Catatan Alif we Onggang
Lebih tiga dekade lalu, seorang anak muda yang wara-wiri dengan selendang di pundak terlihat sibuk mengurusi keluarganya menjelang sebuah pernikahan di Tajuncu, Soppeng. Ia mencariku, sementara saya sama sekali belum mengenalnya.
Dengan tatapan dalam, sambil menggenggam tangan saya, ia memperkenalkan diri, “Aprial.”
Di depannya, saya agak introvert selagi mengamati penampilannya. Dalam kesan saya, ia pasti seorang seniman andalan di kampung ini. Apalagi hampir seantero Tajuncu mengenal sosoknya. Agaknya ia adalah seorang yang multitalenta dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Tak tinggal diam, ia buru-buru mengambil kamera video, sebuah benda yang saya yakin saat itu belum lama dikenalnya. Ia memotret sana sini dan selanjutnya mendekor beberapa titik interior, dan hasilnya lumayan artistik. Seolah semua ingin disentuhnya. Rasa ingin tahunya besar, dan ia selalu ingin terlibat dalam lini apa saja.
Selang beberapa waktu, saya kembali melihatnya di Jakarta, kota yang memberinya ruang bebas, dan memang membutuhkan orang dengan mobilitas tinggi seperti dirinya.
Dia kemudian bergabung di Sekretariat KKSS di Jalan Cimalaya, Jakarta Pusat, pada akhir 1980-an.
Kepala Sekretariat saat itu, Fiam Mustamin yang masih tergolong kerabatnya mengajaknya membantu kegiatan di KKSS. Saat itu paguyuban ini dipimpin oleh Beddu Amang.
Sebagai warga baru, Aprial mendapat tugas mengantar surat ke para pengurus hingga membantu berbagai urusan eksternal. Barulah pada masa kepemimpinan A. Rivai setelah sekitar 15 tahun berkiprah, ia mulai dilibatkan sebagai pengurus. Namun aktif sejak periode Beddu Amang hingga kini.
Kala itu KKSS memiliki majalah PINISI. Saya berperan sebagai jurnalis, sementara Aprial menjadi fotografer. Ia belajar secara otodidak, learning by doing—dengan modal keberanian dan jaringan sosial yang kuat. Saya heran, dari mana anak ini belajar memotret. Kelebihannya karena ia nekat, bahkan sering tanpa terlalu memikirkan risiko. Ia tipikal belajar apa saja, main teater, menari. Terakhir ia beberapa kali dan ujuk-ujuk hendak jadi penulis, padahal saya tahu betul itu hasil dari AI.
Dari PINISI, perlahan ia membangun jaringan yang luas. Sejumlah tokoh yang kami jadikan narasumber kemudian juga menjadi bagian pengurus KKSS, di antaranya HM Daul, ayah dari Adhyaksa Dault (Menteri Pemuda dan Olahraga)—serta Jumeri, yang kala itu menjabat sebagai direktur utama sebuah bank BUMN.
Tak heran jika kemudian ia juga dipercaya menjadi fotografer di majalah Tajuk milik Andi Sose. Salah satu jurnalisnya adalah Fadli Zon, kini Menteri Kebudayaan. Dari sini, jejaringnya makin berkembang dan meluas lintas kalangan.
Kami berdua kerap berdampingan, lebih dari sekamar kos, se pembaringan dalam suka dan duka. Dalam berbagai kepanitiaan KKSS, kami acap dilibatkan sejak masa Beddu Amang, M. Taha, Hasanuddin Massaile, A. Rivai, Sattar Taba, Muhlis Patahna, hingga kini di era Andi Amran Sulaiman dalam bentang waktu 30 tahun lebih. Ia salah seorang legenda KKSS.
Kami berdua yang tersisa dan masih bersitahan lantaran tak pernah punya pretensi, alih-alih menawarkan diri menjadi pengurus. Sama saja, jadi atau tidak jadi pengurus. Yang penting kebersamaan, ikut kegiatan, menikmati silaturahim. Sepantaran kami, Ahmad Tahir Ratu, Surya Dharma, sudah lebih dulu berpulang.
