kolaborasi, dan mengeksekusi peluang.
Nilai luhur “mali siparappe, rebba sipatokkong” mengajarkan bahwa dalam setiap tantangan, kita harus saling menguatkan. Dalam konteks ekonomi, itu berarti: tidak berjalan sendiri, tetapi tumbuh bersama.

PSBM XXVI adalah momentum penting. Momentum untuk mengubah arah. Momentum untuk membuktikan bahwa saudagar Bugis Makassar bukan hanya kuat dalam tradisi, tetapi juga relevan dalam masa depan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa kali kita berkumpul, tetapi apa yang kita hasilkan dari kebersamaan itu.

Dan sekali lagi, pengingat itu tetap relevan:
Gagasan tanpa tindakan adalah nol.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here