Memang, banyak pengurus KKSS datang dan pergi. Tidak sedikit yang kemudian menghilang, mungkin karena ekspektasi dan kepentingan yang tak tercapai sehingga mereka kehilangan harapan.
Namun Aprial berbeda. Ia seorang yang tulus, nothing to lose. Kami sering bercakap bahwa ber-KKSS itu tak lebih dari menjalin silaturahmi, berkenalan dengan banyak orang, makan bersama, dan ketawa ketiwi. Jika diberi jabatan itu amanah dan bonus.
Lebih dari itu, Aprial adalah seorang penghibur. Ia komunikator yang piawai, mampu menjembatani pihak-pihak yang berselisih. Sedikit provokatif, dalam arti positif. Ia peduli, penuh empatik, dan meminjam istilah Gen Z — gercep (gerak cepat).
Istimewanya, ia menjadi penghubung dalam banyak urusan: hajatan, orang sakit, kematian, pekerjaan, bahkan urusan rumit dengan aparat. Ia seperti motto Pegadaian: menyelesaikan masalah tanpa masalah. Apa pun ingin ia tangani sehingga sering lupa bahwa energinya terbatas.
Ia juga menjalin relasi dengan kalangan perfilman, sempat terlibat sebagai kru unit di beberapa film layar lebar, hingga akhirnya menjadi pemeran pembantu dalam film Solata (2025).
Aprial adalah contoh bagaimana membangun karier dari bawah hingga dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Kerukunan Keluarga Besar Soppeng. Di BPP KKSS, ia mulai menjadi pengurus setelah diuji lebih satu dekade. Kini ia di posisi Wakil Ketua Departemen Administrasi dan Keanggotaan BPP KKSS
sekaligus Staff Media Informasi Kesekretariatan BPP KKSS.
Seolah tak mengenal lelah, ia terus bergerak dengan mobilitas tinggi, meski tubuhnya mulai digerogoti berbagai penyakit. Ia kerap mengingatkan saya untuk menjaga kesehatan, karena tahu saya adalah penyintas jantung. Bukan hanya kepada saya, ia juga sering mengingatkan sahabat-sahabatnya agar tidak meninggalkan ibadah dan terus memperbanyak amal.
Tak jarang kami berbincang tentang tentang banyak hal, bahkan tentang kematian.
“Lif, kira-kira siapa yang lebih dulu meninggal. Saya atau kau?” tanyanya suatu kali.
Saya spontan menjawab, “Kamu dulu, supaya ada yang menuliskan obituarimu.”
“Hehe…” Ia tertawa, sambil sesekali berbicara dalam bahasa Makassar patah-patah, meski kami sebenarnya sekampung.
“Yang meninggal itu urusan yang hidup. Bukankah maut datang tanpa mengetuk pintu dan pamit tanpa permisi,” kataku sekenanya.
Begitulah dalam kepanitiaan PSBM 2026, Aprial mulai tampak kelelahan. Ia sempat menelepon, mengatakan sedang berada di Semarang, sebelum kemudian terbang ke Makassar. Di puncak acara, ia mengeluh tak enak badan dan seorang kawan menemaninya ke klinik.
Dalam sarapan di hotel Claro, kami selalu semeja, dan seperti biasa ia selalu melempar candaan hingga akhirnya Allah menjemputnya pada Selasa larut malam, 1 April pas ulang tahunnya yang ke 61.
Pagi ini jenazahnya diberangkatkan ke Jakarta dan rencana dimakamkan di
di Pondok Kelapa, Jakarta. Jenazah akan disemayamkan di rumah duka, Perumahan Woodhill Residence Blok E-26, Jalan Sirojul Munir, Jatiluhur, Jatiasih Kota Bekasi.
Kelak kita semua akan menjumpai Aprial Hasfa di surga-Nya Allah.













